Teguran Guru Adalah Tanda Kepedulian, Bukan Kebencian


Di balik setiap teguran guru terdapat kepedulian dan harapan agar murid tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Teguran bukanlah bentuk kebencian, melainkan wujud kasih sayang yang ingin menyelamatkan murid dari kesalahan dan kebiasaan buruk yang dapat merugikan masa depannya.

Setiap murid pasti pernah mengalami teguran dari guru. Ada yang menerimanya dengan lapang dada, ada pula yang merasa malu, kesal, bahkan marah. Tidak jarang orang tua juga ikut tersinggung ketika mendengar anaknya mendapat teguran di sekolah. Padahal, jika dipahami dengan hati yang jernih, teguran guru sesungguhnya bukanlah bentuk kebencian atau permusuhan. Sebaliknya, teguran adalah salah satu bukti bahwa guru masih peduli dan masih menaruh harapan kepada muridnya.

Menjadi guru bukan hanya mengajar mata pelajaran di dalam kelas. Tugas guru jauh lebih luas daripada sekadar menyampaikan materi pelajaran. Guru juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai kehidupan, serta membimbing murid agar tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, berakhlak baik, dan bertanggung jawab.

Karena itulah, ketika seorang murid melakukan kesalahan, melanggar aturan, bersikap tidak disiplin, atau menunjukkan perilaku yang kurang baik, guru merasa perlu untuk mengingatkan. Teguran yang diberikan bukan untuk mempermalukan murid, melainkan untuk mencegah kesalahan kecil berkembang menjadi kebiasaan buruk yang sulit diperbaiki di kemudian hari.

Bayangkan jika seorang murid terbiasa datang terlambat ke sekolah dan tidak pernah ditegur. Awalnya mungkin terlihat sebagai kesalahan sepele. Namun, jika kebiasaan itu dibiarkan terus-menerus, lama-kelamaan akan membentuk karakter yang tidak menghargai waktu. Ketika dewasa, kebiasaan tersebut bisa berdampak pada dunia kerja, kehidupan sosial, bahkan masa depannya sendiri.

Begitu pula dengan perilaku tidak jujur, malas belajar, tidak menghormati orang lain, atau melanggar aturan sekolah. Semua itu sering bermula dari hal-hal kecil. Guru memahami bahwa karakter seseorang dibentuk oleh kebiasaan yang dilakukan setiap hari. Oleh sebab itu, guru berusaha mengingatkan sebelum semuanya terlambat.

Guru yang menegur sesungguhnya sedang menunjukkan rasa sayangnya. Ia rela meluangkan waktu, tenaga, bahkan pikirannya untuk memperbaiki perilaku murid. Mungkin kata-kata yang disampaikan terasa keras. Mungkin nadanya terdengar tegas. Namun di balik ketegasan itu terdapat niat baik yang tidak selalu terlihat oleh mata.

Sebaliknya, kondisi yang patut dikhawatirkan adalah ketika guru mulai memilih diam terhadap kesalahan murid. Ketika guru sudah tidak lagi mengingatkan, tidak lagi menegur, dan tidak lagi peduli terhadap pelanggaran yang terjadi, bisa jadi itu merupakan tanda bahwa ia mulai menyerah. Guru merasa segala nasihatnya tidak lagi didengar. Pada titik itulah murid kehilangan salah satu penjaga yang selama ini membantu mengarahkan langkahnya.

Dalam kehidupan, sering kali kita baru memahami makna sebuah teguran setelah bertahun-tahun berlalu. Banyak orang dewasa yang mengenang guru-guru mereka dengan penuh rasa hormat karena pernah ditegur, dibimbing, bahkan didisiplinkan saat masih bersekolah. Dulu mereka merasa kesal, tetapi kini mereka sadar bahwa teguran tersebut telah membantu membentuk pribadi yang lebih baik.

Oleh karena itu, murid perlu belajar melihat teguran sebagai bentuk perhatian, bukan penghinaan. Tidak semua orang mau meluangkan waktu untuk memperbaiki kesalahan orang lain. Ketika guru masih mengingatkan, itu berarti masih ada harapan yang dititipkan kepada muridnya.

Demikian pula bagi para orang tua. Ketika menerima laporan atau teguran dari guru, hendaknya tidak langsung tersinggung atau marah. Cobalah mendengarkan terlebih dahulu dengan pikiran terbuka. Guru dan orang tua pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu menginginkan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang sukses, berkarakter, dan mampu menghadapi kehidupan dengan baik.

Hari ini, jika seorang murid mendapat teguran dari gurunya, jangan terburu-buru merasa dibenci. Bisa jadi teguran itu adalah bentuk kasih sayang yang paling tulus. Sebab guru yang peduli akan berani mengingatkan, meskipun terkadang harus menghadapi risiko disalahpahami.

Ingatlah, pujian memang menyenangkan untuk didengar, tetapi teguran yang tulus sering kali lebih berharga bagi masa depan. Karena dari teguran itulah lahir kesadaran, dari kesadaran lahir perubahan, dan dari perubahan lahirlah pribadi yang lebih baik.

Seorang guru sejati tidak hanya ingin muridnya pintar, tetapi juga ingin muridnya memiliki karakter yang kuat. Maka hargailah setiap teguran yang diberikan dengan niat baik. Sebab di balik teguran itu tersimpan doa, harapa

(dikembangkan dari akun FB Haruna Rasyid)

Tulisan terkait

Utama 3439867798229850372

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item