Tor-Catoran: Warisan Kebersamaan yang Kian Memudar
Tulisan ini mengangkat kembali tradisi luhur masyarakat Madura, yaitu tor-catoran—kebiasaan ngobrol santai yang menjadi ruang silaturahmi, penguat persaudaraan, dan tempat tumbuhnya nilai-nilai sosial. Penulis memaparkan makna mendalam di balik kebiasaan sederhana ini, bagaimana tradisi itu perlahan tergerus kemajuan teknologi, serta ajakan untuk menghidupkannya kembali demi menjaga keharmonisan dan kemanusiaan di tengah kehidupan modern.Oleh: Tika Suhartatik
(Pegiat Rumah Literasi Sumenep dan Dosen Universitas PGRI Sumenep)
Di tengah derasnya arus teknologi dan kesibukan hidup modern, ada satu kebiasaan sederhana masyarakat Madura yang perlahan mulai memudar dan pelan-pelan menghilang dari kehidupan sehari-hari, yakni: tor-catoran. Tradisi ngobrol santai bersama keluarga, tetangga, atau kerabat dekat ini dulu menjadi denyut hangat kehidupan kampung. Kebiasaan ini menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Madura. Tidak ada agenda resmi, tidak ada meja mewah, tidak pula percakapan yang dibuat-buat.
Cukup duduk di teras rumah, di langgar kecil selepas salat Isya, di gardu kecil kampung, atau di bawah pohon sambil menikmati seruput kopi dan udara malam. Lalu obrolan mengalir begitu saja—tentang keluarga, sawah, hasil panen, pekerjaan, anak-anak, hingga kabar tetangga sekitar atau sekadar cerita ringan yang mengundang gelak tawa bersama. Namun, justru dari kesederhanaan itulah lahir kehangatan dan kedekatan antarwarga.
Tor-catoran bukan sekadar kegiatan berbicara, melainkan ruang silaturahmi yang memperkuat rasa persaudaraan dan kepedulian sosial dalam kehidupan masyarakat Madura. Tor-catoran adalah ruang batin tempat masyarakat Madura saling menjaga rasa memiliki. Dari obrolan sederhana itulah lahir kepedulian sosial, keakraban, dan solidaritas antarsesama. Orang yang sedang kesulitan hidup bisa terbantu karena cerita yang tersampaikan saat berkumpul. Anak muda belajar sopan santun dari cara orang tua berbicara. Perselisihan kecil pun sering kali selesai hanya lewat duduk bersama dan bercakap santai.
Dulu, masyarakat merasa dekat satu sama lain karena sering bertemu dan saling mendengar cerita kehidupan masing-masing. Ketika ada tetangga mengalami kesulitan, warga cepat mengetahui dan membantu. Ketika ada persoalan kecil di lingkungan, penyelesaiannya pun sering lahir dari percakapan santai saat tor-catoran. Budaya ini menciptakan masyarakat yang hangat, rukun, dan penuh rasa kebersamaan.
Selepas salat Isya, suara percakapan warga terdengar dari berbagai sudut kampung. Ada tawa kecil, candaan ringan, bahkan diskusi panjang tentang kehidupan. Anak-anak bermain di sekitar orang tua yang sedang berbincang. Kehangatan itu menghadirkan rasa damai yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Kampung terasa hidup karena manusia benar-benar hadir untuk manusia lainnya.
Sayangnya, kebiasaan ini mulai ditinggalkan oleh generasi sekarang. Kita memang masih sering berkumpul, tetapi kebersamaan itu terasa kosong. Suasana damai itu perlahan menghilang. Kita memang masih berkumpul, tetapi hati dan perhatian tidak lagi berada di tempat yang sama. Dalam satu ruangan, masing-masing sibuk menunduk menatap layar telepon genggam.
Percakapan menjadi singkat, hambar, bahkan kadang hanya formalitas. Kebersamaan yang dulu penuh makna kini terasa sepi meski ramai. Tidak sedikit keluarga yang makan bersama tanpa percakapan, duduk bersama tanpa benar-benar saling mendengarkan, anak-anak yang lebih akrab dengan media sosial daripada tetangganya sendiri, bahkan teman duduk yang lebih sibuk menggulir layar daripada saling bertukar cerita.
Jika keadaan ini terus dibiarkan, maka yang hilang bukan hanya sebuah tradisi, tetapi juga nilai-nilai kehidupan yang selama ini menjaga keharmonisan masyarakat. Padahal tor-catoran memiliki peran besar sebagai cermin pendidikan sosial bagi anak-anak. Anak belajar kerukunan dari cara orang tua berbincang dengan tetangga.
Anak belajar menghargai orang lain dari kebiasaan mendengar dan tidak memotong pembicaraan. Anak juga belajar tentang empati, kepedulian, dan kedekatan emosional dari suasana hangat ketika keluarga dan masyarakat berkumpul bersama.
Teknologi tentu bukan musuh. Telepon genggam memudahkan banyak hal dalam kehidupan. Akan tetapi, ketika teknologi mengambil seluruh ruang interaksi manusia, maka hubungan sosial menjadi rapuh. Kita mulai kehilangan kemampuan mendengar dengan tulus, memahami perasaan orang lain, dan merasakan hangatnya kehadiran sesama. Padahal manusia tidak hanya membutuhkan koneksi internet, tetapi juga koneksi hati.
Anak-anak sejatinya tidak hanya membutuhkan pendidikan di sekolah, tetapi juga teladan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Ketika mereka tumbuh di lingkungan yang penuh percakapan hangat dan hubungan sosial yang baik, maka mereka akan belajar menjadi pribadi yang terbuka, ramah, dan menghargai sesama. Sebaliknya, jika sejak kecil mereka lebih banyak melihat orang dewasa sibuk dengan gawainya masing-masing, maka perlahan mereka akan tumbuh menjadi generasi yang dekat secara teknologi, tetapi jauh secara emosional.
Oleh karena itu, generasi sekarang perlu mulai menyadari bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan nilai kemanusiaan. Telepon genggam memang memudahkan komunikasi, tetapi tidak mampu menggantikan hangatnya tatap muka dan percakapan langsung. Tidak semua kebahagiaan ditemukan di media sosial. Kadang kebahagiaan justru lahir dari duduk sederhana bersama keluarga, mendengar cerita orang tua, bercanda dengan tetangga, atau berbincang santai penuh tawa.
Budaya tor-catoran sebenarnya menyimpan nilai besar yang relevan hingga hari ini. Tradisi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari hal mewah, melainkan dari waktu sederhana yang dihabiskan bersama orang-orang terdekat. Dalam tor-catoran, ada nilai silaturahmi, penghormatan, empati, gotong royong, dan kebersamaan yang menjadi kekuatan masyarakat Madura sejak dahulu.
Sudah saatnya kebiasaan ini dihidupkan kembali, terutama di tengah generasi muda. Sesekali, simpanlah telepon genggam ketika berkumpul bersama keluarga atau tetangga. Duduklah, berceritalah, dengarkan orang lain dengan sungguh-sungguh. Sebab boleh jadi, kehangatan yang selama ini kita cari sebenarnya pernah hidup dalam tradisi sederhana bernama tor-catoran ini.
Ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk menghidupkan kembali budaya tor-catoran. Pertama, biasakan menyediakan waktu tanpa gawai saat berkumpul bersama keluarga. Kedua, mulai kembali membangun kebiasaan duduk bersama tetangga atau saudara meskipun hanya sebentar. Ketiga, ajarkan anak-anak untuk aktif berinteraksi secara langsung, bukan hanya melalui dunia digital. Dan yang paling penting, orang tua harus menjadi teladan dalam membangun komunikasi yang hangat di rumah maupun di lingkungan masyarakat.
Mungkin kita tidak bisa mengembalikan suasana kampung seperti dahulu sepenuhnya. Namun, setidaknya kita masih bisa menjaga ruh kebersamaan itu agar tidak hilang ditelan zaman. Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan kecanggihan teknologi, tetapi juga membutuhkan pelukan sosial, perhatian, dan percakapan yang tulus.
Budaya tor-catoran mengajarkan kita bahwa kebersamaan bukan tentang seberapa lama kita berkumpul, melainkan seberapa dalam kita saling hadir dan mendengarkan. Dan boleh jadi, di tengah dunia yang semakin sibuk dan individualistis ini, tradisi sederhana itulah yang justru paling dirindukan oleh hati manusia.
Madura tidak hanya kaya dengan budaya besar dan tradisi megah, tetapi juga kaya dengan kebiasaan kecil yang membuat manusia tetap menjadi manusia. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk dan individualistis ini, kita tidak membutuhkan lebih banyak teknologi—kita hanya perlu kembali belajar bercakap dari hati ke hati.
Sumenep, 24 Mei 2026


