Puisi-Puisi Sunyi Moh. Wadhif a
Moh. Wadhif a alumni Miftahul Jannah, juga salah satu siswa kelas akhir MA Tahfidh Annuqayah, sekaligus santri aktif PP Annuqayah Lubangsa Utara yang bermukim di komplek Buhairah Arabiyah.
Kamu
Ucapanmu lembing yang tajam
Menusuk dalam pada jiwa
yang kehilangan pilar kokohnya,
dan kamulah penjaganya.
Mushalla ‘26
Aku
Hidup diatas altar penderitaan
ditinggal jauh penjaga yang cekatan,
padahal masa mengungkap bahagianya kemarin
dan dia pergi tanpa aku ingin.
Mushalla ‘26
Sabda Kesunyian
*untuk kata-kataku yang mulai berhamburan.
Lunglai ku melangkah
Jauh dari mukim kata,
Tak punya arah
Tuk membeli jalan yang tertata.
Telah ku obrak-abrik isi otak ini
Kosong melompong terdengar sunyi
“Sepi” kata hati.
“Sudahilah langkahmu!”
Kalimat itu mengggema
Dalam jantung yang seakan
Retak pada harapan lama.
Sunyi sudah sabdaku
Ditelanmu
Imaji masa lalu.
22/12/2025
Dibenci
Butuh seribu kebaikan
untukmu yang tenggelam
dalam benua kebencian
atap rumah, kaca, pintu, bahkan selimut birumu
menjadi saksi bisu
atas hirauanmu
sungguh rapuh batasanku
seakan waktu berpihak kepadamu
menjanjikan rela, pada pasrahmu
tuk memelukku dalam resahmu
dinding kayu yang mulai termakan usia
jendela kaca dengan pecahannya
mereka menemaniku tuk merangkulmu
walau sedikit buatku ragu
maafkanlah diriku
yang telah mengharapkanmu
lebih dari hangatnya
malam itu.
23/12/2025
Pelancong di Negeri Cinta
Remang-remang kulihat dirimu
bersimpuh darah tanpa luka
bertambat pada bisu
begitulah labirin cinta
yang sakit tanpa jejas
mencabik-cabik hati yang mengecap
muslihat khianat
namun bila terkawal
kau seakan terbang
melantah bahagia
meregup sandiwara cinta
hikmatmu menyuguhi rela
mengabdi atau
menangis bersama sunyi.
Perpustakaan ‘25
Dibelakangmu
Rasa nyaman yang kuharapkan
Terbengkalai dalam selembar kertas khayalan
Meliat bak cacing yang kehilangan
ekor kepalanya
Kupandangi punggungmu dari jauh
Seakan hati ini rindu
Pada tingkah lucumu
Meleburkan separuh sedihku
Rindu…
Kau bintang yang salah mengenal orang
Menganggapku ujung penghinaan
Meringkuk disamping kenyamanan
Kini anganku bergeleparan
Tak tau polusi, yang
tak punya solusi
Hanya dapat tersungkur dalam sunyi sendiri.
Lubtara ‘26
Memandangmu
Bulu matamu yang lentik
Mengisahkan pandangan, seakan
Mesra bercumbu dengan
Senyuman.
Terangnya rembulan seperti
Sedang menatapku
Memulihkan segala pandangan
Menyejukkan persinggahan.
Indah
Namun tenggelam dalam larangan.
Mushalla 25’


