Trunojoyo dan Luka Panjang Sejarah Kekuasaan Jawa

 

Pangeran Trunojoyo bukan sekadar tokoh pemberontak dalam catatan sejarah Mataram. Ia adalah simbol perlawanan rakyat Madura terhadap penindasan, pengkhianatan kekuasaan, dan campur tangan VOC Belanda. Namun hingga kini, perjuangannya masih terjebak dalam stigma sejarah yang diwariskan berabad-abad. Ketika Pemerintah Kabupaten Sampang dan Universitas Trunojoyo Madura kembali mengusulkan gelar Pahlawan Nasional, pertanyaan lama pun muncul kembali: mengapa Trunojoyo terus gagal mendapat pengakuan negara?

Nama Pangeran Trunojoyo selalu hidup dalam ingatan masyarakat Madura sebagai simbol keberanian, harga diri, dan perlawanan terhadap kekuasaan yang zalim. Ia bukan sekadar bangsawan Madura biasa, melainkan tokoh besar yang pernah mengguncang fondasi Kerajaan Mataram pada abad ke-17 dan hampir mengubah arah sejarah Nusantara.

Trunojoyo lahir di Arosbaya, Madura, sekitar tahun 1649. Ia merupakan keturunan bangsawan Madura dan masih memiliki garis hubungan dengan penguasa Madura Barat, Cakraningrat. Namun perjalanan hidupnya tidak pernah sekadar menjadi pewaris aristokrasi. Ia tumbuh di tengah situasi politik yang penuh gejolak ketika Kerajaan Mataram mulai kehilangan simpati rakyat akibat pemerintahan Amangkurat I yang represif.

Pada masa itu, Mataram berada dalam kondisi yang paradoks. Di satu sisi kerajaan masih menjadi simbol kekuasaan besar di Jawa, tetapi di sisi lain pemerintahan Amangkurat I dikenal kejam terhadap lawan politiknya sendiri. Banyak ulama, bangsawan, hingga rakyat kecil dihukum mati hanya karena dianggap berseberangan dengan kekuasaan.

Salah satu peristiwa paling berdarah adalah pembantaian ribuan ulama dan santri yang dicurigai mendukung kelompok oposisi. Kekuasaan Mataram berubah menjadi rezim ketakutan. Ironisnya, pada saat yang sama Amangkurat I justru menjalin hubungan erat dengan VOC Belanda demi mempertahankan takhtanya.

Bagi masyarakat Madura, kondisi ini dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap martabat bangsa. Madura bukan hanya dicaplok secara politik, tetapi juga diperas secara ekonomi melalui pajak dan kontrol kekuasaan Mataram. Rakyat hidup dalam tekanan, sementara kedaulatan kerajaan perlahan diserahkan kepada VOC.

Dari situ lahir perlawanan besar yang dipimpin Trunojoyo.

Ia berhasil menggalang kekuatan rakyat Madura, para bangsawan yang kecewa, hingga kelompok-kelompok anti-Mataram dari berbagai daerah. Perlawanan itu berkembang menjadi gerakan besar yang mengguncang Jawa. Pada tahun 1677, pasukan Trunojoyo berhasil merebut dan menghancurkan pusat Kerajaan Mataram di Plered.

Peristiwa ini menjadi salah satu momen paling dramatis dalam sejarah Nusantara. Sebab untuk pertama kalinya, kekuasaan besar Mataram runtuh oleh gerakan perlawanan dari daerah yang selama ini dianggap pinggiran.

Amangkurat I melarikan diri dan kemudian meninggal dalam pelarian. Sementara Mataram nyaris kehilangan kekuasaan sepenuhnya. Jika saat itu VOC tidak turun tangan membantu Mataram, bukan tidak mungkin sejarah Jawa akan berubah total.

Namun di titik inilah sejarah mulai ditulis oleh pemenang.

Aliansi Mataram dan VOC kemudian melakukan serangan balasan. Trunojoyo akhirnya tertangkap pada tahun 1679 dan dihukum mati atas perintah Amangkurat II. Sejak saat itu, berbagai babad Jawa yang berpusat pada istana Mataram mulai menempatkan Trunojoyo sebagai “pemberontak”, bukan pejuang.

Label itu bertahan ratusan tahun.

Padahal jika ditelusuri secara objektif, perlawanan Trunojoyo memiliki semangat anti-kolonial dan anti-penindasan yang kuat. Ia melawan kekuasaan yang bekerja sama dengan VOC Belanda. Ia membela rakyat Madura yang tertindas. Ia menolak kekuasaan absolut yang memeras daerah jajahan.

Dalam konteks modern, nilai-nilai itu justru sangat dekat dengan semangat perjuangan nasional.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sampang bersama Universitas Trunojoyo Madura kembali mengusulkan Pangeran Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional. Pemkab Sampang bahkan menyatakan dukungan penuh terhadap proses tersebut.

Namun sebenarnya perjuangan itu bukan hal baru.

Usulan Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional sudah muncul sejak 1967 melalui berbagai seminar, kajian akademik, dan pengajuan resmi. Tahun 2020 hingga 2025 kembali dilakukan berbagai upaya untuk memperjuangkan pengakuan negara terhadap tokoh besar Madura tersebut. Akan tetapi hasilnya tetap nihil.

Mengapa?

Banyak pengamat menilai persoalan utamanya terletak pada warisan narasi sejarah. Trunojoyo telanjur dicap sebagai pemberontak terhadap Mataram. Padahal dalam sejarah Indonesia, tidak sedikit tokoh yang dahulu dianggap memberontak oleh penguasa kolonial atau kerajaan, tetapi kemudian diakui sebagai pahlawan karena melawan ketidakadilan.

Persoalannya, stigma terhadap Trunojoyo diwariskan sangat panjang: dari Mataram, VOC, Hindia Belanda, hingga masuk ke dalam narasi resmi sejarah nasional. Akibatnya, sosok Trunojoyo lebih sering dipahami sebagai ancaman bagi kekuasaan Jawa daripada pejuang rakyat.

Di sinilah masyarakat Madura melihat adanya ketimpangan sejarah.

Selama berabad-abad, sejarah Nusantara memang banyak ditulis dari sudut pandang kekuasaan Jawa. Tokoh-tokoh daerah yang pernah berhadapan dengan pusat kekuasaan sering kali ditempatkan di posisi marjinal. Trunojoyo menjadi salah satu contohnya.

Padahal pengaruh perjuangannya sangat besar. Ia bukan tokoh lokal biasa. Ia pernah mengguncang pusat kekuasaan terbesar di Jawa dan memperlihatkan bahwa rakyat daerah mampu melawan hegemoni kerajaan yang bekerja sama dengan kolonial.

Karena itu, perjuangan memberi gelar Pahlawan Nasional kepada Trunojoyo sebenarnya bukan hanya soal penghormatan kepada satu tokoh. Ini juga menyangkut keberanian bangsa Indonesia membaca ulang sejarah secara lebih adil dan lebih objektif.

Sudah waktunya sejarah tidak lagi hanya ditulis dari sudut pandang istana dan pemenang kekuasaan. Sebab di balik cap “pemberontak”, sering kali tersembunyi kisah tentang keberanian melawan ketidakadilan.

Dan dalam sejarah panjang Nusantara, Pangeran Trunojoyo telah membuktikan dirinya sebagai salah satu simbol perlawanan terbesar itu.

(Rulis)



 

Tulisan terkait

Utama 3794073755708324025

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 

Jadwal Sholat

item