Perempuan Madura dan Tanèyan Lanjhâng: Kekuatan Senyap di Balik Bangunan Kebudayaan Pulau Garam

Rumah Tanèyan Lanjhâng
Selama ini, masyarakat Madura sering dipahami melalui simbol-simbol maskulinitas yang kuat. Namun, di balik citra tersebut, terdapat ruang budaya yang memperlihatkan betapa sentralnya posisi perempuan dalam menjaga keberlangsungan keluarga, adat, dan nilai-nilai kehidupan. Melalui filosofi Tanèyan Lanjhâng, kita dapat melihat bahwa perempuan Madura bukan sekadar penghuni ruang domestik, melainkan pilar utama yang menopang struktur sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakat Madura.
Penulis: Zafira Fitria Al-Faizah
Studi mengenai kebudayaan Madura selama ini lebih banyak didominasi oleh narasi maskulinitas. Identitas etnis Madura kerap dilekatkan pada karakter tegas, keberanian, kehormatan, tradisi carok, hingga posisi laki-laki sebagai kepala keluarga sekaligus pemegang otoritas dalam ruang publik. Gambaran tersebut kemudian melahirkan stereotip bahwa masyarakat Madura menganut sistem patriarki yang sangat kuat sehingga perempuan diposisikan hanya sebagai pelengkap dalam kehidupan rumah tangga. Padahal, jika pengamatan diarahkan lebih jauh ke ruang sosial yang paling intim, yakni Tanèyan Lanjhâng, akan tampak sebuah kenyataan yang jauh lebih kompleks. Di balik deretan rumah tradisional yang berdiri memanjang itu, perempuan justru menjadi poros yang menggerakkan kehidupan keluarga dan menjaga kesinambungan kebudayaan.
Tanèyan Lanjhâng bukan sekadar pola permukiman tradisional, melainkan representasi dari sistem kekerabatan masyarakat Madura yang telah berkembang selama berabad-abad. Kompleks hunian ini terdiri atas sejumlah rumah yang tersusun memanjang dari barat ke timur, mengikuti urutan usia pernikahan anak-anak perempuan dalam sebuah keluarga besar. Setiap rumah berdiri menghadap halaman bersama yang menjadi ruang interaksi sosial seluruh anggota keluarga.
Keunikan sistem ini terletak pada pola tempat tinggal setelah pernikahan. Ketika seorang perempuan menikah, suaminya akan datang dan menetap di lingkungan keluarga sang istri. Dengan demikian, perempuan tetap berada di pusat jaringan keluarga besarnya, sementara laki-laki memasuki lingkungan sosial yang baru dan harus beradaptasi dengan budaya keluarga istrinya. Dalam perspektif antropologi, pola semacam ini memperlihatkan adanya kecenderungan matrilokal yang hidup berdampingan dengan struktur sosial yang secara formal tetap bersifat patriarkal.
Konsep tersebut menjadikan perempuan sebagai jangkar emosional keluarga. Mereka menjadi titik temu hubungan antargenerasi, penjaga kedekatan antarsaudara, sekaligus perekat hubungan sosial dalam lingkungan Tanèyan Lanjhâng. Halaman panjang bukan hanya ruang fisik, tetapi juga ruang kultural tempat nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Peran sentral perempuan semakin tampak dalam kehidupan ekonomi masyarakat Madura. Kondisi geografis Pulau Madura yang relatif kering dan kurang subur sejak dahulu mendorong banyak laki-laki merantau ke berbagai daerah, bahkan hingga ke luar pulau. Tradisi alajhâr atau merantau menjadi bagian dari strategi bertahan hidup masyarakat Madura. Ketika para suami meninggalkan kampung halaman dalam waktu yang panjang, perempuan mengambil alih berbagai tanggung jawab yang sebelumnya dibagi bersama.
Mereka tidak hanya mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak, tetapi juga mengelola lahan pertanian, memelihara ternak, berdagang di pasar tradisional, hingga mengatur seluruh keuangan keluarga. Tidak sedikit perempuan Madura yang menjadi penggerak usaha kecil berbasis rumah tangga, mulai dari produksi makanan khas, kerajinan, hingga perdagangan hasil pertanian. Dalam praktiknya, mereka menjalankan fungsi sebagai kepala rumah tangga secara de facto, meskipun secara administratif posisi tersebut tetap disandang oleh suami.
Kecakapan perempuan Madura dalam mengelola ekonomi keluarga telah lama dikenal. Mereka memiliki etos kerja tinggi, hidup sederhana, disiplin dalam mengatur pengeluaran, dan mampu mengelola hasil jerih payah suami yang merantau menjadi investasi jangka panjang, seperti membangun rumah, membeli lahan, membiayai pendidikan anak, atau menyelenggarakan kegiatan sosial keluarga. Ketangguhan ini menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi masyarakat Madura secara keseluruhan.
Selain sebagai penyangga ekonomi, perempuan Madura juga memainkan peran yang sangat penting dalam pewarisan nilai-nilai budaya dan religiusitas. Dalam falsafah hidup masyarakat Madura dikenal ungkapan Bhâpa’, Bhâbhu’, Ghuru, Ratoh, yaitu ayah, ibu, guru, dan pemimpin. Ungkapan ini menunjukkan urutan penghormatan yang menjadi pedoman moral dalam kehidupan sehari-hari.
Walaupun ayah ditempatkan pada urutan pertama secara simbolik, dalam praktik keseharian justru ibulah yang menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anak. Sejak usia dini, ibu memperkenalkan ajaran agama, membentuk karakter, mengajarkan sopan santun, menanamkan rasa hormat kepada orang tua, serta membiasakan anak menjalankan ibadah. Dari tangan seorang ibu pula lahir generasi yang memahami nilai kejujuran, kerja keras, kesederhanaan, dan tanggung jawab.
Di dalam kompleks Tanèyan Lanjhâng selalu terdapat kobhung atau langgar keluarga yang umumnya berada di bagian paling barat. Bangunan ini bukan sekadar musala, tetapi juga menjadi ruang musyawarah keluarga, tempat menerima tamu laki-laki, pusat pendidikan agama, serta lokasi berkumpul anggota keluarga dalam berbagai kesempatan. Meski aktivitas keagamaan banyak berlangsung di kobhung, perempuan tetap memegang peran besar sebagai penjaga ritme kehidupan spiritual keluarga. Mereka mengingatkan waktu salat, membimbing anak mengaji, menyiapkan berbagai kebutuhan ibadah, serta memastikan nilai-nilai agama hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Kedekatan emosional antara ibu dan anak membentuk kekuatan budaya yang sering kali tidak tampak di permukaan. Kekuasaan tersebut bukan lahir dari dominasi ataupun otoritas formal, melainkan dari keteladanan, kasih sayang, dan pengaruh moral yang terus hidup dalam keseharian keluarga. Inilah bentuk kepemimpinan yang bekerja secara halus, tetapi memiliki daya ikat yang sangat kuat.
Oleh karena itu, membaca kebudayaan Madura semata-mata dari simbol-simbol patriarki merupakan penyederhanaan yang kurang mencerminkan realitas sosialnya. Di balik citra maskulin yang sering ditampilkan, terdapat sistem kehidupan yang memberikan ruang sangat besar bagi perempuan untuk menjadi pengelola, penjaga, sekaligus penggerak utama kehidupan keluarga. Melalui Tanèyan Lanjhâng, terlihat bahwa perempuan Madura bukan sekadar penghuni ruang domestik, melainkan arsitek sosial yang memastikan keberlangsungan adat, ekonomi, pendidikan, dan spiritualitas masyarakat.
Perempuan Madura tidak selalu tampil di panggung kekuasaan formal. Namun, dari halaman panjang tempat mereka membangun keluarga, mendidik anak, mengelola ekonomi, dan merawat nilai-nilai kehidupan, mereka sesungguhnya sedang menopang fondasi kebudayaan Pulau Garam. Mereka adalah kekuatan yang bekerja dalam diam, tetapi pengaruhnya begitu besar. Tanpa kehadiran mereka, Tanèyan Lanjhâng tidak akan sekadar kehilangan penghuninya, melainkan juga kehilangan ruh yang selama ini menjaga kebudayaan Madura tetap hidup, kokoh, dan mampu bertahan melintasi perubahan zaman.
Editor: Syaf Anton Wr
****
Zafira Fitria Al-Faizah HT lahir dan besar dalam budaya Melayu Palembang yang membentuk karakter santun dan teguh memegang jati diri. Kini menempuh pendidikan di Universitas Al-Amien Prenduan, Madura, sambil memperdalam ilmu agama dan mengembangkan diri sebagai pembelajar yang gemar membaca, merenung, dan menulis. Bertekad kelak kembali mengabdi kepada masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhurnya.
Instagram: @zafirafitriaalfaizah
Email: Zafira Fitria Al-Faizah@gmail.com

