Motor Tua Ayah


Cerpen Natasya

Dulu, aku pernah malu dijemput Ayah.

Bukan karena Ayah datang terlambat. Bukan pula karena aku tidak ingin pulang bersamanya. Aku hanya malu pada satu hal sederhana: motor tua yang selalu dibawanya.

Motor bebek itu sudah kusam. Catnya memudar, beberapa bagian bodinya penuh goresan, dan knalpotnya sering mengeluarkan asap tipis. Suaranya pun khas—berisik dan sedikit batuk-batuk ketika dinyalakan.

Setiap sore, motor itulah yang terparkir di dekat gerbang sekolah.

Dan setiap kali melihatnya, dadaku terasa sesak oleh rasa malu.

Teman-temanku pulang dengan mobil-mobil bagus. Ada yang dijemput sedan mengilap, ada yang menaiki mobil keluarga yang dingin oleh AC. Sementara aku harus menghampiri motor tua yang ditunggangi seorang lelaki dengan kemeja sederhana dan helm yang warnanya mulai pudar.

Ayah.

Suatu hari, ketika melihat beberapa teman berdiri di dekat gerbang, aku berkata pelan,

“Yah, nanti jemputnya jangan di sini.”

Ayah menoleh.

“Kenapa?”

Aku menunjuk jalan kecil di samping sekolah.

“Turunin aku di sana saja. Jangan tepat di depan gerbang.”

Ayah terdiam beberapa detik.

Aku masih ingat senyumnya.

Bukan senyum kecewa. Bukan pula senyum marah.

Hanya senyum kecil yang seolah mengatakan bahwa Ayah mengerti.

“Ya sudah,” katanya.

Sejak hari itu, Ayah selalu menungguku sedikit jauh dari gerbang.

Aku duduk di jok belakang, menjaga jarak dari teman-temanku. Kadang aku bahkan menundukkan kepala agar tidak ada yang mengenaliku.

Betapa bodohnya aku waktu itu.

Aku sibuk memikirkan bagaimana orang lain melihatku, tanpa pernah berpikir bagaimana perasaan Ayah melihat anaknya malu dibonceng olehnya.

Bertahun-tahun kemudian, aku kuliah di luar kota.

Jarak membuatku jarang pulang. Kesibukan membuat telepon kepada Ayah semakin jarang. Setiap kali menelepon, pertanyaanku hampir selalu sama.

“Sehat, Yah?”

“Sehat.”

“Motor masih dipakai?”

Ayah tertawa kecil.

“Masih. Motor ini bandel. Belum mau mati.”

Aku ikut tertawa.

Aku tidak tahu bahwa di balik jawaban sederhana itu tersimpan sebuah pengorbanan yang tidak pernah diceritakannya.

Sampai suatu hari, Ayah jatuh sakit.

Ibu yang akhirnya membuka cerita.

“Motor itu sebenarnya sudah lama ingin diganti,” kata Ibu.

Aku terdiam.

“Kenapa tidak diganti?”

Ibu tersenyum getir.

“Katanya, lebih baik uangnya untuk kuliahmu.”

Aku seperti kehilangan suara.

Ibu melanjutkan, “Setiap kali ada uang lebih, Ayahmu selalu bilang, ‘Nanti saja beli motornya. Anak kita lebih membutuhkan.’”

Aku menatap lantai.

Tiba-tiba semua kenangan berdesakan di kepala.

Motor tua itu.

Asapnya.

Suara mesinnya.

Jalan kecil di samping sekolah.

Dan seorang Ayah yang selalu tersenyum ketika anaknya meminta turun jauh dari gerbang.

Aku ingin menangis.

“Kenapa Ayah tidak pernah cerita?”

Ibu menjawab pelan, “Karena dia tidak pernah menganggap itu pengorbanan.”

Beberapa waktu kemudian, Ayah pergi untuk selamanya.

Aku pulang dengan mobil yang kubeli dari hasil pekerjaanku sendiri.

Mobil itu bagus. Nyaman. Tidak berasap. Tidak berisik.

Tetapi hari itu, untuk pertama kalinya, aku berharap bisa kembali menjadi anak SMA yang duduk di jok belakang motor tua Ayah.

Aku ingin mendengar suara mesinnya sekali lagi.

Aku ingin memeluk pinggang Ayah dan berkata,

“Yah, pulang sekarang.”

Namun waktu tidak pernah mau berputar kembali.

Aku berdiri di garasi rumah, memandangi mobilku.

Entah mengapa, mobil itu terasa begitu besar dan begitu kosong.

Dalam hati aku berkata,

Ayah, ternyata aku tidak pernah malu pada motor tua itu. Aku hanya terlalu muda untuk memahami arti perjuanganmu.

Kini aku tahu, motor tua itu bukan lambang kemiskinan.

Ia adalah kendaraan yang membawa seorang Ayah menjemput anaknya setiap hari.

Ia adalah saksi dari rupiah-rupiah yang disisihkan.

Ia adalah bukti bahwa ada seseorang yang rela menunda keinginannya agar anaknya bisa mengejar masa depan.

Dan jika hari ini aku boleh memilih satu kendaraan untuk membawaku pulang ke masa lalu, aku tidak akan memilih mobil mewah.

Aku akan memilih motor tua

(Terinpirasi dari posting akun FB Resep Hidup Ayah)

Tulisan terkait

Utama 429842753968384000

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon


Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item