Puisi Tidak Ditulis Untuk Semua Orang


Oleh: Malkan Junaidi

Banyak penyair tidak terima ketika dikatakan bahwa puisi ditulis untuk pembaca tertentu, seperti dikatakan bahwa tidak semua orang dapat memahami puisi.

Kenyataannya, puisi berada dalam lingkup bidang kajian khusus seperti semua pelajaran di sekolah, dan merupakan hal wajar andai setiap orang dalam hidupnya memusatkan perhatian hanya pada satu atau dua bidang kajian, dan sebagai konsekuensi wawasan mengenai bidang-bidang lain jadi sangat terbatas.

Yakni, bisa dimaklumi andai kebanyakan orang menolak untuk berusaha lebih keras memahami buku matematika, akuntansi, atau bahasa asing, dengan alasan semisal bahwa dalam keseharian mereka hampir tidak pernah secara langsung berurusan dengan disiplin keilmuan ilmu-ilmu tersebut, semisal karena profesi mereka adalah kuli angkut, petani garam, atau pemahat.

Kita tidak berhak memaksa penyair menulis untuk semua orang, tidak pula memaksa publik menyukai dan membutuhkan puisi.

Kehidupan makin kompleks, menuntut berbagai spesialisasi. Pendidikan, misalnya, mengerucut melalui penjurusan-penjurusan di perguruan tinggi, dengan tujuan menghasilkan tenaga ahli di bidang tertentu, yang relevan dengan tuntutan dunia kerja. Dan andai seseorang membuka bengkel khusus Vespa dan menolak menyervis bebek Honda, tentulah itu tidak berarti ia memandang rendah produk Jepang. Bisa jadi ia tidak memiliki keahlian yang dibutuhkan, atau memiliki namun mempertimbangkan peluang bisnis yang ada, seturut kehidupan modern yang kian tersegmentasi.

Demikianlah, di Indonesia dikenal dua jenis puisi: sosial dan eksperimental. So called. Yang pertama lazim dikaitkan dengan persoalan masyarakat dan gaya pengucapan sederhana. Yang kedua identik dengan ambisi menemukan gaya ucap otentik. Walau yang pertama umum dianggap sebagai produk untuk semua kalangan bukan berarti ia tak memiliki sejenis eksklusivitas.

Bagaimana bisa? Pertama, dibuat dengan gaya ucap paling sederhana sekalipun puisi sosial tak akan menjangkau mereka yang memang tak meminati puisi sama sekali. Kedua, potensinya untuk tidak memuaskan kaum eksperimental besar, sehingga ia sesungguhnya tidak bisa dikatakan untuk semua kalangan.

Menumbuhkan minat masyarakat yang tidak berminat bukan tugas pencipta karya seni. Timbul tenggelamnya minat juga sesungguhnya tidak berhubungan langsung dengan jenis puisi sederhana dan rumit, sosial dan eksperimental.

Minat terhadap karya seni adalah bagian dari dinamika kehidupan, suatu proses sangat kompleks yang mengubah cara pandang masyarakat. Ia, misalnya, melibatkan pemangku kebijakan di bidang pendidikan. Ketika kurikulum di sekolah difokuskan ke non-seni---ketika penguasaan terhadap ilmu Matematika, Kimia, Fisika, Ekonomi, IT, dan bahasa asing jadi prioritas di jenjang dasar (SD hingga SMA), maka itu berarti pembinasaan secara sistematis potensi sebuah generasi untuk menjadi para seniman dan penikmat karya sani.

Dan ketika ini dilakukan, nyaris otomatis ekosistem kesenian ikut rusak dan berakibat: cita-cita menjadi seniman menjadi hal tabu, rendahnya honor pemuatan di media dinormalisasi dengan bungkus ideologis (muncul kemudian narasi mengenai keagungan berkarya secara ikhlas), dan para sastrawan menjadi juru bicara bagi karya-karyanya sendiri.

Kerusakan demikian perlahan tapi pasti membuat kesenian makin terpinggirkan dan karya seni terdistribusikan pada kalangan terbatas, yang kian hari kian terbatas. Penyair memang tidak pernah dilarang untuk berharap tulisannya dibaca masyarakat luas, namun harapan seperti itu tentu dapat menyiratkan suatu sikap naif atau penyangkalan terhadap realitas sosial.

Diangkat dari akun FB Malkan Junaidi

Tulisan terkait

Utama 1974710108193228845

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item