Sajak-sajak Gabut Ainun Nafis
Ainun Nafis, Alumnus Al-Azhar, beberapa puisinya di antologikan di dalam (Dalam Hening Kami Bicara) saat ini sedang berteduh di ruang sastra, PPA Lubangsa Utara (Reguler).
Tentang Jarak, Antara Kamu dan Seperempat Malam
Di seperempat malam
Namamu kujunjung ke ladang rindu
Di antara suara merdu ayam betawi jantan
Kabut menjadi saksi, langkah kaki tanpa henti
Menyimpan resah pada setiap langkah
Uar aroma harap, menjelma udara dari balik gunung
Menjalar bagai pohon ubi
Menyandarkan tubuhnya pada denyut malam
Lembah yang kau ciptakan
Menggores hati, menghapus mimpi
Sisa gerimis malam itu
Mencekik mata, menahan tangis
Tapi tidak dengan alis tipisnya
Tuhanku
Selipkan salam pada mimpinya
Bahwa
Api itu belum padam
Lubtara, 2026
Jendela Ilmu
Sang surya menginjakkan kakinya ke bumi
Mengelus punggung bercorak batik
Sembari berbisik pada aliran-aliran bait
Namamu meruntuhkan begitu banyak kerikil batu
Yang tertancap di sepanjang atap
Menyisakan bercak darah hitam
Wahai penguasa ilmu bersayap sendu
Aku menyisir rambutnya dengan tangan berlumur lumpur
Berkuku tajam, menggores sayapnya
Karna kecerobohan sifat bodohku
Hembusan angin terus menuduh
Tak mau membukakan jendela
Aku pasrah
Pada setiap arah
Sampai kemaraupun tiba
Aku tetap duduk
Menggaruk otakku
Untuk membuka tirai
Penutup ilmu
Lubtara,2026
Dia
Aku benci diriku
Aku enggan pada sikapnya
Tapi
Aku termangu oleh senyumannya
Luibtara,2026
Kenang
Bayangan malam yang miring ke kiri
Kembali kutatap jingga di atasmu
Lilin yang berdiri tegak
Dengan tulus menerangi sunyi
Ketika semut merayapi tubuhnya
Sumbu hitam tak tahan melahap ujung kakinya
Angina
Hembusan tanganmu
Mrnggengam rasa hangat
Melepas gerah yang menyelimuti
Bahkan, ketika lilin itu padam
Akan kusimpan kenang di dinding rumah
Sebab sebelum hari-hari
Menampakkan wajahnya
Resah memelukku dari belakang
Dengan tangis air embun di ujung pagi
Menertawai cahaya lilin di istana sang putri
Lubtara,2026
*Hasil gabut tengah malam, sambil meratapi kehidupan yang tak pernah terpejam.


