Tajhin Petto’




Cerpen:  Ufil Kaila

Desa merupakan tempat ternyaman bagi seorang pencari ketenangan. Desa adalah sahabat yang mampu meredakan hiruk-pikuk kehidupan dan kegaduhan jiwa. Aku adalah anak desa. Menjadi bagian dari desa bukanlah sebuah pilihan yang kuambil, melainkan takdir yang telah diberikan sejak lahir. Bahkan tanpa memilih pun, aku telah terlahir dan tumbuh di sini.

Jika ada yang bertanya, “Di sana atau di sini?” maka jawabanku tetap sama, “Di sini.” Di desa, maksudku.

Kabupaten Sumenep memiliki 27 kecamatan, terdiri atas 19 kecamatan di daratan dan 8 kecamatan di kepulauan. Desaku adalah salah satunya.

"Desaku yang kucinta,
Pujaan hatiku,
Tempat ayah dan bunda,
Serta handai taulanku.

Tak mudah kulupakan,
Tak mudah bercerai,
Selalu kurindukan,
Desaku yang permai."

Bernyanyilah sejenak sambil menikmati keindahan alam di desaku yang permai, kata Pak L. Manik dalam lagu itu. Aku tersenyum memandangi pesona alam yang begitu menenangkan. Duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir teh manis racikan ibuku sendiri terasa begitu nikmat.

“Wah, mantap sekali,” gurauku kepada ibu.

Desa jauh dari polusi, bukan? Di sinilah anak-anak bebas berkreasi dan bermain bersama teman-temannya. Semuanya masih serba alami. Mulai dari bermain mobil-mobilan, masak-masakan, hingga petak umpet. Bukan "ngepet-ngepetan", tentu saja—sekadar bercanda.

Karena kehidupan kami begitu dekat dengan alam, hampir semua permainan memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar. Namun, kami juga diajarkan untuk tidak meninggalkan sampah setelah bermain. Bermain bukan hanya kebutuhan anak-anak untuk bersenang-senang, tetapi juga sarana melatih kreativitas, keberanian, dan keaktifan.

Itulah salah satu alasan mengapa hidup di desa terasa begitu menyenangkan.

“Teman-teman, pagi ini kira-kira apa yang alam sediakan untuk kita?” tanya salah seorang temanku suatu pagi.

Ketika fajar mulai menyingsing dan embun membasahi dedaunan hijau, kami bergegas keluar rumah. Rumah sederhana yang menjadi tempat berteduh bersama keluarga kami.

Saat itu, ayah dan ibu telah lebih dahulu berangkat ke sawah. Mereka membungkukkan badan di tengah hamparan padi demi mencari rezeki untuk keluarga. Makanan yang kami konsumsi sebagian besar berasal dari hasil alam, dan tubuh kami tumbuh sehat karenanya.

Menjelang sore, kami pulang untuk bersiap menuju musala yang berada di seberang sungai. Jaraknya cukup jauh dari rumahku. Di sana, aku dan teman-teman belajar mengaji. Setelah selesai, kami dijemput orang tua masing-masing yang membawa obor dari daun kelapa kering sebagai penerang jalan.

Bagiku, kehidupan desa sangat menyenangkan karena dipenuhi kesederhanaan dan kebersamaan.

Namun, suatu hari aku menemukan sesuatu yang aneh.

Saat berjalan menuju rumah seorang teman, tepat di sebuah pertigaan jalan, aku melihat makanan yang sengaja diletakkan di sana. Aku hanya bisa bertanya dalam hati, “Apa ini?”

Aku dan temanku berhenti sejenak. Bulu kuduk kami merinding. Pikiran kami mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang aneh-aneh. Temanku tampak takut, tetapi sebenarnya aku jauh lebih penakut darinya.

Sesampainya di rumah temanku, aku menanyakan benda yang kami lihat tadi. Ternyata ia juga tidak tahu. Yang ia ketahui hanyalah benda itu memang sering ditemukan di tempat-tempat tertentu, terutama di pertigaan jalan.

Ternyata benar. Benda itu tidak hanya ada di satu lokasi. Hampir selalu muncul di beberapa pertigaan jalan di desa kami.

Benda itu berupa bubur putih yang dihiasi berbagai warna di atasnya. Ada tujuh warna berbeda: hitam, merah, putih, cokelat, jingga, abu-abu, dan hijau.

Rasa penasaranku semakin besar.

Keesokan paginya, aku mengajak beberapa teman untuk menyelidiki bubur misterius tersebut.

Setelah diamati lebih dekat, ternyata warna-warni itu berasal dari bahan pewarna yang dibuat manusia. Bubur tersebut ditempatkan dalam wadah daun yang dibentuk menyerupai mangkuk, lalu disematkan potongan lidi di kedua sisinya agar tetap rapi. Ketujuh bubur itu disusun berdekatan menjadi satu.

Seperti biasa, setelah itu kami kembali bermain dan berkreasi dengan alam. Membuat mainan dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar memang selalu menyenangkan.

Tak jarang kami pergi ke sawah menemui ayah dan ibu. Sekadar bercanda dan menghibur mereka yang lelah bekerja. Saat mereka beristirahat sambil mengipas-ngipaskan caping yang basah oleh keringat, kami bermain di pinggir sawah.

Di sana tumbuh banyak ilalang.

“Teman-teman, ayo kita ambil ilalang ini. Kita buat baju ala Papua!” seru seorang temanku yang bertubuh kecil dan kurus. Karena itulah kami memanggilnya Kutil.

Sepulang dari sawah, kami kembali menemukan bubur itu. Kali ini berada di pertigaan jalan menuju area persawahan. Aku berjalan bersama ayah dan ibu. Kuperhatikan apakah mereka akan menanggapi keberadaan bubur tersebut.

Namun mereka hanya melewatinya begitu saja.

Tidak ada yang memindahkan atau membicarakannya. Aku semakin yakin bahwa benda itu sudah biasa mereka lihat. Karena penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya langsung.

Keesokan harinya, kesempatan itu datang.

Sore hari, ayah dan ibu duduk santai di rumah sambil menikmati teh hangat buatan ibu. Ayah menyeruput teh perlahan sebelum bersandar kembali.

Aku duduk di dekat mereka dan mulai bertanya tentang bubur yang sering kulihat di pertigaan jalan.

Ayah menjelaskan bahwa benda itu adalah sesajen yang diperuntukkan bagi roh halus yang dipercaya menghuni tempat-tempat tertentu. Jika bubur itu diletakkan di suatu lokasi, masyarakat meyakini bahwa daerah tersebut memiliki penghuni gaib.

Sesajen itu disebut Tajhin Petto’ atau bubur tujuh warna.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sesajen tersebut biasanya dibiarkan begitu saja hingga akhirnya habis. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang menghabiskannya.

Ayah kemudian menjelaskan makna dari tujuh warna yang terdapat pada bubur itu. Konon, setiap warna melambangkan roh halus yang berbeda. Warna-warna tersebut dipercaya disukai oleh para penghuni gaib.

Dahulu, pewarna bubur tidak selalu berasal dari pewarna makanan. Banyak warga menggunakan bahan alami, seperti daun hijau, buah-buahan, maupun tumbuhan lain yang menghasilkan warna tertentu.

Lalu mengapa jumlahnya tujuh?

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, angka tujuh dianggap sebagai angka yang sakral. Karena itulah sesajen tersebut dibuat dalam tujuh warna dan tujuh bagian.

Aku kembali bertanya, “Apa tujuan meletakkan sesajen itu?”

Ibu menjawab bahwa sesajen dipercaya sebagai simbol penghormatan kepada makhluk tak kasatmata agar tidak mengganggu manusia. Namun, masyarakat tetap meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa adalah sumber perlindungan dan keselamatan yang sesungguhnya.

Ibu juga bercerita bahwa sesekali ia pernah membuat Tajhin Petto’ dan meletakkannya di pertigaan jalan dekat area pemakaman di sebelah selatan rumah. Bubur itu dibuat menggunakan pewarna alami dari daun dan buah-buahan. Namun, ibu tidak melakukannya sesering warga lainnya.

Masyarakat sekitar mengatakan bahwa tradisi serupa juga ditemukan di desa-desa lain, meskipun bentuk, warna, jumlah, maupun tata cara penyajiannya berbeda-beda. Ada yang disertai ritual tertentu, ada pula yang cukup meletakkannya di pertigaan jalan seperti di desaku.

Ada pula kepercayaan bahwa pertigaan jalan merupakan tempat bertemunya berbagai arah sehingga dianggap sebagai lokasi yang disukai makhluk gaib. Karena itu, sesajen sering diletakkan di sana.

Hari peletakannya pun biasanya tertentu, seperti malam Senin, hari Selasa, atau malam Jumat.

Terkadang sesajen dibuat karena alasan tertentu, misalnya ketika ada anggota keluarga yang sakit atau dipercaya mengalami gangguan makhluk halus. Namun ada pula yang membuatnya sebagai bentuk permohonan keselamatan bagi keluarga mereka.

Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai kepercayaan tersebut, tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa sejak lama.

Banyak budaya unik yang hidup di desa-desa Sumenep, dan Tajhin Petto’ adalah salah satunya. Dengan 27 kecamatan yang memiliki keragaman tradisi masing-masing, Sumenep menyimpan kekayaan budaya yang sangat berharga dan patut dilestarikan.

Sebagai anak desa, aku belajar bahwa setiap tradisi menyimpan cerita, nilai, dan sejarah yang membentuk identitas masyarakatnya. Dan Tajhin Petto’ akan selalu menjadi salah satu kenangan masa kecil yang paling kuingat dari desaku tercinta.

Tulisan terkait

Utama 2723058371130816427

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item