Dua Pilihan, Satu Restu

 


Cerpen: Zafira Fitria Al-Faizah HT

Tahun 2026 bergulir tanpa permisi. Bagi sebagian orang, angka dua puluh yang kini melekat pada usiaku adalah simbol kebebasan, puncak dari masa muda yang penuh warna.

Namun, bagiku, angka ini terasa seperti sebuah jam pasir yang berputar terlalu cepat. Di sela-sela kesibukan kuliah dan tumpukan tugas organisasi yang menguras energi, aku justru dihadapkan pada sebuah ujian hidup yang tidak pernah masuk dalam kurikulum semester mana pun.

Dua orang pria, dengan latar belakang dan cara pandang yang berbeda, datang mengetuk pintu hatiku secara bersamaan. Mereka tidak datang untuk sekadar mengajakku bertukar pesan singkat atau jalan-jalan di akhir pekan.

Keduanya datang membawa sebuah kata yang teramat berat untuk dipikul oleh pundak seorang gadis berusia dua puluh tahun: keseriusan.

Di meja sudut kafe yang temaram, aku menatap layar ponselku yang menyala bergantian.

Orang pertama menawarkan kemapanan dan kepastian yang mungkin akan membuat semua orang tua mengangguk setuju tanpa ragu. Ia terstruktur, rapi, dan memiliki masa depan yang sudah terpetakan dengan jelas.

Namun, setiap kali namanya muncul di layar, hatiku tetap datar. Tidak ada debaran, tidak ada rasa rindu yang menggebu.

Lalu, ada orang kedua. Dia yang datang dari seberang lautan, dari tanah Flores.

Setiap kali memikirkannya, ada kehangatan yang menjalar di dadaku. Pemuda Flores itu memiliki sepasang mata yang jenaka, namun menyimpan ketegasan yang luar biasa. Tutur katanya jujur, terkadang jenaka, namun selalu terselip ketulusan yang membuatku merasa sangat dihargai sebagai seorang perempuan.

Aku mencintainya.

Hatiku sudah memilihnya sejak lama, bahkan sebelum pria pertama datang membawa janji-janjinya. Aku ingin serius dengannya. Aku ingin melihat bagaimana masa depanku jika dihabiskan bersamanya.

Namun, cinta tidak pernah hidup di dalam ruang hampa. Di atasku, ada langit bernama restu orang tua yang saat ini sedang mendung keras.

***

Malam itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara rintik hujan di luar beradu dengan detak jarum jam di dinding ruang tamu. Aku duduk di sofa, memandangi Ibu yang sedang melipat pakaian dan Bapak yang sibuk dengan catatan-catatan kerjanya.

Setelah mengumpulkan keberanian yang tercecer selama berhari-hari, aku menarik napas dalam-dalam.

“Bu, Pak...” suaraku agak bergetar, memecah keheningan.

“Ada yang ingin aku tanyakan. Tapi... ini agak sensitif.”

Ibu menghentikan gerakan tangannya, menatapku dengan alis bertaut.

“Sensitif soal apa? Kuliahmu ada masalah? Atau uang semesteran kurang?”

“Bukan, Bu. Bukan soal kuliah,” aku menelan ludah, melirik Bapak yang kini juga mulai menurunkan kacamatanya dan menatapku. “Bagaimana kalau... ada seseorang yang ingin datang ke rumah? Pria yang berniat serius denganku.”

Suasana mendadak membeku. Bapak meletakkan penanya di atas meja dengan ketukan yang cukup keras, membuat jantungku mencelos.

“Serius bagaimana maksudmu?” tanya Bapak, suaranya berat dan penuh penekanan.

“Kamu itu baru dua puluh tahun. Kuliahmu saja belum selesai, tugas-tugasmu masih banyak. Mau serius ke mana?”

“Dia ingin berkomitmen, Pak. Ingin mengenal keluarga dulu agar hubungan kami punya arah yang jelas ke depan,” belaku dengan suara pelan, mencoba menahan debar di dada.

Ibu menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya.

“Nduk, Ibu dan Bapak melarang kamu untuk serius dalam percintaan sekarang bukan karena kami tidak sayang. Justru karena kami sayang. Umur dua puluh itu masanya kamu belajar, menata karier, mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Kalau kamu sudah terikat komitmen seserius itu, pikiranmu akan terbagi. Kamu tidak akan fokus.”

“Tapi, Bu, dia orangnya baik. Dia dari Flores, pekerja keras, dan dia sangat menghormatiku...”

“Flores?”

Bapak memotong, nadanya meninggi satu oktaf. “Jauh sekali. Sudah, tidak usah dibahas lagi. Keputusan Bapak sudah bulat: tidak ada kata ‘serius’ untuk urusan asmara sampai kamu lulus dan mandiri. Fokus dulu pada studimu. Jangan buat Ibu dan Bapak kecewa hanya karena menuruti ego masa mudamu.”

Kalimat Bapak malam itu telak memukul mundur seluruh argumen yang sudah kususun di kepala. Aku tertunduk, meremas ujung bajuku sendiri. Air mata yang mulai menggenang kupaksa untuk tidak jatuh di depan mereka.

***

Aku mengunci diri di kamar. Kegelapan ruangan seolah menjadi cermin dari isi kepalaku yang carut-marut. Di satu sisi, ada rasa bersalah yang besar kepada orang tuaku jika aku melanggar ucapan mereka. Di sisi lain, dadaku sesak membayangkan harus melepaskan pemuda Flores yang teramat kucintai itu.

Ponselku bergetar di atas kasur. Nama pemuda Flores itu tertera di layar. Aku mengusap mataku, mencoba menstabilkan suara sebelum menggeser tombol hijau.

“Halo,” bisikku serak.

“Halo. Kamu baru bangun tidur, ya? Suaramu berat sekali,” suara di seberang sana terdengar begitu ceria, khas dirinya yang selalu berusaha membawa energi positif.

“Tidak, aku tidak tidur. Hanya... sedang sedikit lelah,” jawabku, berusaha keras menahan isak tangis.

Dia terdiam beberapa detik di seberang sana. Kepekaannya selalu berhasil menangkap sinyal-sinyal kesedihanku, bahkan dari jarak ratusan kilometer.

“Ada apa? Kamu habis menangis? Cerita padaku, tolong.”

“Aku baru saja bicara dengan orang tuaku,” ujarku akhirnya menyerah. Air mataku luruh satu per satu.

“Mereka... mereka melarangku keras untuk serius dalam hubungan di usia ini. Bapak bilang aku harus fokus kuliah. Mereka tidak mau tahu tentang komitmen apa pun saat ini.”

Keheningan panjang merayap di antara sambungan telepon kami. Aku bisa mendengar helaan napasnya yang berat di seberang sana. Nada bicaranya berubah menjadi sangat lembut, penuh pengertian yang justru membuat hatiku makin teriris.

“Aku paham,” katanya pelan. “Aku sangat paham. Orang tuamu benar, kamu masih muda, perjalananmu masih panjang. Mereka hanya ingin melindungimu dari hal-hal yang belum saatnya kamu tanggung.”

“Tapi aku mencintaimu,” potongku, terisak. “Aku tidak mau kehilanganmu hanya karena aturan ini. Aku tidak peduli dengan orang pertama yang juga mendekatiku, aku hanya ingin bersamamu. Tapi bagaimana aku bisa berjalan tanpa restu mereka?”

“Dengar,” dia memotong dengan lembut namun tegas. “Cinta kita tidak akan berkurang hanya karena kita harus menunggu. Kalau memang jalannya harus melambat, aku akan melambat bersamamu.

Aku tidak akan memaksamu menentang orang tuamu. Aku akan tetap di sini, menjaga rasa ini, sampai pintu rumahmu terbuka untukku. Kamu fokuslah kuliah dulu, penuhi harapan mereka. Biar urusan meyakinkan mereka nanti menjadi tugasku saat waktunya sudah tepat.”

***

Setelah panggilan telepon itu berakhir, aku berjalan menuju jendela kamar, menatap langit malam tahun 2026 yang bersih tanpa awan.

Dua cinta datang mengetuk, namun esensinya bukan lagi tentang siapa yang harus kupilih. Hatiku sudah terkunci rapat pada satu nama dari timur Indonesia itu. Konflik sesungguhnya sekarang adalah antara ego mudaku yang ingin mempertahankan cinta melawan baktiku pada orang tua yang menuntut pembuktian masa depan.

Di usia dua puluh tahun ini, aku akhirnya mengerti. Cinta yang dewasa bukan tentang kedatangan yang terburu-buru, melainkan tentang kesiapan untuk bertahan di tengah badai larangan.

Aku akan menyimpan rasa ini dalam-dalam, menjadikannya bahan bakar untuk menyelesaikan studiku secepat mungkin.

Aku akan membuktikan kepada Ibu dan Bapak bahwa aku bisa bertanggung jawab atas hidupku sendiri, hingga tiba harinya nanti, aku bisa membawa pemuda Flores-ku ke hadapan mereka tanpa ada lagi kata larangan yang menghalangi (*)

***

Zafira Fitria Al-Faizah HT, lahir dan tumbuh dalam kehangatan budaya Melayu Palembang, ia selalu menjaga erat identitas dan kesantunan adat leluhurnya. Langkah hidup kini membawanya merantau jauh ke seberang pulau untuk menuntut ilmu dan menempa jiwa di Universitas Al-Amien Prenduan, Madura.

Di tengah tertibnya kehidupan pesantren, Faizah tumbuh sebagai sosok pembelajar yang gemar merenung dan mengamati dunia. Ia memadukan keanggunan budaya asal dengan kedalaman ilmu agama, dengan satu harapan besar: pulang membawa manfaat dan mengabdi tanpa pernah kehilangan jati diri.

Tulisan terkait

Utama 2215083508879814432

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Pilihan

Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item