Menunggu Satu Jam, Bukan Ditunggu Satu Menit
Oleh Syaf Anton Wr
Ada kebiasaan yang kadang tumbuh tanpa kita sadari. Ia
bermula dari sesuatu yang sederhana, lalu berulang setiap hari, setiap minggu,
hingga akhirnya menjadi bagian dari cara kita menjalani hidup. Saya
mengalaminya sendiri. Sebuah kalimat yang saya baca berulang-ulang di sebuah
pendopo kecil Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan ternyata membentuk kebiasaan
saya selama lebih dari empat puluh tahun.
Awal tahun 1980-an, saya dipercaya membina komunitas seni
dan sastra para santri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep. Saya
membina dan melatih Sanggar Sastra Al-Amien dan Teater Hilal. Bagi saya, masa
itu bukan sekadar kegiatan mengajar. Ada banyak kenangan yang hingga kini masih
terasa dekat, terutama suasana latihan bersama para santri yang begitu disiplin
dan penuh semangat.
Pelatihan sastra biasanya kami laksanakan di sebuah gazebo
yang cukup luas, semacam pendopo kecil yang terbuat dari kayu dan berada di
depan masjid. Tempatnya sederhana, tetapi justru dari tempat sederhana itulah
banyak kenangan saya bermula. Para santri duduk melingkar membentuk tapal kuda,
sementara saya berada di tengah-tengah mereka sebagai pembina.
Hampir semua santri membawa buku catatan dan pena. Mereka
datang seperti anak-anak yang benar-benar sedang belajar. Wajah mereka serius,
tetapi suasananya tetap hidup. Ada pembacaan puisi, diskusi, latihan menulis,
pembahasan sastra, dan latihan teater dalam waktu berbeda. Semuanya berlangsung
dalam suasana yang sederhana, tetapi penuh gairah.
Yang paling saya kagumi adalah kedisiplinan mereka. Sebelum
saya memasuki arena pertemuan, mereka biasanya sudah duduk dengan rapi. Tidak
perlu dipanggil berkali-kali. Tidak perlu menunggu mereka berkumpul. Mereka
sudah siap. Begitu saya datang, kegiatan pembinaan pun segera dimulai.
Jadwal kami rutin seminggu sekali, setiap hari Senin setelah
salat Asar. Rutinitas itu berlangsung kurang lebih tiga tahun. Namun, dari
sekian banyak hal yang terjadi selama tiga tahun tersebut, ada satu hal kecil
yang ternyata justru bertahan paling lama dalam hidup saya.
Di bagian atas ruangan itu tertulis sebuah kalimat yang
sangat sederhana: “Lebih baik menunggu satu jam daripada ditunggu satu
menit.” Setiap kali memasuki tempat itu, entah mengapa saya selalu
mendongak dan membaca tulisan tersebut. Hari ini terbaca. Minggu depan terbaca
lagi. Minggu berikutnya terbaca lagi. Begitu terus, berulang-ulang.
Lama-lama kalimat itu seperti masuk ke dalam kepala saya.
Saya tidak pernah berniat menghafalnya, tetapi rupanya sesuatu yang
terus-menerus kita lihat bisa bekerja diam-diam. Saya seperti tersugesti.
Kalimat itu kemudian bukan lagi sekadar tulisan yang terpampang di dinding. Ia
berubah menjadi semacam pedoman kecil dalam kehidupan saya.
Lebih dari empat puluh tahun berlalu, ternyata pengaruhnya
masih terasa. Setiap kali ada janji bertemu seseorang, apalagi pertemuan
organisasi, saya hampir selalu datang sekitar lima belas menit lebih awal.
Kalau pertemuan dijadwalkan pukul sembilan, saya berusaha sudah berada di
lokasi sekitar pukul 08.45.
Kadang tempatnya masih kosong. Belum ada seorang pun yang
datang. Tidak ada masalah bagi saya. Saya tinggal duduk dan menunggu. Justru
kalau datang tepat waktu kemudian melihat orang lain sudah menunggu, saya
merasa kurang nyaman. Seolah-olah saya telah membuat orang lain kehilangan
waktunya.
Kebiasaan itu kemudian beberapa kali membawa saya ke situasi
yang cukup lucu. Pernah saya mendapat undangan untuk menjadi pembicara dalam
sebuah acara. Seperti biasa, saya datang lebih awal. Saya sudah berada di
tempat ketika ternyata panitia belum siap. Saya menunggu. Lima belas menit,
setengah jam, satu jam, dan akhirnya lebih dari dua jam.
Dalam hati saya sempat menggerutu. Saya teringat kalimat di
gazebo Al-Amien, lalu berpikir, “Sepertinya kalimat itu tidak pernah
menjelaskan bahwa menunggu juga ada batasnya.”
Yang lebih lucu, pernah pula ada pihak yang mengundang saya
dengan jadwal waktu yang sengaja dimundurkan. Acara sebenarnya berlangsung
pukul 09.00, tetapi surat undangan yang saya terima mencantumkan pukul 10.00.
Mungkin mereka sudah memahami kebiasaan saya yang suka datang lebih awal.
Baca juga: Disiplin: Cara Sederhana Menghargai Waktu, Janji, dan Diri Sendiri
Tetapi perhitungan mereka tidak sepenuhnya salah. Akibat
kebiasaan datang lebih awal, saya memang sering tiba sebelum acara dimulai.
Hanya saja, karena waktu undangan dibuat lebih lambat, kehadiran saya yang
biasanya terlalu awal akhirnya justru menjadi mendekati waktu pelaksanaan.
Sejak itu saya sering menyadari bahwa kebiasaan datang tepat
waktu ternyata bisa menjadi sesuatu yang lucu ketika berhadapan dengan budaya
molor. Saya datang sesuai jadwal, orang lain datang belakangan. Saya datang
lebih awal, panitia belum siap. Saya menunggu orang lain, sementara orang lain
mungkin merasa tidak ada masalah datang terlambat.
Tetapi saya tidak pernah benar-benar bisa mengubah kebiasaan
itu. Rasanya sudah terlalu melekat. Bahkan bukan hanya dalam pertemuan. Dalam
berbagai urusan, saya cenderung mempersiapkan sesuatu lebih awal. Ada semacam
dorongan dalam diri saya untuk menghindari kemungkinan terlambat.
Teman-teman akhirnya tahu kebiasaan tersebut. Mereka pun
sering menjadikannya bahan olok-olok. Salah satu julukan yang paling saya ingat
adalah “orang yang paling pertama masuk surga.” Saya tentu tertawa
mendengarnya. Saya tahu itu hanya candaan karena saya selalu datang paling
awal.
Tetapi di balik candaan itu, saya justru melihat ada
pelajaran sederhana yang telah saya bawa begitu lama. Sebuah kebiasaan bisa
terbentuk bukan hanya karena nasihat besar, tetapi juga karena sesuatu yang
sederhana dan terus diulang.
Dulu saya hanya membaca sebuah kalimat di dinding gazebo.
Saya tidak pernah menyangka kalimat itu akan ikut berjalan bersama saya
melewati puluhan tahun. Dari lingkungan pesantren, dunia sastra dan teater,
hingga berbagai pertemuan organisasi dan undangan sebagai pembicara.
Kini, ketika saya datang lebih awal dan harus duduk
sendirian menunggu acara dimulai, ingatan saya sering kembali ke masa itu. Saya
seperti melihat lagi para santri duduk melingkar dengan buku dan pena di
tangan. Saya berada di tengah mereka, sementara di atas kepala kami terpampang
kalimat yang sederhana tetapi kuat itu.
Empat puluh tahun lebih telah berlalu. Para santri telah
tumbuh dan menjalani kehidupan masing-masing. Saya pun sudah jauh meninggalkan
masa-masa tersebut. Tetapi satu hal ternyata tetap tinggal dalam diri saya:
kebiasaan menghargai waktu dengan berusaha datang lebih awal.
Mungkin itulah salah satu warisan kecil dari masa pembinaan
di Al-Amien yang tidak pernah saya rencanakan. Bukan teori sastra, bukan teknik
teater, dan bukan pula sebuah puisi. Melainkan sebuah kebiasaan sederhana
tentang menghargai waktu dan menghargai orang lain.
Dan sekarang saya baru menyadari, kalimat itu ternyata bukan
sekadar tulisan di dinding. Ia telah menjadi bagian dari diri saya. Selama
lebih dari empat puluh tahun, saya terus membawanya ke mana-mana.
“Lebih baik menunggu satu jam daripada ditunggu satu
menit.”
Barangkali karena terlalu lama memegang prinsip itu,
akhirnya saya mendapat gelar yang selalu membuat saya tersenyum: orang
paling pertama masuk surga.
Saya tidak tahu apakah julukan itu benar atau tidak. Tetapi kalau soal datang paling awal, mungkin teman-teman memang punya alasan untuk mengatakannya.


