Dari Karung Sampah ke Kampus ITB: Kisah Wahyudin, Pemulung yang Menolak Menyerah pada Kemiskinan

Wahyudi bersama ibunya
Sebuah Pesan Motivasi
Kemiskinan mungkin membatasi pilihan, tetapi tidak selalu mampu membatasi cita-cita. Kadang-kadang, jalan menuju masa depan justru dimulai dari tempat yang tidak pernah dibayangkan orang lain: dari jalanan, dari karung berisi barang bekas, dari rasa kantuk yang harus dilawan dengan sekuat tenaga, dan dari tekad seorang anak yang hanya ingin tetap bersekolah.
Kisah Wahyudin adalah pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar persoalan siapa yang memiliki uang paling banyak. Pendidikan juga merupakan tentang keberanian bermimpi, kesediaan bekerja keras, dan keteguhan untuk terus mencari jalan ketika jalan yang tersedia terasa sempit.
Namun, kisah ini bukan cerita tentang keberhasilan yang datang secara ajaib. Di balik gelar sarjana dan bangku pascasarjana terdapat malam-malam panjang, pekerjaan yang berganti-ganti, rasa malu yang harus ditelan, serta perjuangan seorang anak untuk tidak mewarisi keterbatasan yang dialami keluarganya.
Inilah kisah Wahyudin, seorang pemuda yang sejak kecil menjadikan kerja keras sebagai bagian dari perjuangannya mempertahankan pendidikan.
Ketika Sekolah Hampir Menjadi Sebuah Kemewahan
Wahyudin lahir di Bekasi pada 12 Desember 1991. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani sekaligus mencari penghasilan tambahan sebagai pengojek, sementara ibunya menggarap lahan milik orang lain. Penghasilan keluarga lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari daripada membiayai pendidikan.
Bagi Wahyudin kecil, sekolah bukan sesuatu yang otomatis bisa dijalani sampai jenjang tinggi. Ketika duduk di kelas IV SD, sekitar usia 10 tahun, ia mulai memikirkan sesuatu yang mungkin terlalu berat untuk dipikirkan seorang anak seusianya: bagaimana agar tetap bisa bersekolah.
Ia melihat beberapa saudara tirinya tidak dapat melanjutkan pendidikan karena keadaan ekonomi keluarga. Dari sanalah muncul kekhawatiran bahwa dirinya mungkin mengalami nasib yang sama. Namun, Wahyudin memilih jalan berbeda. Ia mendatangi tetangga yang bekerja sebagai pemulung dan mulai ikut mengumpulkan barang-barang bekas. Saat itu, ia belum memikirkan pekerjaan tersebut sebagai sesuatu yang istimewa. Yang ia tahu sederhana: barang bekas yang dikumpulkan dapat dijual, dan uangnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
Sejak itulah karung menjadi bagian dari kehidupannya. Menurut laporan detikcom, Wahyudin mulai memulung sejak kelas IV SD. Ia bekerja pada dini hari sebelum sekolah dan kembali memulung setelah kegiatan sekolah selesai. Uang yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit dipakai untuk membiayai kebutuhan pendidikan.
Belajar di Antara Karung dan Kantuk
Perjuangan Wahyudin tidak berhenti pada memulung. Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar pula kebutuhan yang harus dipenuhi. Ketika SMP, ia menambah aktivitas dengan berjualan gorengan. Ia juga pernah menggembala kambing. Memasuki SMA, pekerjaan yang dilakukannya semakin beragam. Dalam sebuah wawancara pada 2015, Wahyudin menyebut pernah menjalani sekitar tujuh pekerjaan di luar sekolah, antara lain memulung, menggembala kambing, berjualan gorengan, mengajar les, menjadi penyiar, berjualan susu murni, serta berdagang asongan di pinggir rel.
Yang menarik, banyaknya pekerjaan tersebut tidak membuatnya meninggalkan prestasi akademik. Ia tetap mengejar peringkat di sekolah. Rutinitasnya sangat berat. Wahyudin pernah bercerita bahwa ia memulung sejak sekitar pukul 01.00 dini hari hingga menjelang subuh. Setelah itu ia mandi dan bersiap pergi ke sekolah. Sepulang sekolah, ia kembali bekerja sampai malam. Tidurnya sering sangat sedikit.
Untuk melawan rasa kantuk ketika belajar, ia membawa balsam atau minyak kayu putih dan mengoleskannya di sekitar mata agar tetap terjaga. Bagi Wahyudin, rasa lelah bukan alasan untuk kehilangan pelajaran. Sekolah tetap harus dijalani, meskipun tubuhnya sering meminta istirahat.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa ia tidak sekadar ingin
bersekolah, tetapi benar-

