Perjalanan Haji Baso Tang, Imam Tunanetra dari Pulau Kecil yang Namanya Diabadikan di Tanah Suci

Perjalanan Haji Baso Tang, Imam Tunanetra dari Pulau Kecil yang Namanya Diabadikan di Tanah Suci

Perjalanan menuju Tanah Suci sering kali menyimpan kisah-kisah yang melampaui batas kemampuan manusia untuk menjelaskannya. Ada yang berangkat dengan kemudahan, ada pula yang harus menempuh jalan panjang penuh keterbatasan. Namun dari keterbatasan itulah terkadang lahir keteguhan yang menggetarkan hati. Kisah Saifuddin atau Baso Tang adalah salah satunya. Seorang imam tunanetra dari pulau kecil di Kabupaten Sinjai yang membuktikan bahwa penglihatan bukan satu-satunya cara untuk melihat kebesaran hidup.

*****

Tangis itu pecah begitu saja di lobi hotel jamaah Indonesia di kawasan Jarwal, Makkah. Di tengah keramaian jamaah yang baru menyelesaikan salat Isya, seorang lelaki tunanetra tampak menundukkan kepala sambil menyeka air mata yang terus mengalir di pipinya. Ia tidak sedang bersedih. Sebaliknya, ia sedang menerima sebuah kabar yang tidak pernah terlintas dalam benaknya sepanjang hidup.

Lelaki itu adalah Saifuddin H.M. Abd Muin Saideng, yang lebih akrab dipanggil Baso Tang. Ia datang ke Tanah Suci sebagai jamaah haji reguler asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Keberangkatannya tidak berbeda dengan ribuan jamaah Indonesia lainnya yang datang membawa harapan dan doa. Namun perjalanan hajinya kemudian berubah menjadi kisah yang mengundang haru banyak orang.

Malam itu, sejumlah pria Arab datang ke hotel jamaah Indonesia. Mereka memperkenalkan diri sebagai bagian dari unsur Kerajaan Arab Saudi yang sedang mencari jamaah-jamaah tertentu untuk diberikan penghormatan khusus. Awalnya tidak ada yang menyangka bahwa perhatian mereka akan tertuju kepada seorang lelaki sederhana dari Pulau Kambuno.

Ketika mengetahui ada jamaah tunanetra yang telah puluhan tahun menjadi imam masjid di kampung halamannya, mereka menunjukkan ketertarikan yang besar. Baso Tang kemudian diminta membacakan beberapa ayat Al-Qur'an di hadapan jamaah yang mulai berkumpul di lobi hotel. Dengan suara tenang dan penuh penghayatan, ia melantunkan ayat-ayat yang telah lama tersimpan di dalam hafalannya.

Suasana mendadak hening. Banyak jamaah yang menyimak dengan khusyuk. Sebagian lainnya tampak terharu mendengar lantunan ayat yang keluar dari seorang lelaki yang bahkan tidak lagi dapat melihat huruf-huruf Al-Qur'an dengan matanya. Apa yang dibacanya malam itu lahir dari ingatan yang dibangun dengan kesabaran selama bertahun-tahun.

Tak lama kemudian, sebuah kabar disampaikan kepadanya. Namanya akan diabadikan untuk pembangunan sebuah masjid di Arab Saudi. Rencana pembangunan itu disebut kemungkinan akan dilakukan di wilayah Madinah. Mendengar kabar tersebut, Baso Tang tidak mampu lagi menahan air mata. Ia menangis dalam diam, larut dalam rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Bagi banyak orang, penghormatan itu mungkin terdengar luar biasa. Namun bagi Baso Tang, penghormatan terbesar bukanlah karena namanya akan diabadikan pada sebuah rumah ibadah. Yang membuatnya terharu adalah kenyataan bahwa perjalanan hidup yang selama ini dijalaninya dengan sederhana ternyata mendapat perhatian di tempat yang begitu jauh dari kampung halamannya.

Pulau Kambuno, tempat Baso Tang tinggal, adalah sebuah pulau kecil di Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Sinjai. Jauh dari hiruk-pikuk kota besar, kehidupan di sana berjalan dalam kesederhanaan. Di pulau itulah Baso Tang menghabiskan sebagian besar hidupnya, mengabdi kepada masyarakat dan menjaga masjid yang menjadi pusat kehidupan warga setempat.

Sejak tahun 1985, ketika usianya masih sekitar 16 tahun, ia dipercaya menjadi imam tetap Masjid Baburrahman. Amanah itu terus diembannya hingga sekarang. Selama lebih dari empat dekade, ia memimpin salat berjamaah, membimbing warga, dan menjaga kehidupan keagamaan masyarakat pulau tanpa pernah meninggalkan tanggung jawab tersebut.

Padahal kehidupan tidak selalu bersikap ramah kepadanya. Baso Tang lahir dengan kondisi penglihatan normal. Namun ketika beranjak remaja, matanya mulai mengalami gangguan. Awalnya hanya terasa gatal dan bengkak. Seiring waktu, penglihatannya semakin kabur hingga akhirnya hilang secara total pada tahun 1997.

Banyak orang mungkin akan merasa putus asa menghadapi keadaan seperti itu. Namun Baso Tang memilih jalan yang berbeda. Ia tidak menyalahkan siapa pun dan tidak mempertanyakan nasib yang menimpanya. Ia menerima kenyataan tersebut sebagai bagian dari perjalanan hidup yang harus dijalani dengan ikhlas.

Kehilangan penglihatan justru membuatnya semakin dekat dengan Al-Qur'an. Ia mulai menghafal surah-surah dengan mendengarkan kaset murattal menggunakan tape recorder tua. Setiap ayat diputar berulang kali, lalu dihafalkan sedikit demi sedikit. Proses itu berlangsung bertahun-tahun hingga banyak surah tersimpan kuat dalam ingatannya.

Apa yang tidak mampu dilihat oleh matanya, berhasil ditangkap oleh hatinya. Dari proses panjang itulah lahir kemampuan membaca Al-Qur'an yang membuat banyak orang kagum. Bahkan selama berada di Makkah, ia kembali dipercaya menjadi imam salat bagi rombongan jamaah asal Sinjai yang menginap di hotel yang sama.

Di luar tugasnya sebagai imam, kehidupan Baso Tang berjalan sangat sederhana. Ia mengelola sebuah warung kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari warga. Di warung itu tersedia beras, gas elpiji, bensin eceran, solar botolan, dan berbagai barang kebutuhan rumah tangga lainnya.

Honor sebagai imam yang diterimanya hanya sekitar dua ratus ribu rupiah setiap bulan. Jumlah yang tentu tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup. Karena itu, penghasilan utama justru berasal dari warung kecil yang dikelolanya dengan penuh ketekunan.

Keinginan untuk berhaji telah lama tumbuh dalam dirinya. Namun ia sadar bahwa mewujudkan impian tersebut membutuhkan perjuangan yang tidak ringan. Karena itu ia mulai menabung sedikit demi sedikit dari hasil berdagang. Ia juga mengikuti arisan mingguan selama enam tahun penuh hingga berhasil mengumpulkan dana yang cukup untuk mendaftar haji.

Tidak ada bantuan besar yang datang secara tiba-tiba. Tidak ada jalan pintas yang memudahkannya. Semua dilakukan melalui proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan disiplin. Setiap rupiah yang terkumpul menjadi bagian dari ikhtiar menuju Baitullah.

Yang lebih mengagumkan, seluruh transaksi di warung dilakukan sendiri olehnya. Ia menyusun uang berdasarkan nominal dan menyimpannya di tempat yang berbeda. Ketika ada pembeli datang, mereka membantu menyebutkan nilai uang yang diberikan. Selebihnya, ia menjalankan usaha itu dengan penuh kepercayaan.

Saat ditanya apakah ia pernah khawatir ditipu, jawabannya sangat sederhana. Ia memilih percaya kepada orang lain. Selama ini, kepercayaan itu tidak pernah dikhianati oleh warga di sekitarnya. Baginya, hidup akan terasa lebih ringan ketika dijalani dengan prasangka baik.

Kini, setelah berhasil menjejakkan kaki di Tanah Suci, Baso Tang menyimpan dua doa yang terus dipanjatkannya. Pertama, ia berharap Allah berkenan mengembalikan penglihatannya. Kedua, ia berharap dipertemukan dengan jodoh yang baik. Dua harapan sederhana yang menunjukkan bahwa di balik keteguhan hidupnya, ia tetap seorang manusia biasa dengan impian-impian yang sangat personal.

Ketika pertama kali berada di hadapan Ka'bah, perasaannya sulit digambarkan. Selama bertahun-tahun ia hanya mengenal bangunan suci itu melalui cerita dan gambar yang diperlihatkan orang lain. Kini ia berdiri begitu dekat dengannya. Meski tidak dapat melihat secara langsung, ia merasa mampu membayangkan kemegahan Ka'bah melalui keyakinan yang selama ini hidup di dalam hatinya.

Perjalanan haji Baso Tang mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Ia kehilangan penglihatan, tetapi tidak kehilangan harapan. Ia hidup dalam kesederhanaan, tetapi tidak kehilangan martabat. Ia jauh dari sorotan, tetapi tidak kehilangan arti pengabdian.

Mungkin itulah sebabnya kisahnya menyentuh begitu banyak orang. Sebab di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan dengan kemewahan dan popularitas, Baso Tang hadir sebagai pengingat bahwa ketulusan, kesabaran, dan kesetiaan juga memiliki cahayanya sendiri. Cahaya yang tidak terlihat oleh mata, tetapi mampu menerangi hati siapa saja yang mendengarnya. (*)

Tulisan terkait

Utama 4365811758735360246

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item