Sajak-sajak Rindu M. Lailul Muarok


M. Lailul Muarok
merupakan seorang santri di PPA. Annuqayah Lubangsa Utara. Dan pernah mengemban amanah sebagai Ketua Sanggar Sabda selama 2 periode.Ia dapat disapa melalui akun Instagram @emha_romy


Doaku Pada Waktu
Untuk: M. Lailul Muarok

Mengapa kau meracau tentang indahnya diksi puisi?
Sedang diriku masih mengeram didalam bumi
Melekat pada setubuh sepi.
Abadi.

Mengapa kau mengemis waktu
Dari bunga yang mulai layu?
Sedang belalang setia menanti katamu hilang.

Pecayalah.
Bunga layu itu tak akan tersipu
Dengan kata yang mulai berdebu dalam mulutmu

Namun,
Doaku tetap setia menyebut namamu.
Semoga sang krisna
Tak lagi mencipta bunga
Yang buruk rupa.

Lubtara, 2025



Derasnya Rindu
Untuk: mak depot

Aroma kemenyan pada wajan menikam hidungku dari belakang,
Waktu bernyanyi dengan merdu.
Dan wajahmu bersimpuh dihadapanku
Dengan peluh yang mulai keruh.

Surga ditelapak kakimu bercampur debu.
Mengasihi anak-anakmu.

Entah dirimu atau ibuku
Kuharap,
Dapat meneguk surga
Tanpa kata dusta didalamnya.

Depot, 2025



Dia Batu
Untuk: khalilurrahman

Cahaya jingga sore hari
Menerpa wajah kita dengan gelak tawa.

Kau perkenalkan diriku pada tiara.
Dia tuli,
Bisu,
Buta,
Dan batu.

Namun, senyumnya mampu mencipta dunia.
Yang sudah lama tiada.

Aku tertawa.

LBQK, 2025



Kunciku Hilang

Tuhan
Lemari pakaianku tak bisa dibuka
Entah kuncinya hilang
Atau engselnya mulai karatan.

Jika memang kunciku hilang.
Esok pagi kan kuambil cadangannya
Atau menggantinya dengan kunci lama yang masih ada.

Tuhan
Apakah kelak untuk menemuimu harus punya kunci?

Jika iya,
Esok pagi kan kucari kunci itu
Dan bersiap-siap Kembali
Kepangkuanmu.

Regular, 2025



Terbaring Pulas

Bungkus roma malkist terbaring pulas.
Mulutnya menganga dengan isi yang sudah tak ada.

Ikal mulutnya adalah tanda.
Bahwa dia telah lama terbuka.
Dimakan,
Dihabiskan,
Lalu dilupakan.

Bisa jadi,
Esok hari dia masih disana
Atau sudah berkumpul dengan ribuan temannya
Yang isinya sama-sama tak ada.

Bungkus roma malkist itu tetap disana.
Terbaring pulas.
Dan sesekali menghembuskan nafas.
Hingga akhirnya,
Dia diarahkan tangan kita
Ke; TPA.

Regular, 2025



Jumat Lalu
Untuk: anom ragem

Jumat lalu.
Bersama, kita merayu malam
Sebelum akhirnya adzan shubuh berkumandang.

Sejarah mengalir dari bibirmu yang basah
Menyesap kopi sisa tadi pagi.
Aku mengepulkan semua pertanyaan
Dan menghidangkannya didepan wajahmu.

Lalu,
Dirimu membuka Kembali
Lembar puisi pada buku lama
Dan menyuruhku merangkai bunga
Didalamnya.

Lenteng, 2025



Gelas Kopi
Untuk: hurin ain

Gelak kopiku hampir tandas
Tapi belum tuntas.
Masih ada seteguk asa
Yang harus kusesap bersama luka.

Melepasmu,
Menunggumu,
Dan berwindu-windu rindu padamu
Adalah jelmaan kata siksa yang sederhana.
Namun mampu membuatku lupa dunia.

Lubtara, 2025

Tulisan terkait

Utama 169598462570857193

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon


Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item