Bunga Teratai di Atas Abu Ganter
Cerpen: Aditiya Widodo Putra
Asap dupa di Candi Gurah tak lagi membumbung lurus ke angkasa. Ia bergulung gelisah, tersapu angin malam yang membawa bau kencang minyak jarak dan ancaman dari istana Daha.
Dang Hyang Lohgawe—seorang Brahmana tua yang rambut putihnya telah menyapu tanah—bersemedi di hadapan arca Siwa Mahadeva. Di sampingnya, Mpu Sanggama, murid terkasihnya yang masih muda, duduk menahan getar di jemarinya.
“Guru,” bisik Sanggama, suaranya parau menahan tangis. “Prajurit Manggala telah tiba di gerbang. Sang Akenudung, utusan Maharaja Kertajaya, membawa prasasti batu. Baginda menuntut seluruh Brahmana bertekuk lutut, menyembah Baginda sebagai dewa yang menjelma. Jika kita menolak... besok subuh, candi ini akan diratakan dengan tanah, dan para Cantrik akan dipenggal di atas mazbah.”
Lohgawe enggan membuka matanya. Namun, sebutir air mata merembes melalui kerutan di pipinya yang legam, menyusuri garis-garis usia yang dihabiskannya untuk menjaga kesucian dharma.
Lohgawe meremas tasbih kayu sandat di tangannya hingga butirannya memekik. “Minggu lalu di Blitar, Kertajaya menancapkan tombak di atas panggung setinggi pohon kelapa. Ia melompat dan duduk bersila di ujung mata tombak itu, lalu berteriak pada rakyat yang gemetar: ‘Lihat! Hanya Dewa Bhatara Guru yang sanggup duduk di atas tajamnya maut tanpa terluka! Maka sembahlah aku!’”
Lohgawe menghela napas, suaranya parau serasa menyayat tenggorokan. “Tatkala seorang manusia biasa mulai menantang maut demi dipuja sebagai Dewa, maka tanah tempatnya berpijak tinggal menunggu waktu untuk runtuh.” “Seorang raja adalah pelindung dharma, bukan pemilik dharma. Tatkala seorang fana menuntut hak Hyang Tunggal, maka ia telah mengundang kehancuran bagi tanah Bhumi Jawa.”
Lohgawe berdiri. Langkah kakinya yang renta gemetar saat mendekati gerbang. Di sana, Sang Akenudung berdiri dengan senyum culas, memegang obor dan pedang terhunus.
“Tundukkan kepalamu, Dang Hyang!” seru sang utusan. “Sebut nama Sri Maharaja Dandang Gendis sebagai Dewa tertinggi, atau lihatlah tempat sucimu menjadi abu!”
Lohgawe menatap arca Siwa di belakangnya—arca yang diukir oleh mendiang ayahnya dengan penuh belas kasih. Ia lalu menatap murid-murid mudanya yang gemetar ketakutan. Jika ia tunduk, ia menyelamatkan batu dan daging, tetapi membinasakan jiwa seluruh negeri. Jika ia menolak...
Dengan tangan berguncang hebat, Lohgawe mengambil obor dari dinding kuil.
“Guru! Apa yang kau lakukan?!” jerit Sanggama terperanjat.
“Jika tempat suci ini harus cemar,” ucap Lohgawe dengan suara yang memecah kesunyian malam, “biarlah api kesucianku sendiri yang meruntuhkannya, bukan telapak kaki orang-orang murka.”
Lohgawe melempar obor itu ke atap ijuk meru utama. Api membumbung tinggi, melahap ukiran kayu berusia ratusan tahun. Raung tangis para cantrik pecah membumbung ke langit malam Kediri yang menghitam. Lohgawe berbalik, membelakangi kobaran api yang melahap rumah pengabdiannya, lalu berjalan menembus kegelapan malam menuju utara—menuju Tumapel.
Perjalanan menuju Tumapel adalah jalan penderitaan. Di sepanjang jalan desa, Lohgawe melihat ketakutan. Rakyat Kediri diperas darahnya untuk mendirikan punden-punden kemegahan Kertajaya.
Di Tumapel, seorang akuwu muda bersikap takzim memeluk kaki sang Brahmana tua. Ken Arok—lelaki berdarah panas dengan mata liar penuh ambisi.
“Dang Hyang,” ucap Ken Arok dengan nada menggema di pendopo Tumapel. “Berikan padaku legitimasi kekuasaan. Nyatakan bahwa wahyu Kerajaan Jawa telah berpindah dari Kediri ke Tumapel. Maka, aku dan pasukan Bhayangkara akan meratakan Daha demi membela kehormatanmu.”
Lohgawe memandang Ken Arok. Ia melihat takdir lelaki muda ini. Sebuah api ambisi yang tak kalah membahayakan dari Kertajaya. Namun, di antara kegilaan seorang raja yang mengaku dewa dan ambisi seorang pemuda yang haus takhta, Lohgawe harus memilih racun yang akan meminum nyawa peradabannya.
“Arok... kau tahu apa yang kau minta dari orang tua bangka ini?” suara Lohgawe bergetar hebat. “Kau tidak Cuma minta doaku. Kau minta aku menyuruh anak-anak petani di desa, anak-anak yang kemarin masih memegang cangkul, untuk pergi saling gorok leher di tanah Ganter. Darah mereka, Arok... darah mereka nanti akan menempel di tanganku. Dan di tanganmu.”
“Tapi Kediri harus runtuh, Guru! Bukankah hukum karma harus ditegakkan?” potong Ken Arok.
Lohgawe memejamkan mata. Di dalam benaknya, ia sudah melihat masa depan: Padang Ganter yang dipenuhi bangkai, bau amis darah yang menyengat, dan jerit histeris para janda yang kehilangan suami.
Dengan tangan gemetar, Lohgawe menumpangkan tangannya di atas kepala Ken Arok. Air matanya menetes, jatuh di dahi sang Akuwu.
“Atas nama Trimurti... kuberikan kau jalan untuk menuntaskan takdir ini. Pergilah ke Padang Ganter. Tetapi ingatlah, Arok... kerajaan yang berdiri di atas genangan darah sesama saudara, kelak akan selalu dahaga akan darah keturunannya sendiri.”
Tahun 1222 Masehi. Padang Ganter memerah.
Awan hitam bergulung di atas padang rumput yang luas itu. Bunyi benturan tameng perunggu, denting keris, dan jerit kesakitan ribuan prajurit memecah cakrawala. Pasukan Tumapel dan Kediri bertabrakan laksana dua gelombang laut yang menghantam karang.
Dari atas bukit kecil, Lohgawe duduk bersila. Mpu Sanggama berada di sampingnya, memegang pusaka kitab lontar yang tersisa.
Di padang pertempuran di bawah sana, Lohgawe melihat penderitaan yang mengerikan. Mahisa Walaputra, panglima Kediri yang gagah berani, tewas tertembus tombak di dadanya. Adik Raja Kertajaya, Gubah Barat, roboh bersimbah darah di atas tanah lumpur. Ribuan pemuda desa yang minggu lalu masih membajak sawah, kini saling memotong leher demi ego dua penguasa.
“Lihatlah, Sanggama...” tangis Lohgawe pecah, dada tua itu naik turun dalam ratapan yang amat memilukan. “Lihatlah dosa guru tua ini. Tangan inilah yang memantik api di Ganter. Tangan inilah yang menumpahkan darah anak-anak bangsa ini!”
“Tidak, Guru... Ini adalah kehendak Devata untuk membersihkan Kediri...” hibur Sanggama sambil menangis.
Lohgawe menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetar. Bau hanyir darah menusuk hidungnya begitu tajam hingga ia terbatuk-batuk, muntah di atas tanah.
“Sanggama... hentikan mereka...” rintih Lohgawe, suaranya parau, meremas tanah Ganter yang kadung basah oleh darah hangat. “”Tutup mataku, Sanggama! Aku tidak sanggup melihatnya lagi! Itu... di bawah sana, itu anak-anak yang dulu sering kuberi makan nasi jagung di candi... Kenapa mereka saling bunuh?! Dewa mana yang mau melihat bangkai manusia bertumpuk seperti ini?! Tidak ada! Ini Cuma kegilaan Kertajaya... dan dosa guru jahanammu ini!”
“Guru, tenanglah... Jangan pandangi medan perang itu lagi, Guru...” Mpu Sanggama memeluk pundak gurunya yang kurus kering, air matanya sendiri sudah menetes deras.
Namun, pandangan Lohgawe mulai kabur. Kebisingan gemerincing pedang dan jerit kematian di Padang Ganter perlahan-lahan meredup, tenggelam dalam degup jantungnya yang makin lambat dan berat.
Thump. Thump. Thump.
Di dalam kegelapan mata yang kian memberat, pikiran Lohgawe justru terlempar jauh ke belakang. Puluhan tahun silam.
Ia melihat dirinya sendiri sewaktu masih berusia belasan tahun—seorang cantrik muda dengan pakaian putih bersih, duduk di samping ayahnya di bawah naungan pohon nagasari di Candi Gurah. Hari itu udara hangat, bau dupa terasa begitu menenangkan. Ayahnya, dengan senyum teduh, memegang tangannya dan mengajarinya menatah batu arca Siwa.
“Ingat, Lohgawe,” suara ayahnya bergema lembut dari masa lalu, “tugas seorang Brahmana adalah untuk menjaga agar nurani manusia tidak mati di tengah zaman yang kian gelap.”
Nurani...
Seketika, kilasan indah itu hancur. Bayangan wajah ayahnya berganti menjadi wajah Kertajaya yang tertawa gila di atas tombak, dan wajah Ken Arok yang tersenyum haus darah saat menerima restunya.
Dua orang anak muda. Dua penguasa. Dan dirinya—seorang tua penakut yang gagal menjaga nurani itu.
Raja Kertajaya, melihat pasukannya tumpas dan panglimanya gugur, melarikan diri ketakutan menuju punden tinggi untuk bersembunyi. Kediri telah runtuh. Singhasari telah lahir.
Namun, tidak ada kemenangan dalam hati Dang Hyang Lohgawe.
Sore harinya, tatkala pertempuran mereda dan burung-burung pemakan bangkai mulai memutari Padang Ganter, Ken Arok berjalan menghampiri bukit tempat Lohgawe berada. Ken Arok tersenyum, mahkota kejayaan seolah sudah ada di genggamannya.
“Guru! Kita menang! Kediri telah takluk! Kau terbalaskan!” seru Ken Arok.
Namun, tidak ada satu katapun terucap sebagai jawaban.
Dang Hyang Lohgawe masih duduk bersila, menghadap ke arah Padang Ganter. Matanya terbuka melotot, menatap ribuan mayat prajurit yang terkapar. Namun, tak ada lagi napas yang berembus dari dadanya.
Jantung sang Brahmana tua telah berhenti berdetak di tengah kecamuk perang. Wafat dalam penyesalan yang membakar jiwanya—mati bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Kediri. Di telapak tangannya yang kaku dan menggenggam tanah, terukir tulisan dengan darahnya sendiri sebelum ia mengembuskan napas terakhir:
“Penguasa gila gila dipuja, Brahmana penakut restui perang. Yang mati... tetaplah anak-anak kita. Ampuni aku, Bhumi Jawa.”
Mpu Sanggama bersimpuh memeluk jasad gurunya, meratapi sang Brahmana yang memilih mati membawa beban dosa sebuah bangsa, meninggalkan Jawa yang baru saja memasuki era baru—era yang dibangun di atas fondasi takdir bertinta darah.
Selesai.
*****
Tentang Penulis
Pemilik akun Instagram @adit_widodoputra. Seorang penulis lintas bidang berusia 18 tahun dari Kota Semarang—kota yang mengajarkan saya bahwa pantai dan perbukitan bisa berdampingan dalam satu pandangan, sebagaimana suka dan duka bisa tinggal bersama dalam satu dada. Beberapa karya telah dimuat di Langgam Pustaka, Halimun Salaka, Suara Aisyiyah, Muhammadiyah Jawa Tengah, Nyimpang.com, Kumparan, dan beberapa platform lainnya.


