Selalu Ada Tempat yang Allah Siapkan
Cerpen: Ahmad Rasyid el-Haromain
Dua hari lagi aku akan meninggalkan Madinah. Kota yang selalu membuat hati ingin pulang, sekaligus enggan berpisah.
Pagi itu, Jumat, aku masih duduk di kamar hotel sambil memandangi Kubah Hijau dari balik jendela.
"Mas, saya berangkat dulu ya, biar dapat tempat di dalam," pamit istriku.
Aku tersenyum.
"Masih jam berapa?"
"Tepat pukul sepuluh."
"Masya Allah... kalau begitu aku juga harus segera berangkat. Nanti malah kebagian tempat di... ujung planet."
Istriku tertawa kecil.
"Di Masjid Nabawi tidak ada ujung planet, Mas."
"Kalau terlambat, rasanya sama saja."
Tak lama kemudian aku mandi sunah Jumat, lalu berjalan menuju Masjid Nabawi dengan satu doa sederhana.
"Ya Allah, hari ini izinkan aku salat di dalam masjid."
Sesampainya di Gerbang 330, lautan manusia sudah memenuhi hampir seluruh pelataran. Polisi Arab Saudi mengangkat tangannya sambil berkata tegas,
"Yalla... yalla... move... move..."
Aku mengangguk.
"Na'am... na'am."
Dalam hati aku bergumam, kalau terus maju begini, jangan-jangan nanti sampainya ke ujung pintu depan.
Aku sendiri tersenyum mendengar pikiranku itu.
Namun langkahku mulai terasa berat. Sembilan bulan lalu aku terkena stroke. Paha dan pinggulku masih sering nyeri dan ngilu apabila berjalan jauh. Tongkat dan sandalku kutinggalkan di tempat penitipan dekat pintu depan, tempat aku pertama kali masuk sambil mengucapkan salam. Kini aku hanya bisa melangkah perlahan.
Setiap beberapa meter polisi kembali mengarahkan jamaah.
"Yalla... yalla..."
Aku mencoba berhenti.
Seorang polisi masjid menghampiri.
"No stop... move."
"Baik... baik...," jawabku sambil tersenyum.
Dalam hati aku berkata, Pak Polisi ini pasti belum tahu umur lutut dan pinggul saya.
Aku terus berjalan. Semakin jauh. Semakin padat.
Hatiku mulai bertanya,
"Ya Allah... aku harus duduk di mana kalau begini?"
Saat itulah tampak seorang jamaah Indonesia memanggilku sambil memberi isyarat tangan.
"Pak, ke sini!"
Aku menoleh.
"Wah, terima kasih."
"Ayo, cepat!"
Kami menyelinap mengikuti arus manusia. Namun ketika sampai di dalam, kondisinya ternyata sama. Hampir semua saf telah penuh.
Aku memandang ke kanan dan ke kiri. Tak ada ruang kosong. Dadaku mulai sesak.
"Ya Rabb... kalau memang tidak di dalam, aku ikhlas. Asal jangan jauh dari rahmat-Mu," seru batinku.
Tiba-tiba seorang pemuda berbaju hem berwarna biru, mungkin berusia sekitar dua puluh tujuh tahun—hampir seusia anak keduaku—berdiri dari tempat duduknya.
Ia tersenyum ramah.
"Silakan ganti tempatku, Pak."
Ia mempersilakanku duduk di sana.
Aku terkejut.
"Lho... bagaimana dengan Mas sendiri?"
Pemuda itu menggeleng.
"Nggak apa-apa. Saya masih kuat cari tempat."
Aku masih ragu.
"Benarkah?"
Ia malah tertawa kecil.
Kami sama-sama tersenyum.
Jamaah Indonesia yang tadi mengajakku ikut menimpali,
"Sudah, Pak. Duduk saja. Rezeki tempat ini memang untuk Pak Haji."
Air mataku mendadak mengalir.
Aku tak sempat menggenggam tangan pemuda itu. Ia sudah melangkah ke luar barisan.
"Semoga Allah membalas kebaikanmu," ucapku lirih.
"Aamiin."
Ia pun berjalan meninggalkan tempatnya, menyatu kembali dengan lautan manusia.
Aku duduk perlahan. Hatiku bergetar.
"Ya Allah... ternyata benar. Tempat ini Engkau yang siapkan."
Aku melaksanakan salat Tahiyyatul Masjid dengan isyarah. Setelah itu kulanjutkan salat Dhuha, berzikir, dan berdoa. Anehnya, hati yang semula gelisah berubah menjadi sangat tenang.
Waktu terasa berlari. Azan pertama salat Jumat pun berkumandang. Berselang sekitar sepuluh menit, azan kedua kembali berkumandang. Khutbah pun dimulai.
Ketika imam memimpin salat, beliau membaca Surah An-Nashr.
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan..."
Aku menundukkan kepala. Air mata kembali menitik.
Bukankah pertolongan Allah tidak selalu berupa sesuatu yang besar?
Kadang hanya sebidang sajadah.
Kadang hanya satu ruang untuk bersujud.
Kadang hanya hati seorang pemuda yang digerakkan untuk mempersilakan orang lain duduk.
Saat itulah aku benar-benar merasakan makna surah itu. Ketika pertolongan Allah datang, manusia hanya bisa memuji-Nya dan bersyukur.
Usai salat Jumat, aku berjalan pulang bersama arus jamaah. Di depan hotel kami menunggu lift.
Seorang jamaah yang sejak tadi bersamaku berseloroh,
"Pak, tadi dapat tempat di dalam. Sekarang semoga dapat tempat di lift."
Aku tersenyum.
"Aamiin. Jangan-jangan harus berdiri sampai lantai lima."
Belum selesai kami bercanda, pintu lift langsung terbuka.
Jamaah itu melongo.
"Lho... cepat sekali."
Aku tersenyum.
"Hari ini sepertinya Allah sedang mengajari kita."
"Mengajari apa, Pak Haji?"
"Kalau Allah sudah bilang ada tempat, pasti ada tempat."
Ia mengangguk pelan.
Aku melanjutkan,
"Tadi di masjid ada tempat untuk salat. Sekarang ada tempat di lift. Besok, insya Allah, Allah juga menyiapkan tempat terbaik bagi setiap hamba yang bertawakal kepada-Nya."
Kami sama-sama tersenyum.
Sesampainya di kamar hotel, aku duduk memandangi langit Madinah.
Hari itu aku memahami bahwa kecemasan sering lahir karena mata hanya melihat keramaian manusia.
Padahal, Allah melihat jalan yang belum mampu kita lihat.
Manusia boleh berkata,
"Sudah penuh."
Tetapi Allah mampu menggerakkan hati seorang hamba agar berdiri dan berkata,
"Silakan, Pak."
Begitulah cara Allah menolong orang yang berharap kepada-Nya.
Pertolongan itu datang tepat pada waktunya, dari arah yang tak pernah disangka.
Dan ketika pertolongan itu benar-benar hadir, yang pantas dilakukan hanyalah memuji Allah, memperbanyak istigfar, dan bersyukur, sebagaimana pesan indah dalam Surah An-Nashr.
Sebab, bagi orang yang bertawakal, selalu ada tempat yang telah Allah siapkan.
AmbuEnten, 5 Juli 2026


