Kami, Rakyat yang Masih Berdiri


Sajak Syaf Anton Wr

I

Kami adalah suara yang bangun lebih awal daripada matahari, menyalakan dapur dengan sisa harapan, mengaduk kecemasan bersama harga yang terus mendaki, sementara upah tetap dipaku di tanah.

Setiap pagi kami menghitung receh, bukan untuk bermimpi, melainkan sekadar memastikan hari ini masih bisa dilewati.

Maka kami bertanya kepada langit: negeri macam apakah yang menyebut dirinya makmur apabila fajar lebih sering membawa kegelisahan daripada rasa syukur?

II

Kami melihat negeri ini berdandan megah dengan gedung yang menjulang, jalan yang membelah gunung, dan pidato yang dipenuhi kata "kemajuan".

Namun di balik kemilau itu, seorang ibu menawar harga beras dengan mata yang basah, seorang ayah menyembunyikan cemas di balik senyumnya, petani memanen kerugian, nelayan mengangkat ombak lebih banyak daripada ikan, dan buruh pulang membawa tubuh yang habis diperas tanpa mampu membeli ketenangan.

Negeri ini membangun istana yang tinggi, tetapi lupa memperkokoh rumah rakyat yang menjadi fondasinya.

III

Tanah ini kaya. Gunungnya subur, lautnya luas, hutannya hijau, perut buminya menyimpan berkah yang tak habis-habis.

Namun kekayaan itu mengalir ke meja yang sama, ke tangan yang sama, kepada mereka yang menjadikan jabatan sebagai jalan tercepat menuju kemewahan.

Rakyat yang mencangkul tanah hanya memanen lelah, sementara mereka yang tak pernah berkeringat memanen angka-angka yang tak sanggup dihitung.

Betapa ironis, negeri yang dipuji karena kekayaannya justru membesarkan kemiskinan di rumahnya sendiri.

IV

Korupsi tak lagi berjalan sembunyi seperti pencuri malam. Ia kini mengenakan jas yang rapi, berbicara tentang pengabdian, tersenyum di depan kamera, lalu menggarong masa depan dengan pena yang bertinta emas.

Yang dicuri bukan sekadar uang negara, melainkan sekolah yang tak selesai dibangun, rumah sakit yang kehilangan obat, jalan yang tetap berlubang, sawah yang kehilangan air, dan mimpi anak-anak yang dikalahkan oleh keserakahan orang-orang dewasa.

Di negeri ini, kadang yang paling keras dihukum adalah lapar, sementara kerakusan justru diberi kehormatan.

V

Lalu agama dipanggil ke mimbar-mimbar kekuasaan. Ayat dibaca dengan lantang, doa dipanjatkan dengan khusyuk, nama Tuhan disebut berkali-kali.

Namun setelah kamera dimatikan, nurani ikut dipadamkan. Agama berubah menjadi pakaian yang dikenakan saat sorotan datang, bukan cahaya yang menuntun langkah ketika tak ada yang melihat.

Kesalehan dipamerkan melalui simbol, sementara kejujuran perlahan dibiarkan mati dalam hati yang telah lama bersekutu dengan kepentingan.

VI

Kepada kami selalu diajarkan satu kata: bersabar. Bersabar ketika harga naik. Bersabar ketika pekerjaan hilang.

Bersabar ketika sekolah menjadi mahal dan rumah sakit terasa semakin jauh. Tetapi sampai kapan kesabaran dijadikan jawaban bagi luka yang sengaja dipelihara?

Sampai kapan rakyat diminta memahami keadaan, sementara mereka yang berkuasa tak pernah benar-benar memahami kehidupan rakyat? Ketika penguasa mulai menertawakan keluhan, saat itulah kekuasaan berhenti menjadi amanah dan berubah menjadi kesombongan.

VII

Padahal kami tidak meminta langit menurunkan emas, tidak meminta bumi memuntahkan permata. Kami hanya ingin hasil kerja kami tidak dijarah, hukum tidak memilih dompet, jabatan tidak diwariskan kepada kerakusan, dan agama kembali menjadi cahaya yang menuntun manusia, bukan topeng yang menyembunyikan dosa.

Kami hanya ingin negara mengingat bahwa setiap kursi kekuasaan berdiri di atas keringat rakyat, bukan di atas tepuk tangan para penjilat.

VIII

Sesungguhnya negeri ini tidak kekurangan kekayaan, tidak kekurangan kecerdasan, dan tidak kekurangan orang-orang yang rela bekerja demi masa depan bangsanya. Yang semakin langka adalah rasa malu.

Ketika dusta dipoles menjadi prestasi, pengkhianatan dipasarkan sebagai strategi, dan keserakahan dirayakan sebagai kecerdikan, maka sesungguhnya yang bangkrut bukan hanya negara, melainkan nurani manusianya.

IX

Namun ingatlah, wahai mereka yang hari ini berdiri di puncak kekuasaan. Waktu adalah hakim yang tak dapat disuap, sejarah adalah kitab yang tak mengenal penghapus, dan ingatan rakyat adalah api yang tak akan padam.

Kelak jabatan akan menjadi debu, baliho akan lapuk, pidato akan hilang ditelan angin. Yang tinggal hanyalah satu pertanyaan yang akan diajukan sejarah kepada setiap pemegang kuasa: ketika rakyatmu lapar, ketika bangsamu terluka, ketika negerimu menangis—di pihak siapakah engkau berdiri?

Dan kami...

Kami tetap berdiri.

Dengan luka yang belum sembuh.

Dengan harapan yang berkali-kali dikhianati.

Dengan cinta yang tak pernah selesai kepada negeri ini.

Sebab hanya rakyat yang benar-benar mencintai tanah airnya, yang sanggup bertahan meski berkali-kali disakiti oleh mereka yang mengaku paling mencintainya

Sumenep 2026

Tulisan terkait

Utama 9106778732656018908

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item