Jangan Terus Menyalahkan Guru: Lihatlah Tiga Pilar Utama Pembentukan Karakter Anak
![]() |
| Wali murid sedang konsultasi dengan Guru BK tentang anaknya |
Seringkali kita menyaksikan fenomena yang menyedihkan: ketika karakter anak terlihat mengkhawatirkan atau prestasinya menurun, masyarakat maupun orang tua begitu cepat menuding jari kepada guru dan sekolah. Seolah-olah tanggung jawab mendidik anak sepenuhnya berada di pundak pendidik, padahal kenyataannya pendidikan adalah proses kolaborasi yang melibatkan banyak pihak. Pesan yang disampaikan oleh Haruna Rasyid mengingatkan kita untuk berhenti menyalahkan guru secara sepihak, dan mulai jujur menelusuri akar permasalahan pada tiga kelompok sejati yang paling berperan membentuk jiwa anak: keluarga, lingkungan hidup, dan masyarakat luas.
Mengapa Guru Tidak Bisa Disalahkan Sendirian?
Guru masuk dalam kehidupan anak dalam jam-jam tertentu dalam sehari, membimbing mereka di kelas, mengajarkan ilmu pengetahuan, dan berusaha menanamkan nilai-nilai kebaikan. Namun, guru tidaklah bekerja dari ruang hampa. Mereka menerima anak dengan segala latar belakang yang sudah terbentuk jauh sebelum melangkahkan kaki ke gerbang sekolah. Ada pepatah yang mengatakan: "Ibu adalah sekolah pertama bagi anak." Fondasi watak, kebiasaan dasar, dan cara berpikir anak mulai terbentuk di rumah, melalui interaksi harian, pembiasaan, dan kasih sayang orang tua.
Ketika anak masuk sekolah, guru memang mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi mereka tidak memulai dari nol mutlak. Jika fondasi di rumah rapuh, tugas guru menjadi jauh lebih berat, bahkan seringkali terasa seperti memperbaiki tembok yang sudah retak sejak awal. Maka, menyalahkan guru atas segala kekurangan anak adalah bentuk ketidakadilan, karena pendidik hanyalah salah satu bagian dari roda besar pendidikan ini.
Tiga Kelompok yang Sebenarnya Bertanggung Jawab
Jika kita ingin melihat penyebab mengapa karakter anak saat ini semakin mengkhawatirkan, kita harus berani menoleh kepada tiga kelompok utama ini:
1. Keluarga dan Orang Tua
Ini adalah fondasi yang paling utama. Di sinilah anak menghabiskan sebagian besar waktunya, meniru perilaku orang tua, menyerap suasana rumah, dan membangun kepercayaan diri. Seringkali orang tua terlalu sibuk hingga melupakan kehadiran yang bermakna bagi anak. Tidak sedikit yang berpikir bahwa menyekolahkan anak sudah cukup, lalu menyerahkan sepenuhnya masa depan mereka ke tangan guru. Padahal, kebiasaan kecil namun konsisten—seperti mendengarkan cerita anak, berbicara dengan sopan, atau meluangkan waktu berkualitas—jauh lebih kuat membentuk karakter daripada sekadar instruksi di kelas. Jika rumah tidak menjadi tempat belajar nilai luhur, maka sekolah akan kesulitan berjalan sendiri.
2. Lingkungan Hidup dan Pergaulan
Di luar rumah dan sekolah, anak dikelilingi oleh lingkungan yang tak terelakkan: teman bermain, tetangga, hingga pengaruh media dan teknologi yang tak terbatas. Lingkungan ini berbicara keras setiap hari, seringkali membawa nilai-nilai yang bertentangan dengan apa yang diajarkan di sekolah maupun di rumah. Jika lingkungan sekitar tidak mendukung pembentukan akhlak mulia, maka usaha guru dan orang tua akan tergerus. Seringkali anak terlihat bermasalah bukan karena diajarkan buruk oleh guru, melainkan karena terpengaruh oleh apa yang dia lihat dan dengar di luar sana.
3. Masyarakat Luas
Kita semua hidup dalam sistem sosial yang saling terhubung. Sikap masyarakat yang sering kali saling melempar tanggung jawab, kurangnya keteladanan tokoh publik, serta lemahnya pengawasan terhadap hal-hal yang tidak baik bagi perkembangan jiwa anak, turut menjadi faktor pemicu. Masyarakat cenderung menjadi pengamat yang kritis namun tidak mau turut bertindak. Kita ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang beretika, namun apakah kita menciptakan suasana sosial yang mendukung hal tersebut?
Berhenti Saling Lempar Tanggung Jawab
Menyalahkan guru adalah jalan pintas yang mudah, namun tidak menyelesaikan masalah. Selama kita masih sibuk mencari siapa yang salah, anaklah yang menjadi korban terbesar. Pendidikan adalah kerja sama yang erat: rumah sebagai akar, sekolah sebagai batang yang membimbing, dan masyarakat sebagai lingkungan yang menyehatkan pertumbuhan.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang hadir. Mereka tidak membutuhkan guru yang menyelesaikan segalanya, melainkan dukungan penuh dari lingkungan rumah. Mari kita dengarkan pesan Haruna Rasyid ini dengan hati terbuka: berhenti menyalahkan guru, dan mulai perbaiki apa yang menjadi tanggung jawab kita masing-masing—sebagai orang tua, sebagai lingkungan, dan sebagai masyarakat. Hanya dengan kebersamaan ini, karakter anak dapat tumbuh kuat dan terjaga dari hal-hal yang mengkhawatirkan.
(Tulisan ini dikembangkan berdasarkan pesan Haruna Rasyid)


