Menyambut Panggilan Ilahi
Setiap perjalanan menuju Tanah Suci memiliki kisah yang berbeda. Ada yang diawali dengan penantian panjang, ada pula yang dipenuhi ujian dan perjuangan sebelum akhirnya Allah membuka jalan untuk menjadi tamu-Nya. Tulisan ini merupakan catatan perjalanan kami sejak meninggalkan kampung halaman hingga menginjakkan kaki di Kota Makkah Al-Mukarramah. Semoga pengalaman sederhana ini menjadi pengingat akan besarnya nikmat Allah sekaligus menjadi inspirasi bagi siapa pun yang sedang menanti panggilan suci ke Baitullah.
Oleh: Ahmad Rasyid el-Haromain
Perjalanan Safari Haji 2026 menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami, Matrasit Ibn Umra (nama pena Ahmad Rasyid, penulis) bersama istri tercinta, Sulfa binti Abd. Samad. Kami tergabung dalam Kloter 78, Rombongan 3, Embarkasi Surabaya, asal Kabupaten Sumenep.
Pada Senin pagi, 11 Mei 2026, sekitar pukul 06.30 WIB, kami berangkat dari rumah di Desa Ambunten Timur, Kecamatan Ambunten. Sebelum berangkat, kami dilepas oleh guru kami, KH. Makmun Al-Hadhari, setelah melaksanakan salat sunnah safar dua rakaat.
Suasana haru telah terasa sejak awal keberangkatan. Diiringi doa, pelukan, dan salam perpisahan dari keluarga, tetangga, serta sahabat, kami memulai perjalanan panjang menuju Tanah Suci. Alhamdulillah.
Bagi kami, perjalanan ini bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perjalanan hati untuk memenuhi panggilan Allah SWT. Sebuah perjalanan mulia sebagai Dhuyufur Rahman, tamu-tamu Allah Yang Maha Pengasih.
Kondisi kesehatan yang belum sepenuhnya pulih akibat stroke ringan membuat kami harus mempersiapkan segala sesuatu dengan lebih matang. Karena itu, kami bergabung dengan KBIH Al-Munawwarah Sumenep, yang sangat membantu mulai dari pengurusan administrasi, bimbingan manasik, hingga berbagai persiapan menjelang keberangkatan.
Sekitar pukul 10.00 WIB, seluruh jemaah diberangkatkan dari GOR Pangligur Sumenep menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Perjalanan berlangsung lancar dan penuh semangat.
Setibanya di asrama, kami mengikuti berbagai tahapan persiapan, mulai dari pemeriksaan kesehatan, pembagian living cost, penerimaan Kartu Nusuk beserta gelang identitas haji SUB 78, hingga pengarahan dari para petugas haji.
Keesokan harinya, Selasa, 12 Mei 2026, kami bersiap menuju Bandara Internasional Juanda Surabaya.
Sebelum berangkat, kami melaksanakan mandi sunnah ihram, salat sunnah ihram dua rakaat, kemudian mengenakan pakaian ihram.
Menjelang sore, pesawat Wamos Air yang membawa sekitar 380 jemaah mulai mengudara menuju Arab Saudi.
Karena kondisi kesehatan, kami menggunakan fasilitas kursi roda. Awalnya terasa canggung, tetapi layanan tersebut ternyata sangat membantu, terutama saat proses keberangkatan, pemeriksaan, serta perpindahan menuju dan dari pesawat.
Kami memulai perjalanan dengan membaca doa safar sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ.
بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هٰذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هٰذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ
Artinya:
"Dengan nama Allah. Segala puji bagi Allah. Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami akan kembali.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketakwaan serta amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan penjaga keluarga yang kami tinggalkan. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, serta keadaan buruk ketika kembali kepada harta dan keluarga."
Setelah membaca doa tersebut, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ, kami bertakbir tiga kali:
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر
Kemudian dilanjutkan dengan doa:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
"Mahasuci Engkau, ya Allah. Sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku. Sungguh tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau."
(Doa ini dapat dibaca ketika telah duduk di kursi pesawat dan pesawat mulai bergerak menuju landasan atau saat akan lepas landas.)
Penerbangan menuju Arab Saudi tidak dilakukan secara langsung. Pesawat terlebih dahulu singgah di Bandara Kualanamu, Medan, selama kurang lebih satu jam untuk pengisian bahan bakar.
Selanjutnya, perjalanan udara dilanjutkan selama sekitar delapan jam hingga akhirnya kami tiba di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah.
Ketika pesawat melintasi miqat Yalamlam, kami berniat ihram umrah.
نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهَا لِلَّهِ تَعَالَى، لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً، لَبَّيْكَ
Artinya:
"Aku berniat umrah dan berihram karena Allah Ta'ala. Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, untuk menunaikan umrah. Aku memenuhi panggilan-Mu."
Suasana di dalam pesawat terasa begitu khusyuk. Setiap jemaah tampak larut dalam doa dan harapan masing-masing. Sepanjang penerbangan, talbiah terus bergema dipandu oleh petugas haji kloter, menghadirkan suasana spiritual yang sulit dilupakan.
Sesampainya di Bandara Jeddah, proses pemeriksaan berlangsung tertib. Kartu Nusuk menjadi dokumen penting yang selalu diperiksa di setiap tahapan perjalanan. Berkat bantuan para petugas haji, seluruh proses dapat kami lalui dengan lancar.
Sekitar pukul 21.00 waktu Arab Saudi, kami tiba di Hotel Mahd Ar-Ressalah, kawasan Raudhah, Makkah. Rasa lelah akibat perjalanan panjang seakan sirna ketika menyadari bahwa kami telah sampai di Tanah Haram, tempat yang selama ini hanya kami lihat melalui gambar, buku, dan siaran televisi.
Malam itu kami langsung mengqadha salat yang selama berada di dalam pesawat hanya dapat dilaksanakan sebagai shalat li hurmatil waqt. Setelah itu kami beristirahat sambil menyusun rencana untuk melaksanakan rangkaian umrah wajib pada kesempatan pertama.
Sejak mengenakan ihram, kami terus berusaha menjaga seluruh larangan ihram agar ibadah dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya. Semua rasa lelah terasa ringan karena di depan mata telah menanti impian terbesar setiap Muslim, yakni memandang Ka'bah secara langsung dan beribadah di hadapan Baitullah.
Alhamdulillah, langkah pertama menuju Tanah Suci telah kami jejakkan dengan penuh rasa syukur. Semoga Allah SWT memudahkan seluruh rangkaian ibadah kami serta menerima haji ini sebagai haji yang mabrur, yang membawa keberkahan di dunia dan akhirat.
Makkah Al-Mukarramah, 13 Mei 2026
Tulisan bersambung


