Jose Rizal Manua: Penting, Unsur Tontonan Dalam Acara Pembacaan Puisi


Selain mengundang unsur apresiasi, sebuah acara pembacaan puisi sebaiknya juga memperhatikan unsur tontonan. Sebab, jika tidak, acara semacam itu tidak akan diminati dan tidak akan memasyarakat. Demikian pernyataan Jose Rizal Manua, seorang dramawan, dosen dan juga sutradara teater, pendiri Bengkel Deklamasi Jakarta, dan juga seorang membaca puisi yang selama ini aktif mengadakan acara pembacaan puisi keliling baik di Jakarta maupun di beberapa kota daerah lainnya, dalam sebuah percakapan khusus dengan penulis diruang kerjanya, di Teater Arena Taman ismail Marzuki (TIM, baru-baru ini).

Jose menyatakan hal itu untuk menanggapi keluhan dari sementara pihak mengenai kurangnya minat masyarakat untuk menonton acara pembacaan puisi. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa acara pembacaan puisi yang dilakukan oleh para penyair, terutama penyair muda, jumlah penonton yang hadir bisa disebut nyaris sepi.

Menurut Jose, yang dimaksud dengan unsur tontonan ialah upaya untuk menyuguhkan sebuah acara pembacaan puisi yang lebih “hidup” dan tidak berkesan “menjenuhkan”. Upaya itu dapat dilakukan selain melalui cara membaca puisinya juga dapat melalui penggunaan perangkat pendukung, seperti penataan setting, penggunaan alat musik, ataupun kostum. Sepanjang pengamatannya, beberapa penyair terkenal, seperti Leon Agusta, Ibrahim Sattah (alm) juga sudah berusaha menghadirkan unsur semacam itu dalam acara pembacaan puisi mereka. Leon Agusta, misalnya, dalam acara pembacaan puisinya yang dinamakan “Puisi-puisi Auditorium” seringkali menggunakan bentuk pembacaan secara koor. “Ini sudah merupakan salah satu cara untuk menghadirkan unsur tontonan dalam acara pembacaan puisinya agar selain dapat menarik minat juga membuat penonton tidak jenuh,” kata Jose.

Diakui untuk beberapa penyair terkenal, seperti Rendra, Taufik Ismail, dan Sutardji Calzoum Bachri, unsur semacam itu sepertinya tidak menjadi masalah lagi. Sebab, itupun acara pembacaan puisi mereka sudah mampu menarik minat masyarakat untuk menonton. Ini tidak lain disamping kharisma yang kuat, mereka juga sudah mempunyai “massa” penonton tetap. Namun, bagi para penyair lain yang belum mencapai “taraf” seperti itu, tak ada salahnya untuk memikirkan upaya tertentu guna menarik minat masyarakat, setidak-tidaknya pencinta sastra, untuk menyaksikan acara mereka,” tambah Jose lagi.

Peluang

Dalam pengalamannya sebagai seorang membaca puisi, Jose melihat banyak puisi dari beberapa penyair Indonesia yang mempunyai peluang untuk digarap dalam sebuah tontonan yang menarik. Dengan penggunaan unsur tontonan sebagaimana yang ia maksudkan puisi itu ketika dibaca menjadi lebih “hidup” dan membuat penonton lebih paham akan makna yang terkandung di dalamnya. Sebaliknya, ia juga menemukan kenyataan bahwa ada beberapa puisi penyair tertentu yang sangat sulit untuk diapresiasikan. Puisi dari Goenawan Mohamad, misalnya, lebih sulit diapresiasikan daripada puisi Rendra, Taufik Ismail, maupun Emha Ainun Nadjib. Demikian pula, puisi Sutardji Calzoum Bachri ternyata lebih sulit daripada puisi Hamid Jabbar, umpamanya.

Selain itu, berdasarkan pengalaman pula, Jose mengetahui bahwa urutan puisi yang dibacakan juga penting untuk diperhatikan. “Sebab, kalau uturan pembacaannya salah, seringkali acara pembacaan puisi itu akan membuat jenuh penonton,” ujar Jose pula.

“Faktor lain yang tak kalah penting ialah masalah tempat atau audience yang menyaksikan acara kita. Dengan memperhatikan hal itu kita dapat memilih puisi mana yang cocok untuk dibacakan nantinya,” kata Jose lagi.

Hanya Unsur Penguat

Meskipun demikian, Jose juga berpendapat, bahwa unsur tontonan itu hanyalah sebagai unsur “penguat” dalam acara pembacaan puisi itu. Hanya upaya untuk menarik banyak penonton saja. Jangan sampai unsur tontonan itu menjadi lebih dominan daripada pembacaan puisinya. Kalau itu sampai terjadi, , maka yang hadir bukan lagi sebuah cara pembacaan puisi, tegas Jose akhirnya.

Demikian pernyataan Jose Rizal Manua. Tampaknya apa yang telah ia kemukakan perlu menjadi pemikiran bagi para penyair yang akan mengadakan acara pembacaan puisi. Sebab, akan janggal rasanya, jika sebuah acara pembacaan puisi hanya disaksikan oleh satu-dua orang penonton saja. Jika ini sampai terjadi, maka apa yang menjadi tujuan inti acara tersebut, yakni suatu cara untuk memasyarakatkan puisi kepada masyarakat, rasanya akan menjadi sia-sia.

Bisa jadi pula, apa yang selama ini dikuatirkan oleh sebagian besar sastrawan kita, mengenai adanya pandangan “Keterpencilan Sastra” di kalangan masyarakat, suatu saat akan menjadi kenyataan. (Erwan Sasmita)

(Swadesi Minggu, 19 Nopember 1989)

Tulisan terkait

Utama 2996203112551667074

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon


Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item