Kebaikan Guru Berbalas Rindu


Cerpen: Hadi Mulya

Pak Harun, usianya kini menginjak 58 tahun. Selama lebih dari 32 tahun, ia mengabdi sebagai guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA Negeri di kota kecil di Jawa Timur. Bagi ratusan bahkan ribuan siswa yang pernah duduk di bangkunya, Pak Harun bukan sekadar pengajar yang menyampaikan pelajaran. Ia adalah sosok yang sabar, adil, dan selalu berusaha mendorong setiap muridnya untuk bermimpi setinggi langit, meskipun kondisi ekonomi mereka sederhana.

Banyak murid yang pernah dibantu olehnya—ada yang diberi buku pelajaran, dibayarkan uang ujian, atau sekadar diberi nasihat ketika sedang kehilangan arah. Pak Harun melakukannya tanpa pamrih, menganggap itu sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai pendidik. Ia sering berkata, “Ilmu dan kebaikan yang kita berikan tidak akan pernah habis, justru akan terus tumbuh di hati orang yang menerimanya.”

Namun, kehidupan tidak selalu berjalan mulus. Beberapa tahun terakhir, Pak Harun menghadapi tekanan ekonomi yang berat. Penghasilannya sebagai guru pensiun tidaklah besar, ditambah lagi ia harus menanggung biaya pengobatan istrinya yang sering sakit-sakitan. Puncaknya datang ketika putra bungsunya, Dika, berhasil lulus seleksi masuk perguruan tinggi negeri favorit. Kebahagiaan itu segera berubah menjadi kekhawatiran mendalam saat melihat rincian biaya yang harus dibayar sebagai Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan biaya pendaftaran. Jumlahnya cukup besar dan harus dilunasi dalam waktu kurang dari dua minggu.

Pak Harun telah berusaha menjual barang-barang yang tidak terpakai, meminjam ke kerabat dekat, dan mengumpulkan tabungan yang tersisa. Namun, jumlahnya masih kurang sekitar 8 juta rupiah. Malam demi malam ia tidak bisa tidur, memikirkan nasib anaknya yang bisa saja kehilangan kesempatan kuliah hanya karena masalah biaya. Hatinya terasa perih, merasa gagal sebagai orang tua sekaligus malu harus meminta bantuan ke orang lain.

Hingga suatu sore, sambil memegang buku kenangan sekolah lama, matanya tertuju pada daftar nama-nama mantan murid. Salah satu nama yang muncul adalah Raka, murid angkatan tahun 2005 yang dulunya sangat rajin namun berasal dari keluarga kurang mampu. Dulu, Pak Harun sering membantunya membayar biaya praktik dan menyediakan buku bacaan agar ia tetap bisa bersekolah. Kini, dari kabar yang didengar, Raka sudah sukses bekerja di perusahaan besar dan memiliki usaha sendiri.

Dengan tangan gemetar dan hati yang penuh keraguan, Pak Harun akhirnya memberanikan diri mencari nomor telepon Raka. Ia menekan tombol panggilan, berharap mantan muridnya itu masih mengingatnya, dan berdoa agar tidak dianggap mengganggu.

“Selamat sore, apakah benar ini Raka?” suara Pak Harun terdengar pelan dan sedikit terbata.

“Benar, Pak. Siapa yang berbicara?” jawab Raka dari seberang sambungan dengan nada sopan.

“Ini Harun, guru Bahasa Indonesia kamu dulu di SMA. Maaf sekali mengganggu waktumu, Nak. Aku benar-benar sungkan menghubungimu dalam situasi seperti ini…”

Belum sempat Pak Harun melanjutkan, Raka langsung menyela dengan nada antusias, “Pak Harun! Tentu saja saya ingat Bapak! Bagaimana kabar Bapak? Sudah lama sekali tidak bertemu. Jangan sungkan, Pak, ada apa saja boleh dikatakan.”

Dengan perasaan yang campur aduk antara malu dan putus asa, Pak Harun menceritakan kesulitan yang sedang dihadapinya. Ia menyampaikan dengan jujur bahwa ia hanya membutuhkan pinjaman sejumlah uang, dan berjanji akan mengembalikannya secara bertahap begitu ia memiliki rezeki lebih.

Sepanjang penjelasan itu, Pak Harun bisa mendengar napas Raka yang tenang mendengarkan. Ketika ia selesai berbicara, ada keheningan singkat. Lalu, suara Raka terdengar lembut namun tegas, “Pak, terima kasih Bapak masih percaya untuk menghubungi saya. Bapak tidak perlu merasa sungkan sedikit pun.”

Setelah percakapan berakhir, Pak Harun masih merasa cemas. Ia tidak menyangka bahwa hanya dalam waktu satu jam, teleponnya kembali berdering. Kali ini bukan hanya dari Raka, melainkan dari beberapa mantan murid lainnya yang juga ia kenal. Ternyata, Raka menceritakan keadaan Pak Harun ke grup alumni sekolah yang masih sering berkomunikasi.

Reaksi mereka melampaui segala dugaan. Dalam waktu singkat, para mantan murid itu sepakat untuk berpatungan. Tidak lama kemudian, notifikasi masuk ke rekening Pak Harun. Jumlahnya bahkan lebih dari cukup untuk membayar seluruh biaya kuliah Dika dan kebutuhan awal masuk kampus.

Tidak berhenti sampai di situ, Raka menelepon kembali dan berkata dengan nada tulus, “Pak, ini bukan pinjaman. Ini adalah bentuk terima kasih kami semua. Dulu, Bapak membimbing kami tanpa meminta balasan apa pun. Sekarang, izinkan kami sedikit membalas kebaikan Bapak. Uang ini tidak perlu dikembalikan. Semoga Dika bisa menuntut ilmu setinggi mungkin, sama seperti yang Bapak ajarkan kepada kami dulu.”

Mendengar kalimat itu, hati Pak Harun yang selama ini terasa berat seketika melunak. Matanya berkaca-kaca, dan tak lama kemudian air matanya jatuh membasahi pipi. Ia menangis bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru yang mendalam. Ia tidak menyangka bahwa benih kebaikan yang ia tanam puluhan tahun lalu akan tumbuh menjadi bantuan yang datang tepat saat ia paling membutuhkan.

Keesokan harinya, beberapa mantan murid datang berkunjung ke rumah Pak Harun. Mereka membawa sedikit makanan dan duduk mengobrol layaknya keluarga. Melihat wajah-wajah yang pernah ia didik kini tumbuh menjadi orang yang sukses dan tetap rendah hati, Pak Harun merasa semua lelah dan pengorbanannya selama mengajar terbayar lunas.

“Terima kasih, anak-anakku. Kalian membuat Bapak sadar bahwa menjadi guru bukan hanya soal mengajar membaca dan menulis, tapi juga menanamkan rasa hormat dan kebaikan yang akan terus mengalir,” ucap Pak Harun sambil mengusap air matanya.

Kisah ini menyebar luas dan menyentuh hati banyak orang. Ia menjadi bukti nyata bahwa jasa seorang pendidik tidak akan pernah pudar seiring berjalannya waktu. Kebaikan yang diberikan dengan tulus akan selalu menemukan jalannya untuk kembali, mungkin dalam bentuk yang tidak pernah kita duga sebelumnya.(*)

Tulisan terkait

Utama 5787505108016447067

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item