Islam ala Habibie: Iman Teguh, Ilmu Setinggi Langit, Kasih Seluas Samudera
Bacharuddin Jusuf Habibie dikenal dunia sebagai jenius sains dan teknologi, seorang insinyur yang mampu menghitung keretakan sayap pesawat dengan ketepatan yang tak tertandingi, hingga akhirnya dipercaya memimpin bangsa Indonesia. Namun di balik kecerdasan akalnya yang luar biasa, tersimpan sebuah landasan hidup yang menjadi sumber kekuatan seluruh pemikirannya: keyakinan yang mendalam kepada Tuhan. Bagi Habibie, kemajuan ilmu pengetahuan dan kedalaman iman bukanlah dua hal yang saling bertentangan atau menjauh, melainkan dua sisi dari satu mata uang yang tak terpisahkan. Ilmu yang ia pelajari dan kembangkan adalah upaya memahami hukum-hukum ciptaan Allah, dan menekuninya adalah bentuk syukur sekaligus ibadah kepada-Nya.
Tulisan ini menguraikan bagaimana pemahaman agama yang dihayati Habibie tidak menutup pintu akal, melainkan justru menggerakkannya untuk terus memajukan peradaban. Agama baginya bukan sekadar seragam atau label, melainkan iman yang bersemayam di hati — terbuka, menghargai perbedaan, tetap teguh pada prinsip, sekaligus mendorong umat untuk kembali menjadi pelopor sains dan teknologi. Melalui pandangan-pandangannya yang tulus serta sikap hidupnya yang nyata, Habibie mengajarkan bahwa kita dapat sekaligus menjadi hamba Allah yang bertakwa, ilmuwan yang berprestasi tinggi, dan insan yang penuh kasih sayang kepada sesama. Pemikiran ini menjadi cahaya penuntun, terutama saat banyak orang kini merasa harus memilih antara iman atau kemajuan — padahal keduanya, menurut Islam ala Habibie, adalah dua kekuatan yang harus berjalan beriringan demi menyelamatkan dunia.
Islam Ala Habibie: Menyatukan Langit dan Bumi
Bacharuddin Jusuf Habibie dikenal dunia sebagai jenius yang mampu menghitung keretakan sayap pesawat hingga presisi tak tertandingi. Namun sedikit yang menyadari bahwa segala kecanggihan ilmunya itu berakar pada keyakinan yang mendalam. Baginya, sains dan agama bukanlah dua hal yang saling menjauh, melainkan dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Allah-lah yang menciptakan hukum alam, dan mempelajarinya adalah salah satu bentuk ibadah syukur kepada-Nya.
Habibie pernah menyampaikan pernyataan yang menyentuh hati banyak orang: "Saya diberi kenikmatan oleh Allah SWT ilmu teknologi sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama lebih manfaat untuk umat Islam. Kalau saya disuruh memilih antara keduanya, maka saya akan memilih ilmu agama." Pilihan ini bukan berarti ia menolak sains, melainkan menyadari bahwa tanpa fondasi iman, kemajuan teknologi bisa menjadi pedang bermata dua yang membahayakan peradaban.
Namun, pemahaman agama ala Habibie bukanlah pemahaman yang tertutup atau kaku. Ia berkata: "Saya tidak pernah masuk pesantren, tidak pernah masuk organisasi Islam, tapi saya sudah baca dan pahami Alquran sejak kecil. Saya sekolah di Belanda, masuk sekolah yang kebanyakan agamanya Kristen. Saya juga baca kitab suci agama lain, sama orang tua saya nggak dilarang." Baginya, agama adalah iman yang bersemayam di hati, bukan sekadar label atau seragam. Memahami keyakinan orang lain justru memperkuat keimanannya sendiri, karena ia melihat kebesaran Tuhan melalui keberagaman ciptaan-Nya.
Inilah inti dari "Islam ala Habibie": keseimbangan antara ketakwaan dan kemajuan. Ia mengingatkan umat Islam agar tidak hanya sibuk mengenang kejayaan masa lalu, melainkan berjuang kembali memimpin dunia sains dan teknologi. "Yang lebih penting bagi umat Islam saat ini adalah bagaimana umat Islam akan mendapatkan kembali kepemimpinan dan kontrol sains dan teknologi, memimpin kembali dan menjadi pemimpin di dunia sains dan peradaban." Menurutnya, kebodohan adalah pintu masuk kemiskinan, dan kemiskinan dapat melahirkan ketidakberimanan. Maka, mencerdaskan kehidupan bangsa adalah bagian dari dakwah nyata.
Pemahaman agama yang terbuka namun teguh ini terlihat dari sikap toleransinya yang luar biasa. Ketika sahabatnya yang beragama Kristen meninggal dunia, Habibie ikut ke gereja, memegang jenazahnya, dan berdoa dengan tulus — dengan bacaan dan caranya sendiri sebagai seorang muslim. "Saya berdoa dengan hati yang tulus untuk sahabat saya, apa masalahnya?" tanyanya. Bagi Habibie, menghargai perbedaan bukan berarti melemahkan iman, justru itulah inti ajaran Islam yang mengajarkan kasih sayang kepada seluruh makhluk.
Habibie juga dikenal sebagai pribadi yang teguh dalam ibadah. Rajin berpuasa Senin dan Kamis, tak pernah meninggalkan salat, dan melaksanakan ibadah haji serta umrah. Namun ibadah baginya tidak berhenti di masjid. Ia memahami ajaran Islam dalam kehidupan nyata: membangun peradaban, mengangkat derajat umat melalui ilmu pengetahuan, dan menegakkan keadilan. Inilah yang pernah ditantang oleh Presiden Soeharto kepadanya: "Bisakah mengaktualisasikan ajaran Islam itu dalam kehidupan nyata?" Dan Habibie menjawab tantangan itu dengan mendirikan ICMI serta membuka jalan bagi pendidikan Islam dan perbankan syariah berkembang lebih luas.
Dengan kata lain, Islam ala Habibie adalah Islam yang membumi: beriman teguh kepada Allah, memanfaatkan akal sepenuhnya untuk memahami alam semesta, dan menebarkan kasih sayang kepada sesama tanpa memandang perbedaan. Ia mengajarkan bahwa kita bisa menjadi ahli sains yang hebat sekaligus menjadi hamba Allah yang takwa. Bahwa kita bisa mencintai Al-Qur'an sekaligus menghargai kitab-kitab suci lain dalam keyakinan masing-masing. Bahwa kemajuan teknologi dan kedalaman spiritual harus berjalan beriringan, sebagaimana cahaya bulan dan matahari yang sama-sama menerangi bumi atas izin-Nya.
Kini, ketika umat Islam sering terjebak di antara dua kutub — yang menganggap sains bertentangan dengan agama, atau yang maju secara teknologi namun melupakan nilai spiritual — pemikiran Habibie menjadi penuntun yang sangat berharga. Beliau menunjukkan jalan: jadilah orang yang beriman kokoh, berilmu setinggi langit, dan berakhlak seluas samudera. Itulah Islam yang sesungguhnya — Islam yang menyelamatkan dunia dengan iman, ilmu, dan kasih sayang.
(Rofiq Ahmad)


