Puisi dan Kehidupan yang Tak Pernah Usai


Puisi bukan sekadar rangkaian kata yang tersusun menjadi bait. Ia adalah ruang perenungan, tempat manusia menumpahkan luka, cinta, kegelisahan, hingga doa. Tulisan ini membahas bagaimana puisi hadir dalam kehidupan manusia sebagai sahabat batin, media ekspresi, sekaligus jalan untuk memahami makna hidup yang lebih dalam.

Oleh: Hasmidi, S.Pd., Gr
(Pendidik Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Bluto)

Siapa yang tidak kenal puisi? Salah satu genre sastra ini memang sangat melekat dengan kehidupan manusia. Seakan puisi tidak akan bisa dihapuskan dari kehidupan dunia sehingga kemunculannya juga banyak melahirkan sastrawan-sastrawan ternama seperti Taufiq Ismail, Jamal D. Rahman, Ismail Marzuki, D. Zawawi Imron, Sutardji Calzoum Bachri, W. S. Rendra, Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan masih banyak lagi nama-nama sastrawan yang bergelut dalam dunia puisi.

Begitu juga para pemula. Tidak sedikit orang yang menulis dan melahirkan sebuah puisi, baik mereka yang mulai memahami dunia puisi maupun orang yang sama sekali tidak mengenalnya. Dalam hal ini, banyak ditemukan terutama di dunia pesantren. Seakan puisi bisa hadir sebagai obat mujarab bagi siapa saja yang dapat menyembuhkan rasa sakit yang diderita penulisnya. Atau dapat pula dikatakan bahwa puisi hadir sebagai sosok fiktif yang mampu menjadi pendengar setia dari rasa sakit itu sendiri.

Segala rasa yang dimiliki seseorang, kemudian ditumpahkan dalam bentuk baris-baris menjadi bait puisi, merupakan penyatuan rasa itu sendiri dengan dunia yang mengelilinginya. Lain halnya dengan suasana senang, kegembiraan, serta suasana hati yang tenteram. Semua itu adalah bentuk perwujudan dari penyatuan diri dengan lingkungan yang tidak disandingkan dengan rasa sakit, luka, kecewa, kematian, dan sebagainya. Sehingga kemudian hal tersebut berimbas pada keberadaan puisi.

Puisi seolah-olah menjadi pribadi yang cukup konsisten untuk menemani serta menerima kesakitan ataupun kesenangan seseorang yang mengharapkannya. Dapat dikatakan bahwa puisi hadir dengan membawa berbagai talenta yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Hal itu dapat dilihat dari beragam tema yang diusung oleh puisi itu sendiri, mulai dari tema kemanusiaan, percintaan, perselingkuhan, kematian, agama, pendidikan, luka, kekecewaan, pengorbanan, dan masih banyak lagi ragam tema lainnya.

Lagi-lagi, hal tersebut menyodorkan keberadaan tema puisi yang tidak akan menyimpang dari nuansa pikiran dan perasaan orang yang menciptakannya. Sehingga puisi diharapkan mampu menyuarakan, atau dalam kata lain mengatakan, isi hati, pikiran, dan perasaan seseorang pada saat itu.

Hal semacam ini membuat puisi sepertinya tidak pernah kering dari rasa memiliki terhadap penciptanya. Ia selalu basah dan haus untuk berada di tangan penyairnya. Setelah itu, puisi tidak pernah berharap apakah ia diterima atau tidak oleh pembacanya. Puisi seolah telah bangga ketika ia lahir dari tangan seorang penyair. Ia juga tidak melihat siapa yang telah melahirkannya dan bagaimana ia berada di tengah-tengah masyarakat pembaca.

Penyatuan dalam penciptaan sebuah puisi juga dapat diakibatkan dari hasil perenungan yang dilakukan oleh penciptanya. Kemudian, dari hasil perenungan tersebut, penyair—katakan saja sebagai pengarang puisi—menyulap penggalan-penggalan yang dimilikinya menjadi sebuah karya sastra berupa puisi.

Perenungan inilah yang kemudian sering kali belum dimiliki oleh penyair pemula, sebab hal tersebut nantinya akan membawa hasil karangannya mampu memberikan banyak macam makna serta amanat yang ditimbulkannya. Memang ada kaitannya bahwa puisi dapat lahir tanpa terlebih dahulu melakukan perenungan dan penyatuan dengan alam sekitar. Namun sejatinya, puisi yang ditimbulkan dari kemurnian hati akan lebih mudah menggugah hati serta perasaan pembacanya.

Kaitannya dengan tema dalam sebuah puisi, Amir Hamzah dalam puisinya mengusung tema ketuhanan, seperti yang berjudul Doa dan Padamu Jua. Sementara Chairil Anwar mengusung tema perjuangan melalui puisi Antara Kerawang dan Bekasi, serta tema ketuhanan dalam puisinya yang juga berjudul Doa.

Taufiq Ismail melakukan kritik sosial melalui karya puisinya yang berjudul Malu Aku Jadi Orang Indonesia. Sedangkan W. S. Rendra menyuarakan cinta dan kasih melalui bait-bait puisinya yang cukup dikenal, seperti Pamflet Cinta, Nota Bene: Aku Kangen, Aku Tulis Pamflet Ini, Kutulis Surat Ini, dan Mazmur Mawar.

Deretan puisi-puisi di atas merupakan contoh kecil—bahkan sangat kecil—dari ribuan atau mungkin milyaran puisi yang dapat dijumpai ataupun tidak.

Selain puisi yang ditulis dalam antologi, puisi juga dapat ditemui di beberapa media massa, majalah, buletin, mading, dan sebagainya. Seiring dengan kemajuan ilmu, informasi, dan teknologi, puisi juga hadir di tengah kehidupan era globalisasi tersebut.

Sering dijumpai, misalnya di media sosial seperti Facebook dan Twitter, orang menggunakan media sosial sebagai sarana menyalurkan kemampuannya atau bahkan sebagai pelarian dari luka dan kecewa, dari tawa dan bahagia yang dirasakannya dalam bentuk puisi. Sehingga tidak sedikit kelompok-kelompok yang mewadahi dunia tulis-menulis puisi banyak bermunculan. Begitupun dengan gambaran tema yang diusungnya, juga sangat beragam.

Nah, dari sini, lalu puisi akan lari ke mana? Menuju rumah yang mana sebagai tempat tinggalnya? Beberapa pertanyaan mengenai puisi dan ke mana ia akan pergi setelah ditulis, belum juga dapat memberikan jawaban yang pas.

Selain puisi tersebut dibacakan, dilombakan, dan diolah kembali menjadi lagu misalnya, arah selanjutnya tidak diketahui akan menuju ke mana. Padahal, jika dilihat dari beberapa tema yang membangun puisi tersebut, seharusnya ia tidak berhenti pada tulisan saja dan hanya dikumpulkan menjadi satu buku antologi puisi semata.

Kalau dilihat dari pengarangnya, tidak mungkin seseorang yang telah mengarang dan menuliskan kata-kata dalam bentuk bait puisi kemudian tidak menginginkan perubahan dari amanat yang ingin disampaikannya. Karena puisi hadir untuk menyuarakan isi hati sang pengarang.

Misalnya pada beberapa contoh puisi di atas, semuanya mempunyai amanat yang harus direnungkan dan bahkan dapat pula diamalkan.

Sutardji Calzoum Bachri yang dikenal sebagai pembawa perubahan dalam dunia puisi, juga dikenal dengan puisi mbeling, tidak lagi berkutat dengan rima, irama, sajak, dan sebagainya. Ia sendiri, dalam puisi-puisinya, menginginkan adanya tindak lanjut dari sekadar mengoleksi dan membacanya saja.

Seperti puisi Luka yang hanya berisi dua kata, yaitu “ha ha”. Hal tersebut tidak mungkin hanya sekadar tulisan belaka, namun lebih jauh lagi, Sutardji menginginkan perenungan akan makna yang ditimbulkan dari sekadar kata “ha ha” tersebut.

Bertolak dari puisi Taufiq Ismail yang berjudul Dengan Puisi, Aku, tampak sebuah keinginan atau cita-cita yang kemudian dituangkan dalam bentuk bait puisi. Ia sebenarnya tidak hanya mengungkap kata-kata indah yang bermuara pada estetika semata melalui rima, irama, bunyi, dan pencitraannya. Namun lebih dari itu, ia tidak hanya sekadar mengungkapkan perasaannya belaka.

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya

Dapat dikatakan bahwa puisi bukan sekadar permainan imajinasi yang tertulis menjadi bait, namun lebih jauh lagi, puisi merupakan kumpulan makna yang terjalin dari imajinasi dengan beberapa kata.

Hal serupa mengenai unsur puisi dapat ditemukan dalam buku Menanam Benih Kata karya Ari Pahala Hutabarat. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa puisi mengandung lima unsur, yaitu:

  1. Tema, yakni titik perangkat yang menjadi rumusan masalah atau objek yang menjadi acuan penyair saat menulis puisi.
  2. Subject matter, atau pokok pikiran tertentu yang secara khusus mengandung pesan yang ingin diungkapkan penyair.
  3. Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap masalah yang diangkatnya.
  4. Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya, apakah menggurui, mengajak, menyindir, mesra, ironik, dan sebagainya.
  5. Tujuan atau amanat, biasanya berupa kandungan puisi yang sesuai dengan pandangan hidup penyair secara filosofis maupun religius.

Dari semakin banyaknya puisi-puisi yang dapat diciptakan seorang pengarang atau penyair, sering kali puisi hanya dipahami sebagai tempat menuangkan kata-kata saja. Padahal, jika dilihat lebih dalam lagi, puisi adalah pencerahan batin dan jiwa manusia.

Kekompleksan makna yang ada dalam puisi itulah yang kemudian harus lebih dipahami dan diamalkan untuk menuju kehidupan yang lebih berarti. Tidak hanya sekadar hidup yang diawali pagi dengan membuka mata saat bangun tidur, kemudian menghilangkan penat dengan tidur kembali sambil menutup mata, dan begitu seterusnya.

Hal semacam itu adalah kemurnian hidup yang tanpa warna. Jika puisi hanya dianggap sebagai rentetan kata, maka dapat dikatakan puisi itu mati. Puisi adalah kata yang tidak bermakna, sekumpulan kata yang tidak bernilai kehidupan.

Jika puisi semacam itu, maka dapat dikatakan puisi tidak ubahnya seperti uban yang mengotori kepala.

Tulisan terkait

Utama 5994303591609783181

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


Contoh Gambar Contoh Gambar Contoh Gambar Contoh Gambar Contoh Gambar

Jadwal Sholat

item