Puisi-Puisi M.Ar Saputra
M.Ardiansyah Saputra penulis asal Bragung, kini sedag duduk di bangku kls 2 MA Tahfidh Annuqayah, juga aktif di komunitas laskar pena PPA. Lubtara. Dan karya berbagai puisinya telah nangkring di media cetak.
Senja di Desaku
:sawah baru
Dengan secangkir kopi berpoles kapal api pada rebahan lincak
Kunyalakan percik api pada ujung rokok
Lalu kuhembuskan angan bersama perginya angin
Disaat janur kuning pada atas kepalaku
Menari tanpa tembang sajakku
Dan kutatap temaram senja di ufuk barat itu
Menyiratkan sejuta kenang di masa kanak
Yang rasanya aku tidak mau pulang
Sebelum lantunan adzan itu berkumandang,
Dan dari sendu mulut ibu
Berteriak menyuruhku pulang.
Dulu, di desa itu aku dilahirkan
Mengejar segala harapan dan impian
Seperti tatkala mengejar benang layangan putus dari tangan
Berlomba-lomba mengimpikan sebuah kemenangan
Dan di desa itu
Aku belajar tabah menunggu harapan
Seperti tatkala aku menunggu joran pancing meggeliat panjang
Menjanjikan sebuah kebahagiaan,
Dan kini senja mulai padam
Tidak kusadari
Terlalu lama aku menyelami lautan kenangan
Setetes air mataku telah menjadi genangan kerinduan
Sumenep,19/04/26
Di Dunia Petani
Angin berlalu lalang di halamanku
Hujan pun turun menyamai detak jantung.
Para petani menanam pilu
Perihal padi yang mereka tanam tak lagi gersang
Ayahku bilang
“tenang saja nak, kita pasti makan enak
dari padi yang kita tanam”
Setiap malam, aku hanya bisa melayanagkan doa.
Karna, apa-apa yang terjadi hanyalah kehendak yang maha kuasa.
Namun, doa yang ku tanamkan
Lagi-lagi tak menghasilkan ingin, melainkan angan.
Malam berganti pagi
Lagi-lagi kudengar tangis petani
Perihal tikus mengambil alih ladangnya
Setiap panen di ujung mata
Mereka datang menjemput gajinya
Merampas hasil nyeri
Tanpa merasakan sakitnya, korban di korupsi.
Dialah tikus-tikus berdasi
Yang bersembunyi di lubang sepi
Bergerak tak berturan
Memikul karung hasil pangan.
Tanah Utara.25
Di Negri Ini
Di negri ini
Kami berpuasa akan nafsu juga birahi
Menahan hasrat
Pada yang tersirat di lubuk hati
Kami mengabdi pada sang kiyai
Mengubur angan pada lembaran kitab kuningnya
Berteduh disetiap alunan doa nya
Berharap lentera datang pada malamku
Dengan pancaran sinar harapan baru.
Di negri ini
Kami seakan bayi yang baru lahir
Mengenal,
Berbicara kepada tuhan,
Melangkah menuju tuhan,
Juga mengaji kehidupan di tengah kehampaan.
Kami menanam benih harapan
Sesekali menyiramnya dengan pupuk doa
Juga berusaha dengan tabah
Dan kembali pasrah
Reguler.26
Pelabuhan Kecil
:PPA.Lubtara
Diruangmu aku berteduh
Meringkuk dibawah payungan berkah
Sebagai tanda resah
Lewat tamaram cahaya rembulan
Dibawah kepingan genting gubuk yang nyeri
Kualunkan kidung firman tuhan
Yang menjadi nafas santri.
Diruangmu segala santri merintih kesakitan
Berkelahi menahan lelap, menahan lapar,
Menahan rindu untuk pulang
Dan segala yang menjadi tantangan
Lantaran menguji kenafsuan diri
Tuk memperoleh barokah sang kiyai
:kepada khalifah pelabuhan
Izinkanlah kami berkelana di laut barokahmu
Agar kita temukan arah kehidupan
Di masa yang akan datang menemuiku
Reguler,26
Rindu Untuk Pulang
Malam dan hati kini satu haluan
Tinta-tinta jelmaan air mata kerinduan
Menggoreskan lengkung keabadian
Di halaman ingatan
Perlahan kubelai debu di halaman buku itu
Sehingga melayarkan tontonan bisu
Senja, masih tersenyum sendu di sepintas ingantan kepala.
Ingin kuhaturkan rindu ini untuk pulang
Pada rajutan ranjang ilalang
Yang kita rangkit kenang
Semasih menjadi bocah petualang,
Perlahan awan menintikkan air mata
Selepas membuka lembaran kedua
Dimana di musim penghujan
Diriku hilang dibawa arus kerinduan
Dengan ini
Izinkanlah aku mengabadikanmu
Melalui sajak puisi
Berjudul rindu ini
Reguler,26
Rindu
Entah kemana anak yang dulu pulang selepas adzan di lantunkan
Tidak kudengar kidung kebahagiaan yang ia gemparkan selalu
Hanya sepi yang kupandangi
Di ladang ilalang bebuyutan.
Aku rindu untuk pulang
Untuk menari di tengah gerimisnya hujan
Untuk nyalakan api di atas tungku kesunyian
Juga untuk layangkan keperihan lewat benang layang-layang
Aku rindu pada ranjang ilalangku
Yang kurajut atas masa kecilku
Dengan peluh disekujur tubuh
Sebagai tempat berlabuh.
Waktu telah memakan sari-sari kehidupan
Hanya menyisakan serpih kisah air mata
Yang menggenang di ujung doa
Lantaran diri yang hilang, atas haluan impian.
Reguler,26



