Mokondo: Dari Bahasa Gaul Menjadi Sindiran Sosial tentang Laki-Laki Tanpa Tanggung Jawab Finansial


Mokondo adalah istilah bahasa gaul yang berasal dari singkatan "modal kolor doang". Awalnya digunakan sebagai candaan di media sosial, namun kemudian berkembang menjadi kritik sosial terhadap laki-laki yang ingin menikmati hubungan percintaan atau rumah tangga tanpa kesiapan ekonomi, tanggung jawab, dan kontribusi yang seimbang.

Istilah mokondo merupakan salah satu kosakata gaul yang populer di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Kata ini berasal dari frasa "modal kolor doang", yang secara harfiah berarti seorang laki-laki yang datang hanya dengan pakaian yang melekat di badan tanpa membawa kemampuan, usaha, atau tanggung jawab yang memadai. Meski terdengar lucu dan sering digunakan sebagai bahan candaan, istilah ini sebenarnya mengandung kritik sosial yang cukup tajam.

Pada awal kemunculannya, mokondo banyak digunakan di media sosial untuk menyindir laki-laki yang mendekati perempuan tanpa modal apa pun, baik secara finansial maupun kesiapan hidup. Dalam perkembangannya, makna mokondo menjadi lebih luas. Istilah ini tidak hanya merujuk pada laki-laki yang miskin secara ekonomi, tetapi juga pada mereka yang tidak memiliki kemauan bekerja keras, tidak bertanggung jawab, dan cenderung menggantungkan hidup kepada pasangan.

Perlu dipahami bahwa mokondo bukanlah sebutan bagi semua laki-laki yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Banyak orang yang hidup sederhana namun tetap bekerja keras, bertanggung jawab, dan berusaha memenuhi kewajibannya. Sebutan mokondo lebih mengarah pada sikap dan perilaku seseorang yang enggan berusaha tetapi ingin menikmati hasil dari usaha orang lain.

Dalam hubungan pacaran, sosok mokondo biasanya ditandai dengan kebiasaan selalu meminta ditraktir, meminjam uang tanpa niat mengembalikan, atau menjadikan pasangan sebagai sumber pembiayaan berbagai kebutuhan pribadi. Mereka sering kali memiliki banyak alasan untuk menghindari tanggung jawab, tetapi tetap ingin memperoleh perhatian, fasilitas, dan kenyamanan dari pasangannya.

Ketika hubungan berlanjut ke jenjang pernikahan, karakteristik mokondo dapat menjadi lebih serius. Sebagian orang menggunakan istilah ini untuk menggambarkan suami yang tidak memiliki penghasilan tetap, tidak berusaha mencari nafkah, namun tetap menuntut pelayanan dan penghormatan dari istri. Dalam kondisi tertentu, seluruh beban ekonomi keluarga justru ditanggung oleh pasangan, sementara dirinya hanya menikmati hasil tanpa kontribusi yang berarti.

Dari sisi perilaku, mokondo sering dikaitkan dengan beberapa karakter. Pertama, rendahnya rasa tanggung jawab. Kedua, kecenderungan bergantung pada orang lain. Ketiga, minimnya motivasi untuk berkembang. Keempat, gemar mencari pembenaran atas kegagalan diri sendiri. Dan kelima, memiliki harapan besar tanpa diimbangi usaha yang sepadan.

Fenomena mokondo juga tidak muncul begitu saja. Ada berbagai faktor yang dapat melatarbelakanginya. Sebagian dipengaruhi pola asuh yang terlalu memanjakan sehingga seseorang terbiasa bergantung pada orang lain. Sebagian lagi muncul akibat lingkungan sosial yang tidak mendorong kemandirian. Ada pula yang berasal dari kebiasaan mencari jalan pintas dan enggan menghadapi tantangan hidup.

Secara sosial, istilah mokondo menjadi simbol kritik terhadap ketimpangan tanggung jawab dalam hubungan. Masyarakat pada dasarnya tidak mempermasalahkan kondisi ekonomi seseorang selama ia memiliki etos kerja, kejujuran, dan kemauan untuk berusaha. Yang sering mendapat sorotan adalah ketika seseorang tidak memiliki kemampuan finansial tetapi juga tidak menunjukkan usaha untuk memperbaiki keadaan.

Tujuan penggunaan istilah mokondo sebenarnya bukan sekadar menghina atau merendahkan laki-laki. Dalam banyak konteks, istilah ini digunakan sebagai pengingat bahwa hubungan yang sehat memerlukan kontribusi, tanggung jawab, dan saling menghargai. Cinta memang tidak selalu diukur dengan uang, tetapi kehidupan bersama membutuhkan komitmen dan usaha nyata dari kedua belah pihak.

Pada akhirnya, mokondo adalah istilah budaya populer yang lahir dari pengalaman sosial masyarakat. Ia menjadi bentuk satire terhadap perilaku yang dianggap tidak bertanggung jawab dalam hubungan.

Pesan yang tersirat di balik istilah tersebut cukup sederhana: setiap orang boleh memiliki keterbatasan ekonomi, tetapi tidak boleh kehilangan kemauan untuk berusaha, bekerja, dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Sebab yang dinilai bukan semata-mata jumlah harta yang dimiliki, melainkan kesungguhan seseorang dalam menjalankan peran dan kewajibannya. (*)

Tulisan terkait

Utama 6074831239726716037

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item