Semuanya Bicara Hari Kemerdekaan
Sajak Refleksi Kemerdekaan Muhammad Sahli Abdi
“Semuanya Bicara Hari Kemerdekaan” karya Muhammad Sahli Abdi merupakan sajak reflektif yang mengajak pembaca melihat kembali makna kemerdekaan di balik gegap gempita perayaan 17 Agustus. Dengan bahasa yang lugas, kritis, dan sesekali metaforis, penyair tidak sekadar mengenang proklamasi, tetapi mempertanyakan apakah semangat kemerdekaan benar-benar telah hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Sajak ini menarik karena keberaniannya menempatkan simbol-simbol nasionalisme—bendera, upacara, Indonesia Raya, Garuda, hingga semboyan Bhinneka Tunggal Ika—dalam ruang perenungan yang lebih dalam. Di tengah kemeriahan perayaan, penyair justru menghadirkan pertanyaan: apakah kemerdekaan cukup diwujudkan melalui seremoni, slogan, dan unggahan di media sosial?
Kekuatan sajak ini terletak pada pergeseran makna “merdeka” dari sekadar peristiwa sejarah menuju pembebasan manusia dari keterbelakangan, ketakutan, kebencian, kemunafikan, dan belenggu nafsu. Kemerdekaan akhirnya dipandang sebagai perjalanan ruhani: mengembangkan, bukan menghancurkan; merelakan, bukan memaksakan.
Karena itu, sajak Muhammad Sahli Abdi layak dibaca bukan hanya sebagai puisi tentang kemerdekaan, melainkan sebagai cermin bagi kita untuk bertanya: sudah sejauh mana kita benar-benar merdeka? (red)
*****
Hari ini semua berbicara tentang ulang tahun lahirnya republik ini
Tujuh puluh lima tahun yang lalu
Tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima
Soekarno Hatta membacakan proklamasi atas nama bangsa Indonesia
Rakyat Indonesia menyambut dengan suka cita
Di usia yang ke tujuh puluh lima
Kampung-kampung sampai kota kelap kelip lampu dihiasi warna merah putih
Memekikkan kata merdeka ibarat para pejuang yang memanggul senjata
Hanya cukup dengan mengepalkan tangan kemudian hilang di balik kegelapan Sepertinya hanya mengerek bendera lalu diturunkan ketika malam tiba
Cuma sekedar hormat dan menyanyikan Indonesia Raya tiba-tiba hilang di balik cuaca
Mendengarkan diskusi dan pesan-pesan kemerdekaan lalu tertelan gelombang
Upacara tak ubahnya hura-hura
Lomba agustusan berubah proyek menggairahkan
Di seluruh pelosok negeri
Semua paling NKRI tanpa kejelasan sumbangsih pada negeri
Semua mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam medan perjuangan
Selanjutnya tertidur pulas dimanja nyanyian sumbang
Sama saja dengan hari-hari kemarin tanpa ada perubahan
Asyik bersama mimpi dalam igauan panjang
Semuanya tak mau ketinggalan mengucapkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika
Lambang garuda memenuhi acara-acara dan baju di dada
Tertunduk mengheningkan cipta menikmati doa
Setelah itu laksana tak pernah terjadi apa-apa
Perbincangan hari merdeka makin memenuhi angkasa mengalahkan dentum ombak samudera
Menyesaki di halaman beranda sosial media
Meskipun kurang mengerti makna kata merdeka
Sekedar aksesoris atau aksi nyata
Berlagak patriotis atau cuma narsis
Merdeka itu memakmurkan bumi mengairi sawah dengan ceceran darah
Menulis lembaran-lembaran sejarah dengan tinta gairah
Menumbuhkan pepohonan sampai tak bersisa lagi airmata
Menghembuskan angin kesejukan di tengah panasnya kebencian
Mencurahkan hujan ketulusan di antara teriknya kemunafikan
Kemerdekaan adalah bangkit dari keterbelakangan menuju kemajuan peradaban
Kemerdekaan adalah berdiri tegak melawan ketakutan
Merdeka itu membuka selimut kejumudan seperti yang dilakukan Kyai Hasyim Asy'ari membina masyarakat dan santri
Makna merdeka adalah tak pernah membelenggu siapapun dari sikap dan pemikiran yang tak sefaham
Merdeka itu mengembangkan bukan menghancurkan
Merdeka itu merelakan bukan memaksakan
Merdeka sejatinya adalah kemerdekaan ruh
Naik dari kerendahan bumi menuju langit-Nya
Kemerdekaan adalah keluar dari kungkungan jasmani menuju kemilau rohani
Pengorbanan kita belum apa-apa
Dibandingkan keringat, darah dan airmata mereka untuk negeri tercinta
Dengan lantang engkau merasa paling berjasa
Dengan angkuh engkau seakan paling berpeluh
Dengan sumringah engkau mengaku paling bergairah
Mirip drama dengan lakon penuh pura-pura
Semuanya bicara hari kemerdekaan
Walaupun sebetulnya terbelenggu nafsu
Sekalipun terpenjara di dalam ruangan pengap
Meskipun sesungguhnya dirinya adalah pecundang
Sumenep 17'08'20


