Rumah Selatan dan Portal Dimensi
Misteri Rumah Kosong yang Menyimpan Rahasia di Balik Mimpi
Cerpen: Kang Thohir
Rumah adalah impian bagi semua orang, karena tempat untuk berteduh dari terik matahari dan hujan. Rumah adalah tempat untuk menyimpan memori dan kenangan.
Rumah tempat untuk mengadu nasib, berkeluarga dan berumah tangga juga bertetanggaan.
Rumah adalah layaknya surga, dan bisa juga seperti neraka.
Rumah yang kosong bisa jadi buat persinggahannya bagi para makhluk halus dan makhluk astral seperti jin, hantu kuntilanak, genderuwo, dan dedemit lainnya. Hihihihihi.
_______
Malam yang sunyi ditambah hujan mengguyur di atas permukaan tanah. Disusul angin kencang mengibaskan dedaunan dan sekitarnya. Sehingga menambah suasana semakin dingin dan mencekam di sudut ruangan yang sepi di dalam rumah tak berpenghuni.
Aku duduk di ruang tamu arah utara dan aku menghadap arah selatan. Rumah ini yang sudah lama tak dihuni, dari tahun 2022 hingga 2025 sampai sekarang, sejak dibangun. Meski pernah disinggahi cuma beberapa hari, karena tidak betah hingga akhirnya pindah lagi. Katanya sih banyak menyimpan misteri tentang mistis hantu tinggi besar dan siluman kera di rumah ini.
Menurut cerita beredar dan ada yang melihatnya si penjual gorengan yang jualan dideket rumah itu bernama bapak Karja. Dia melihat sesosok yang berwujud kera, menyelinap masuk ke rumah tak berpenghuni itu. Menurut cerita lagi ada yang melihat sesosok seorang kakek-kakek yang berpakaian adat Jawa zaman dulu kala dengan memakai blangkon, yang nampak di sudut rumah di pinggir kamar mandi.
Aku pun menyelusuri rumah itu, aku memang merasa ada keanehan di rumah tersebut, tapi tak begitu nampak menyeramkan dan tak menggangguku. Padahal aku setiap hari ke situ guna menyalakan lampu ketika malam, dan mematikan lampu ketika pagi. Aku sering berdiam di situ dan duduk santai di sofa yang berada di ruangan tersebut.
Aku menatap kesunyian dan kesendirian, meski dilamun sepi, aku terus melihat-lihat area ruangan tersebut dengan penuh kedamaian. Meski terkadang ketiduran dan sering mimpi yang tak enak, tapi itu cuma bunga tidurku saja. Aku tak merasakan aura negatif atau apa, aku sepertinya nyaman ketika berada di dalam rumah tersebut setiap hari. Di situlah aku menatap.
Lalu aku tak senggaja untuk beristirahat sampai ketiduran lagi di soffa itu, karena kelelahan. Pada akhirnya aku bermimpi lagi, dan di dalam tidurku itu, aku menatap; ada tulang belulang terikat di akar pepohonan tua di tengah jalanan itu, penuh ketegangan semakin mencekam, mengerikan. Di balik semak-semak belukar bergerak-gerak, yang membuat aku penasaran:
"Hai, lihat itu!"
"Apa itu?"
"Stss.. diam, jangan berisik!"
Dengan ketakutan, mereka merayap menuju semak-semak itu.
"Kira-kira apa ya, itu?"
Membuat hati ini penasaran.
Tiba-tiba ada suara orang berteriak histeris.
"Aaaaaaaaaaaaaaa!!"
Mereka sedikit kaget, dan menengok ke arah suara itu, disusul oleh suara-suara aneh.
Bugg!! Kegedebug!! Bugg!! Arghh!!
Akhirnya mereka menuju arah suara itu, tapi di situ mereka sekilas melihat ada sesosok bayangan tinggi besar yang menghilang tanpa jejak, dan ada seseorang yang tergeletak dengan berlumuran darah tanpa nyawa di tempat itu juga.
Siapakah kira-kira sesosok tinggi besar itu? Kenapa ia membunuhnya. . . .?
Kami menyusuri arah jalan menuju rumah kosong itu, yang nampak di pinggir hutan lebat dan berkabut (berasap). Namun, ada kejanggalan yang membuat orang terjengang menatap kabut hitam misteri itu, yang nampak aneh bin ajaib.
Ada portal pintu gaib di sudut pojok rumah tersebut, yang memiliki dinding yang cukup kokoh dan hitam pekat sehingga nampak horor dan misteri. Kami menyusuri pintu portal itu menawarkan untuk masuk dengan sedikit sentuhan aura mistis yang kuat membuat kami penasaran 'tuk masuk.
Nger.. ngerr... ngerr... Ngerr... Kedubrakkk!!
Suara-suara aneh di dalam pintu gaib itu yang nampak seperti bangsa makhluk halus yang sedang merintih mungkin. Eh, ternyata ada orang di situ dengan kaki terlipat dan mendengkur merintih kesakitan di balik jeruji besi yang terpampang. Ternyata makhluk itu telah mengurungnya ke dimensi lain di balik ruangan itu. Pantesan nggak kelihatan oleh kasat mata telanjang.
Kami berlima Indra, Nadia, Bayu, Aji, dan Arya, mencoba mendekatinya dengan penuh ketakutan dan hawa dingin yang mencekam menghampiri.
Kami pun menghampirinya sambil bertanya:
"Siapakah kamu ini, kenapa ada di sini?"
"Aku ini Andi, aku sedang terperangkap di sini, di ruangan ini oleh sesosok makhluk astral tingi besar. Tolongin aku! Tolong!"
"Kamu ini Andi, yang telah lama hilang itu, 'kan?"
"Iya betul, itu aku."
"Kalau begitu mari kita sama-sama menolongnya untuk keluar dari demensi ruangan ini, Kawan-kawan!"
"Ayo!"
"Ayo! Pegang tanganku, raihlah aku!"
Kami berlima berusaha menerobos keluar dari demensi itu menuju dunia fana, namun tiba-tiba dihadang oleh makhluk gede dhuwur itu yang berusaha menghadang kami berenam, dengan para pasukan makhluk lainnya seperti, kuntilanak, pocong, tuyul, siluman kera dan lain sebagainya yang ada di ruangan itu. Yang entah kemana mereka datang dari berbagai penjuru di sudut dan di tengah mereka berdatangan dengan bermacam-macam aneka jenis.
Kami melawan dengan sekuat tenaga berbagai do'a dan bacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an juga sholawat, supaya bisa melewati ini semua dengan selamat sampai tujuan.
Selang beberapa lama kemudian setelah kami berusaha mati-matian pertolongan Allah SWT datang membantu kami, dan menyelamatkan kami berenam.
Akhirnya makhluk-makhluk itu berhasil lenyap dari pandangan kami, dan kami pun bisa keluar dari ruangan itu dengan selamat:
"Alhamdulillah, kita selamat, kawan dari godaan makhluk-makhluk itu."
"Ayo, kita pulang ke rumah Andi untuk mengantarkannya pulang ke rumahnya dan melaporkan kejadian ini kepada keluarga Andi."
"Siap, kita ke rumah Andi." Dengan penuh bahagia mereka berhasil keluar dari lingkaran dimensi lain, dan berhasil membawa Andi dengan selamat."
***
Tiga tahun berlalu setelah kejadian itu, aku sebagai Indra sering berkunjung ke rumah selatan itu yang penuh aura mistis dan angker.
Aku tak sengaja beristirahat di salah satu shofa di ruang tengah di rumah kosong tersebut untuk sekadar bermain dengan kenangan kejadian itu tahun silam.
Dan tiba-tiba aku begitu ngantuk, lalu aku tertidur di rumah tersebut dengan lelap.
Di dalam rumah itu aku bermimpi dan seperti kejadian nyata yang kerap berulangkali dan sekilas ada aura mistis di rumah tersebut:
"Ada baiknya aku beristirahat dulu sejenak, nanti aku beranjak.
Namun, terkadang membuat aku berontak.
Hingga aku berteriak-teriak"
"Ah, kenapa aku ini?"
Dengan begitu ketakutan menatap semua realita di kehidupan nyata, pada bisik-bisik semu yang sering menganggu hidupku.
Tidur pun tak nyenyak, karena bermimpi dikerubungi oleh buaya putih dan hitam, yang begitu banyak, hingga aku terjerembap pada bangunan rumah yang bercat putih kelabu/hitam kebiruan.
Dan, aku melawan semua buaya-buaya itu.
Akhirnya aku terbangun dengan keadaan bingung:
"Kenapa aku bermimpi seperti itu?"
"Ah, kenapa aku ini? Dan apa yang akan terjadi?"
Sampai-sampai aku selalu memikirkan mimpi itu.
Entah, kenapa aku bermimpi buaya itu, yang akan memangsaku.
Dengan keadaan panik dan semu, aku termenung di antara resah dan gelisah yang kian membelenggu:
"Apakah aku ada masalah? Ataukah aku punya salah dengan orang lain?"
Di pikiranku yang kacau, membuat aku tak tenang. Aku ingin sekali memecahkan masalah teka-teki itu, yang begitu misteri.
Meskipun aku tahu bahwa mimpi itu adalah bunga tidur, tapi mimpi itu seperti nyata dan begitu jelas di mataku.
Apakah ini yang dinamakan firasat melalui mimpiku? Ataukah sebuah pesan ghaib dari mimpiku tadi? Ah, entahlah. Semoga saja mimpi itu tak pernah terjadi di kehidupanku nanti.
~ Selesai ~
Brebes, 10 Juli 2026
***
Muhammad Thohir/Tahir (Mas Tair) yang dikenal dengan nama pena Kang Thohir, kelahiran Brebes, Jawa Tengah. Dari dusun/desa Kupu, kecamatan Wanasari. Dari anak seorang petani dan tinggal dari kehidupan sehari-hari bertani, berkebun, menanam bawang merah, padi, kacang, pare, cabai dan sayur-sayuran di ladang sawahnya.
Kini, aku sedang menggeluti dunia tulis menulis atau literasi, khususnya sastra Indonesia. Suka menulis sejak duduk di bangku kelas empat SD dan sampai masuk ke Pondok Pesantren. Aku masih tetap aktif menulis dan semakin semangat 'tuk menulis baik puisi maupun cerpen dan lain sebagainya yang aku tulis. Selain menulis aku juga suka membaca buku agar bisa bermanfaat untuk menambah wawasan (pengetahuan).


