Arwah Penunggu Bukit Kapur Sumenep


Cerpen: Ilyam YP

Di pinggiran Kota Sumenep, Madura, berdiri sebuah bukit kapur tua yang telah lama ditinggalkan. Warga percaya tempat itu menyimpan rahasia kelam yang tak pernah terungkap. Sekelompok remaja Madura—Addul, Pa'ong, Dulla, Kacong, Sitti, dan Bu'ah—tanpa sengaja membangkitkan arwah seorang perempuan muda yang menjadi korban pembunuhan puluhan tahun silam.

Sejak malam itu, gangguan demi gangguan menghantui mereka. Bayangan bergaun putih, tangisan di tengah malam, dan bisikan yang memanggil nama salah satu ayah mereka membuat suasana semakin mencekam. Perlahan mereka mengetahui bahwa ayah Addul menyimpan rahasia besar tentang tragedi masa lalu.

Arwah itu bukan sekadar ingin menakut-nakuti, melainkan meminta keadilan dan pemakaman yang layak agar jiwanya tenang. Misteri ini membawa mereka pada penemuan yang mengubah hidup seluruh keluarga.

*****

Malam itu langit Kota Sumenep tampak gelap. Angin bertiup pelan melewati Bukit Kapur yang sudah lama kosong. Warga desa percaya tempat itu angker. Tak ada yang berani datang setelah matahari terbenam.

Namun, Addul, Pa'ong, Dulla, Kacong, Sitti, dan Bu'ah menganggap cerita itu hanya dongeng.

"Ayo masuk sebentar. Biar tahu benar atau tidak," kata Pa'ong sambil menyalakan senter.

"Kalian jangan lama-lama. Aku sudah merinding," ujar Sitti.

Mereka berjalan melewati semak dan bebatuan. Di tengah bukit terdapat sebuah lubang besar seperti bekas galian lama.

Bu'ah melihat sehelai kain lusuh yang sebagian tertimbun tanah.

"Itu apa?" tanyanya.

Kacong mengambil ranting lalu mengorek tanah. Tak lama kemudian muncul sebuah gelang perak yang sudah berkarat.

Tiba-tiba angin berhenti.

Suasana menjadi sunyi.

Lalu terdengar suara perempuan menangis.

Hik... hik... hik...

Semua saling berpandangan.

"Itu suara siapa?" bisik Dulla.

Belum sempat menjawab, gelang itu jatuh sendiri dari tangan Kacong.

Sebuah bayangan putih berdiri di atas batu.

Rambutnya panjang menutupi wajah.

Tubuhnya penuh tanah.

"Lar...i!" teriak Addul.

Mereka berlari tanpa menoleh sedikit pun.

*****

Sejak malam itu, kejadian aneh mulai terjadi.

Setiap pukul dua belas malam, terdengar suara perempuan menangis dari belakang rumah Addul.

Ibunya berkali-kali melihat sosok perempuan berdiri di dekat pohon mangga.

Suatu malam Addul terbangun karena mendengar seseorang memanggil.

"Addul..."

Suara itu lirih.

Ia membuka jendela.

Di luar berdiri perempuan bergaun putih.

Perlahan wajahnya terangkat.

Wajahnya pucat dengan mata yang dipenuhi kesedihan.

"Ayahmu... harus mengaku..."

Seketika sosok itu menghilang.

Keesokan harinya Addul menceritakan semuanya kepada teman-temannya.

Pa'ong berkata pelan,

"Kenapa selalu ayahmu yang disebut?"

Tak ada yang bisa menjawab.

*****

Gangguan semakin menjadi.

Ayah Addul sering bermimpi didatangi perempuan yang sama.

Setiap bangun tidur, bajunya basah oleh keringat.

Suatu malam ia berteriak keras.

"Maafkan aku! Aku tidak membunuhmu!"

Ucapan itu didengar seluruh keluarga.

Addul mulai curiga.

Ia akhirnya bertanya kepada ayahnya.

"Ayah... siapa perempuan itu?"

Wajah ayahnya mendadak pucat.

"Ayah tidak kenal."

"Tapi Ayah selalu menyebut namanya saat tidur."

Ayahnya terdiam lama.

Akhirnya ia berkata dengan suara bergetar.

"Dulu... puluhan tahun lalu... ada seorang gadis desa yang hilang."

"Namanya Salma."

"Ia menjadi korban kekerasan dan dibunuh secara kejam."

Addul membelalak.

"Lalu Ayah?"

"Ayah tidak ikut melakukan kejahatan itu. Tapi Ayah melihat siapa pelakunya."

"Karena takut, Ayah memilih diam."

Air mata mulai jatuh dari wajah pria tua itu.

"Sejak hari itu Ayah hidup dengan rasa bersalah."

*****

Malam berikutnya semua remaja kembali ke Bukit Kapur ditemani seorang tokoh agama desa.

Mereka membawa lampu dan doa.

Saat tiba di lokasi, angin kembali berembus dingin.

Kabut turun perlahan.

Suara tangisan terdengar semakin dekat.

Lalu sosok perempuan itu muncul.

Kali ini wajahnya terlihat jelas.

Penuh luka dan kesedihan.

Sitti gemetar.

"Si... siapa kamu?"

"Aku Salma..."

"Sudah lama aku menunggu..."

Suara itu pelan namun membuat bulu kuduk berdiri.

"Aku tidak ingin membalas kepada anak-anak."

"Aku hanya ingin kebenaran."

Semua terdiam.

Ayah Addul maju perlahan.

Dengan suara bergetar ia berkata,

"Maafkan aku."

"Aku pengecut."

"Aku membiarkan keluargamu kehilanganmu tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."

Air mata mengalir di pipinya.

"Aku akan mengatakan semuanya kepada pihak berwenang dan keluargamu."

Sosok Salma menatapnya lama.

"Aku hanya ingin jasadku ditemukan."

"Makamkan aku dengan layak."

"Doakan aku."

"Lalu aku akan pergi."

*****

Keesokan harinya warga bersama aparat mencari lokasi yang ditunjukkan ayah Addul.

Di balik reruntuhan bekas galian kapur ditemukan sisa-sisa kerangka manusia beserta gelang perak yang ditemukan Kacong.

Keluarga Salma akhirnya dapat memakamkannya secara layak.

Doa dipanjatkan bersama.

Suasana haru menyelimuti seluruh desa.

*****

Malam terakhir, Addul kembali bermimpi.

Salma datang dengan pakaian putih yang kini tampak bersih.

Wajahnya tidak lagi penuh luka.

Ia tersenyum tipis.

"Terima kasih."

"Aku tidak akan mengganggu kalian lagi."

"Jagalah agar kebenaran tidak pernah dikubur."

Perlahan tubuhnya berubah menjadi cahaya yang memudar di antara kabut.

Sejak saat itu, tangisan di Bukit Kapur tak pernah terdengar lagi.

Namun hingga sekarang, warga Sumenep masih percaya, jika ada orang yang menyembunyikan kejahatan dan membiarkan kebenaran terkubur, angin malam di Bukit Kapur akan kembali membawa bisikan lirih...

"Jangan biarkan kebenaran ikut mati bersamaku..."

Tulisan terkait

Utama 159395952625331850

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item