Menanti dengan Sabar, Menyempurnakan Umrah
Catatan Perjalanan Safari Haji 2026
Perjalanan menuju Baitullah bukan sekadar perpindahan fisik dari satu negeri ke negeri lain. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, dan kepasrahan kepada kehendak Allah SWT. Tidak semua keinginan dapat segera diwujudkan. Ada kalanya seorang tamu Allah harus menunggu, mengikuti aturan, bahkan menerima keterbatasan diri dengan lapang dada.
Catatan sederhana ini merekam pengalaman kami menanti pelaksanaan umrah wajib setelah tiba di Makkah. Di balik penantian itu, Allah mengajarkan bahwa setiap detik yang dijalani dengan sabar juga bernilai ibadah. Sebab, perjalanan menuju-Nya bukan hanya diukur oleh langkah kaki, melainkan oleh ketulusan hati.
Oleh: Ahmad Rasyid el-Haromain
Hari-hari pertama di Tanah Suci mengajarkan satu pelajaran penting: tidak semua ibadah harus diselesaikan dengan tergesa-gesa. Ada saatnya berikhtiar, ada saatnya menunggu. Dan menunggu dengan penuh kesabaran ternyata juga merupakan bagian dari ibadah.
Setelah berniat umrah di miqat Yalamlam ketika pesawat melintasi kawasan tersebut, kami memasuki masa penantian. Seluruh jemaah Kloter 78 menunggu jadwal pelaksanaan tawaf, sa'i, dan tahallul sebagai rangkaian penyempurnaan umrah.
Hati tentu ingin segera berada di hadapan Ka'bah. Namun, demi kenyamanan, ketertiban, dan keselamatan bersama, seluruh rangkaian ibadah harus mengikuti pengaturan yang telah ditetapkan oleh petugas haji.
Melalui koordinasi antara petugas kloter dan KBIH Al-Munawwarah Sumenep, jemaah dibagi menjadi dua kelompok. Jemaah yang sehat diberangkatkan lebih dahulu pada malam Kamis, 14 Mei 2026. Adapun jemaah lanjut usia serta mereka yang tergolong berisiko tinggi karena kondisi kesehatan dijadwalkan pada giliran berikutnya.
Saya termasuk kelompok kedua. Kondisi kesehatan yang belum sepenuhnya pulih pascastroke ringan mengharuskan saya melaksanakan umrah dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh petugas khusus (gate assistant) dari Arab Saudi.
Pada awalnya muncul rasa kurang enak hati. Saya merasa menjadi beban bagi orang lain. Namun perlahan saya menyadari bahwa ibadah haji mengajarkan manusia untuk menerima dirinya apa adanya. Allah tidak menilai seberapa kuat langkah kaki kita, melainkan seberapa tulus hati kita memenuhi panggilan-Nya dan menerima segala ketetapan-Nya dengan ikhlas.
Ada pengalaman lain yang cukup berkesan. Dalam pelaksanaan umrah kali ini, saya dan istri harus menjalani ibadah pada waktu yang berbeda. Istri mengikuti rombongan pertama, sedangkan saya menyusul pada rombongan kedua.
Di situlah saya belajar bahwa kebersamaan tidak selalu berarti berjalan berdampingan. Terkadang cinta justru diuji melalui kerelaan untuk saling melepas demi kemudahan, keselamatan, dan kelancaran ibadah masing-masing.
Dengan bantuan para petugas, perjalanan menuju Masjidil Haram berlangsung lancar. Ketika pandangan pertama tertuju kepada Ka'bah, segala rasa lelah seolah sirna. Air mata nyaris mengalir tanpa dapat dibendung.
Selama bertahun-tahun kami hanya memandang Ka'bah melalui foto, layar televisi, dan media sosial. Kini Allah memperkenankan kami berdiri di hadapan Baitullah secara langsung. Sulit menggambarkan perasaan saat itu dengan kata-kata. Yang ada hanyalah rasa syukur yang memenuhi hati.
Rangkaian umrah dimulai dengan tawaf sebanyak tujuh putaran mengelilingi Ka'bah.
Niat Tawaf Umrah
نَوَيْتُ أَنْ أَطُوفَ بِهٰذَا الْبَيْتِ الْعَتِيقِ طَوَافَ الْعُمْرَةِ سَبْعَةَ أَشْوَاطٍ لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya:
"Aku berniat melakukan tawaf umrah mengelilingi Baitullah ini sebanyak tujuh putaran karena Allah Ta'ala."
Setelah menyelesaikan tawaf, kami melaksanakan salat sunnah dua rakaat setelah tawaf. Seusai salat, kami memperbanyak doa dengan menghadap ke arah Multazam, memohon ampunan, keberkahan, kesehatan, serta diterimanya seluruh rangkaian ibadah haji.
Selanjutnya kami melaksanakan sa'i, dimulai dari Bukit Shafa menuju Bukit Marwah. Perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali. Kemudian kembali dari Marwah menuju Shafa dihitung sebagai perjalanan kedua, demikian seterusnya hingga berakhir di Bukit Marwah pada putaran ketujuh.
Sebelum memulai sa'i, kami membaca niat sebagai berikut.
Niat Sa'i
نَوَيْتُ أَنْ أَسْعَى بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ سَبْعَةَ أَشْوَاطٍ لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya:
"Aku berniat melaksanakan sa'i antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali perjalanan karena Allah Ta'ala."
Rukun umrah yang terakhir adalah tahallul, yaitu mencukur atau memotong sebagian rambut sebagai tanda berakhirnya keadaan ihram.
Di antara doa yang dianjurkan setelah mencukur rambut adalah:
اللَّهُمَّ آتِنِي بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةً، وَارْفَعْ لِي بِهَا دَرَجَةً، وَاغْفِرْ لِي وَلِلْمُحَلِّقِينَ وَالْمُقَصِّرِينَ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ
Artinya:
"Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku satu kebaikan pada setiap helai rambutku, angkatlah derajatku dengannya, ampunilah aku, orang-orang yang mencukur dan memendekkan rambut, serta seluruh kaum muslimin."
Alhamdulillah, seluruh rangkaian umrah wajib akhirnya dapat kami selesaikan dengan baik.
Dari pengalaman ini saya belajar bahwa pertolongan Allah sering kali hadir melalui tangan banyak orang. Ada petugas yang dengan sabar membimbing, ada pendorong kursi roda yang dengan tulus membantu, ada sesama jemaah yang saling menguatkan, dan ada doa-doa keluarga di tanah air yang terus mengiringi perjalanan kami. Tidak ada seorang pun yang benar-benar mampu menjalani ibadah haji seorang diri. Semua saling membutuhkan.
Dengan selesainya tahallul, berakhirlah status ihram kami. Kini kami dapat melaksanakan berbagai ibadah sunnah di Masjidil Haram dengan lebih leluasa sambil menanti puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah.
Semoga setiap langkah kecil yang telah kami tempuh menjadi bagian dari perjalanan menuju haji yang mabrur.
Doa Setelah Menyelesaikan Umrah
"Ya Allah, terimalah umrah kami. Ampunilah dosa-dosa kami. Sehatkan badan kami, kuatkan hati kami, mudahkan seluruh rangkaian ibadah haji kami, lindungilah keluarga yang kami tinggalkan, dan perkenankan kami kembali ke tanah air dengan membawa haji yang mabrur serta akhlak yang lebih baik daripada sebelumnya. Aamiin."
Pada akhirnya, keberhasilan haji bukanlah semata-mata ketika seseorang berhasil tiba di Makkah atau menyelesaikan seluruh rangkaian manasik. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika ia kembali ke tanah air dengan hati yang lebih dekat kepada Allah SWT, akhlak yang lebih mulia, dan kehidupan yang lebih bermanfaat bagi sesama.
Tulisan bersambung


