Lapangan yang Tak Boleh Hilang
Cerita Ainul Yaqin
Di sebuah desa yang damai, terdapat sebuah tanah lapang yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga selama puluhan tahun. Di sanalah anak-anak bermain sepak bola, para ibu mengadakan senam, para petani berkumpul seusai panen, dan warga menggelar berbagai acara desa. Namun suatu hari, muncul kabar bahwa lapangan itu akan digusur untuk dibangun Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Sekelompok sahabat kecil yang mencintai lapangan tersebut pun bertekad mempertahankannya. Dengan keberanian, kecerdikan, dan kerja sama, mereka membuktikan bahwa suara anak-anak pun layak didengar.
Matahari sore mulai condong ke barat ketika suara tawa anak-anak memenuhi sebuah tanah lapang di Desa Harapan. Lapangan itu bukan sekadar hamparan rumput dan tanah merah. Di sanalah ribuan kenangan tumbuh.
Setiap sore, bola plastik lusuh selalu bergulir dari kaki ke kaki. Debu beterbangan setiap kali seseorang mencetak gol. Tidak ada tribun, tidak ada lampu stadion, bahkan garis lapangannya hanya dibuat dari kapur seadanya. Namun bagi anak-anak desa, tempat itu lebih berharga daripada stadion mana pun.
Empat sahabat selalu menjadi penghuni setia lapangan itu.
Raka adalah anak yang cerdas. Ia gemar membaca buku di perpustakaan sekolah dan selalu tahu cara menyelesaikan masalah.
Bimo adalah anak paling pemberani. Ia tidak takut memanjat pohon tertinggi ataupun menolong anak yang jatuh ke sungai.
Sementara Ucup terkenal sangat usil. Hampir setiap hari ada saja tingkah lucunya yang membuat semua orang tertawa, meskipun kadang membuat teman-temannya geleng-geleng kepala.
Terakhir ada Sinta, anak perempuan yang tenang dan pandai menggambar. Ia sering membuat poster dan hiasan untuk berbagai kegiatan sekolah.
Keempat sahabat itu hampir tidak pernah absen bermain di lapangan desa.
Bagi mereka, lapangan itu adalah tempat belajar bekerja sama, belajar menerima kekalahan, belajar meminta maaf, bahkan belajar bermimpi menjadi pemain sepak bola hebat.
Yang lebih penting lagi, lapangan itu memang milik desa.
Sejak zaman kakek-nenek mereka, tanah itu digunakan untuk kepentingan masyarakat. Di sanalah warga mengadakan lomba tujuh belas Agustus, pasar malam, latihan pencak silat, pengajian akbar, hingga tempat berkumpul saat terjadi banjir.
Karena itulah semua orang menyebutnya "Lapangan Rakyat."
Suatu pagi suasana desa mendadak berubah.
Sebuah papan besar berdiri di pinggir lapangan.
Tulisan di atasnya berbunyi:
"Lokasi Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih."
Anak-anak membaca tulisan itu berulang kali.
"Apa maksudnya?" tanya Ucup.
Raka mengernyit.
"Sepertinya lapangan ini akan dibangun gedung."
Bimo langsung berdiri.
"Kalau dibangun gedung, kita main di mana?"
Tak ada yang mampu menjawab.
Hari-hari berikutnya kabar itu semakin jelas.
Beberapa orang dewasa mengatakan pembangunan akan segera dimulai.
Sebagian warga mendukung karena berharap koperasi dapat meningkatkan perekonomian desa.
Namun sebagian warga lain bertanya-tanya mengapa harus membangun di satu-satunya lapangan umum yang selama ini dipakai bersama.
Anak-anak mulai sedih.
Setiap kali bermain bola, mereka memandang papan proyek itu dengan hati cemas.
Suatu sore mereka berkumpul di bawah pohon beringin.
"Kita tidak boleh diam," kata Bimo.
"Tapi kita kan cuma anak-anak," jawab Ucup.
Raka berpikir cukup lama.
"Lalu kenapa kalau kita anak-anak? Lapangan ini juga milik kita sebagai warga desa."
Mereka pun mulai menyusun rencana.
Langkah pertama adalah mencari sejarah lapangan itu.
Mereka mendatangi Pak Rahman, tetua desa yang usianya hampir delapan puluh tahun.
Pak Rahman tersenyum melihat kedatangan mereka.
Beliau menceritakan bahwa lapangan itu dahulu merupakan tanah kas desa yang memang disiapkan sebagai ruang bersama masyarakat.
"Banyak keputusan penting desa lahir di tempat itu," katanya.
"Bahkan dulu saat kemarau panjang, warga berkumpul di sana untuk bergotong royong membuat saluran air."
Raka mencatat semua cerita itu.
Sinta menggambar lapangan lengkap dengan berbagai kegiatan masyarakat.
Sementara Ucup memotret warga yang sedang senam pagi, anak-anak bermain bola, dan remaja latihan pencak silat.
Mereka mengumpulkan semuanya menjadi sebuah album sederhana.
Belum puas sampai di situ, mereka membuat daftar tanda tangan warga yang masih ingin lapangan tetap dipertahankan.
Ternyata banyak warga yang bersedia menandatangani.
"Kalau memang bisa dibangun di tempat lain, kenapa harus di sini?" kata seorang ibu.
"Kami juga butuh tempat olahraga," ujar seorang bapak.
Melihat dukungan warga, semangat anak-anak semakin besar.
Namun perjuangan mereka tidak mudah.
Beberapa orang dewasa menganggap mereka terlalu ikut campur.
"Ini urusan orang besar," kata seseorang.
Ucup sempat kecewa.
"Ternyata kita tidak dianggap."
Raka menepuk bahunya.
"Kalau niat kita baik, jangan berhenti."
Mereka kemudian mengadakan pertandingan sepak bola persahabatan yang diikuti anak-anak dari desa tetangga.
Di sela pertandingan, Sinta memasang pameran gambar berisi sejarah lapangan desa.
Anak-anak juga membuat pertunjukan kecil yang menggambarkan bagaimana lapangan menjadi tempat semua warga berkumpul sejak dahulu.
Acara itu ternyata menarik perhatian banyak orang.
Bahkan kepala desa ikut datang.
Beliau melihat ratusan warga memenuhi lapangan.
Ada anak-anak bermain bola.
Ada ibu-ibu senam.
Ada bapak-bapak berlatih voli.
Ada lansia berjalan santai mengelilingi lapangan.
Semua menggunakan tempat yang sama tanpa saling mengganggu.
Kepala desa mulai berpikir.
Beliau menyadari bahwa lapangan itu memang memiliki nilai sosial yang sangat besar.
Setelah acara selesai, Raka dengan sopan menyerahkan album berisi sejarah lapangan, gambar-gambar, serta tanda tangan warga.
"Kami tidak menolak adanya koperasi," katanya pelan.
"Kami hanya berharap koperasi bisa dibangun di tempat lain agar desa tetap memiliki ruang bersama."
Suasana menjadi hening.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada kemarahan.
Hanya suara anak-anak yang berbicara dengan penuh harapan.
Beberapa hari kemudian pemerintah desa mengadakan musyawarah terbuka.
Warga diundang menyampaikan pendapat.
Pak Rahman menjelaskan sejarah lapangan.
Para ibu menjelaskan manfaatnya untuk kesehatan.
Karang taruna menjelaskan pentingnya ruang olahraga.
Anak-anak pun diberi kesempatan berbicara.
Mereka menceritakan bagaimana lapangan telah mengajarkan persahabatan, disiplin, dan kerja sama.
Musyawarah berlangsung lama.
Akhirnya disepakati bahwa pembangunan koperasi tetap dilanjutkan, tetapi dipindahkan ke lokasi lain yang masih merupakan aset desa dan tidak menghilangkan fungsi ruang publik.
Keputusan itu disambut tepuk tangan panjang.
Anak-anak saling berpelukan.
Bimo mengangkat bola tinggi-tinggi.
"Kita berhasil!"
Ucup melompat kegirangan hingga terpeleset di rumput, membuat semua orang tertawa.
Sinta tersenyum sambil menggambar suasana bahagia itu di buku sketsanya.
Sejak hari itu lapangan semakin ramai.
Pemerintah desa bahkan memperbaiki permukaannya, memasang gawang baru, menanam pohon peneduh, serta membuat lintasan kecil untuk olahraga warga.
Di pintu masuk lapangan dipasang sebuah papan bertuliskan:
"Lapangan Rakyat Desa Harapan. Ruang Bersama untuk Semua."
Empat sahabat itu kembali bermain bola setiap sore.
Namun kini mereka memahami bahwa lapangan bukan hanya tempat mengejar bola.
Lapangan adalah tempat orang-orang belajar hidup bersama.
Mereka juga belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti melawan dengan marah.
Keberanian bisa berarti menyampaikan pendapat dengan sopan, mencari fakta, mendengarkan orang lain, dan bekerja sama demi kepentingan bersama.
Persahabatan mereka pun semakin erat.
Raka semakin yakin bahwa ilmu dapat membantu menyelesaikan masalah.
Bimo belajar bahwa keberanian harus disertai kebijaksanaan.
Ucup belajar bahwa kelucuan tetap penting, tetapi kesungguhan juga dibutuhkan ketika memperjuangkan sesuatu yang berharga.
Sinta percaya bahwa gambar dan cerita mampu menyentuh hati banyak orang.
Ketika matahari kembali tenggelam di ufuk barat, bola kembali bergulir di atas tanah merah yang sama.
Debu kembali beterbangan.
Gelak tawa kembali memenuhi udara.
Lapangan itu tetap menjadi milik semua orang.
Dan selama anak-anak masih berlari mengejar mimpi di atasnya, harapan akan selalu tumbuh di Desa Harapan.
Tamat.


