Islam Ala Habibie: Iman, Ilmu, dan Kasih Sayang dalam Satu Kesatuan


Bacharuddin Jusuf Habibie dikenang dunia sebagai jenius dirgantara dan presiden yang membuka jalan demokrasi Indonesia. Namun di balik kecerdasannya, tersimpan wajah yang tak kalah agung: seorang muslim yang memahami Islam bukan sekadar ritual, melainkan kesatuan iman, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan. "Islam ala Habibie" adalah pemahaman yang memadukan ketakwaan yang mendalam dengan penguasaan sains dan teknologi secara terbuka, toleran, dan penuh kasih sayang.

Pandangan Lengkap B.J. Habibie Tentang Islam

 B.J. Habibie pernah ditanya: siapakah dirinya sesungguhnya — insinyur, warga negara Indonesia, atau muslim? Jawabannya tegas: "Saya adalah Muslim. Mengapa? Karena kalau aku mati, aku tidak lagi berwarganegara. Kalau aku sampai akhirat, yang diganti bukan paspor atau kedudukanku. Itu bukan emosional, melainkan rasional." Pernyataan ini menjadi kunci memahami seluruh pandangan hidup Habibie: identitas keimanan adalah yang paling hakiki dan abadi bagi dirinya.

Namun menjadi muslim ala Habibie bukan berarti menutup diri dari dunia atau memusuhi kemajuan. Justru sebaliknya. Beliau menyampaikan: "Saya diberi kenikmatan oleh Allah SWT ilmu teknologi sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama lebih manfaat untuk umat Islam. Kalau saya disuruh memilih antara keduanya, maka saya akan memilih ilmu agama." Pilihan ini bukan penolakan terhadap sains, melainkan pengakuan bahwa tanpa fondasi iman, kemajuan teknologi bisa menjadi pedang bermata dua yang membahayakan peradaban.

Namun Habibie tidak ingin umat Islam hanya berhenti pada keimanan semata. Beliau mengingatkan dengan nada mendesak: "Tidak lagi sibuk membahas kebesaran umat Islam di masa lalu atau berdebat siapa yang pertama menemukan angka nol. Yang lebih penting: bagaimana umat Islam mendapatkan kembali kepemimpinan dan penguasaan sains dan teknologi, memimpin kembali dunia sains dan peradaban." Menurutnya, kebodohan adalah pintu kemiskinan, dan kemiskinan dapat melahirkan ketidakberimanan. Maka mencerdaskan kehidupan bangsa adalah dakwah nyata.

Inilah gagasan terbesar Habibie: keseimbangan antara Iman dan Takwa (Imtak) serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Beliau mengingatkan: "Orang yang hebat imtaknya tapi tidak tahu iptek, tidak akan mampu menolong dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang iptek-nya saja tanpa imtak, bahaya — ia akan menghalalkan segala cara." Bagi Habibie, sains dan agama bukan dua kekuatan yang saling menjauh, melainkan dua sayap yang sama-sama diberikan Allah agar manusia mampu terbang tinggi memahami kebesaran-Nya. Hukum alam yang dipelajari ilmuwan adalah ayat-ayat Tuhan yang terbentang di semesta. Mempelajarinya adalah bentuk ibadah syukur.

Pemahaman agamanya pun tumbuh dalam keterbukaan. Habibie berkata: "Saya tidak pernah masuk pesantren, tidak pernah masuk organisasi Islam, tapi sudah baca dan pahami Al-Qur'an sejak kecil. Saya sekolah di Belanda yang mayoritas Kristen. Saya juga membaca kitab suci agama lain, dan orang tua saya tidak melarang." Baginya, memahami keyakinan orang lain justru memperkuat keimanan sendiri — karena ia melihat kebesaran Tuhan melalui keberagaman ciptaan-Nya. Sikap ini terwujud ketika sahabatnya yang beragama Kristen wafat: Habibie ikut ke gereja, memegang jenazahnya, dan berdoa dengan tulus menurut caranya sendiri sebagai muslim. "Saya berdoa dengan hati yang tulus untuk sahabat saya, apa masalahnya?" tanyanya. Bagi Habibie, menghargai perbedaan bukan melemahkan iman — justru itulah inti ajaran Islam: kasih sayang kepada seluruh makhluk.

Iman Habibie bukan sekadar pemikiran, melainkan terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Beliau rajin berpuasa Senin dan Kamis, tak pernah meninggalkan salat lima waktu, melaksanakan ibadah haji dan umrah bersama keluarga. Istrinya, Ainun, setiap hari membaca satu juz Al-Qur'an, dan Habibie meneladaninya dalam kedisiplinan spiritual. Namun ibadah baginya tidak berhenti di masjid. Agama harus diaktualisasikan: membangun peradaban, mengangkat derajat umat melalui pendidikan, menegakkan keadilan. Itulah sebabnya beliau mendirikan ICMI, membuka jalan bagi perkembangan pendidikan Islam dan perbankan syariah, serta menandatangani UU Zakat pertama di Indonesia.

Apresiasi terhadap Islam ala Habibie pada akhirnya adalah apresiasi terhadap keseimbangan: beriman kokoh kepada Allah, namun berilmu setinggi langit; mencintai Al-Qur'an, namun juga menghargai kitab-kitab suci lain dalam keyakinan masing-masing; menjaga ibadah pribadi, namun sekaligus membangun kemaslahatan umum. Presiden Jokowi dengan tepat merangkumnya: Habibie meyakini bahwa tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya — dan ilmu pengetahuan, iman, serta takwa harus bersatu.

Kini, ketika umat Islam kerap terjebak di antara dua kutub — yang menganggap sains bertentangan dengan agama, atau yang maju secara teknologi namun melupakan nilai spiritual — pemikiran Habibie menjadi penuntun yang tak ternilai. Beliau menunjukkan jalan: jadilah hamba Allah yang takwa sekaligus peneliti yang cerdas; cintailah sesama tanpa memandang perbedaan; dan berjuanglah agar umat kembali memimpin peradaban dengan iman yang teguh, ilmu yang bermanfaat, dan kasih sayang yang seluas samudera. Itulah Islam yang membumi, Islam yang menyelamatkan dunia.

(Rofiq Ahmad)

Tulisan terkait

Utama 1528748824392288230

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item