Dua Tahun Komunitas: Bertahan, Berkembang, atau Berpisah

Momen sederhana memperingati 9 Tahun Rumah Literasi Sumenep, Oktober 2025

“Membangun atau mendirikan sebuah komunitas bisa bertahan sampai dua tahun itu bagus. Bila lebih dari itu adalah bonus.”

Kalimat itu sering saya sampaikan ketika berbincang dalam berbagai pertemuan komunitas. Bukan tanpa alasan. Saya melihat sendiri bagaimana sebuah komunitas bisa tumbuh dengan semangat yang luar biasa pada awal berdirinya, tetapi perlahan kehilangan energi, kemudian sepi kegiatan, dan akhirnya hanya tinggal nama.

Yang saya maksud komunitas di sini terutama kelompok, sanggar, perkumpulan, atau ruang bersama yang bergerak dalam dunia kreativitas dan kekaryaan, khususnya kesenian. Bagi saya, komunitas semacam itu memiliki dinamika yang tidak jauh berbeda dengan sebuah usaha jasa. Ada orang yang datang untuk belajar, ada yang memberi pengalaman, ada yang bekerja bersama, dan pada suatu masa mungkin ada yang merasa sudah cukup memiliki bekal untuk berjalan sendiri.

Saya sering menganalogikannya dengan usaha jahit, bengkel motor, jasa perbaikan televisi atau komputer, dan berbagai pekerjaan keterampilan lainnya. Seorang pemilik usaha tentu membutuhkan tenaga untuk membantu pekerjaan. Tidak jarang orang yang direkrut justru mereka yang masih baru dan belum banyak pengalaman. Karena itu, orang baru tersebut harus belajar. Ia dibekali pengetahuan, teknik, pengalaman, sekaligus kebiasaan bekerja agar mampu menghasilkan pekerjaan yang baik.

Tahun pertama biasanya menjadi masa belajar.

Ia masih banyak bertanya, mengamati, mencoba, melakukan kesalahan, lalu memperbaikinya. Tahun kedua mulai berbeda. Keterampilan mulai terlihat. Ia sudah memahami pekerjaan, mampu menyelesaikan persoalan, bahkan kadang sudah dapat dipercaya menangani pekerjaan tanpa banyak pengawasan. Pemilik usaha pun mulai merasa nyaman karena kehadirannya memberikan kontribusi nyata.

Tetapi memasuki tahun ketiga, keadaan bisa berubah.

Orang yang sebelumnya belajar mulai memiliki keyakinan bahwa dirinya sudah cukup mampu. Ia mulai berpikir tentang kemungkinan membangun usaha sendiri. Pengalaman yang diperoleh selama dua tahun dianggap sebagai modal yang cukup. Apalagi jika dalam perjalanan muncul ketidakcocokan, perbedaan cara bekerja, persoalan pembagian pekerjaan, atau komunikasi yang tidak lagi berjalan baik.

Pada titik itu, keinginan untuk berpisah menjadi sesuatu yang sulit dihindari.

Kadang perpisahan berlangsung baik-baik. Namun tidak jarang muncul cara-cara yang kurang sehat. Ada yang mulai memuji kemampuan sendiri, membangun relasi dengan pelanggan pemilik usaha, atau perlahan menarik pekerjaan untuk dikerjakan sendiri. Kalimat seperti “sisanya nanti saya kerjakan di rumah” bisa menjadi awal dari sebuah pemisahan yang sebenarnya sudah lama tumbuh dalam pikiran.

Saya melihat pola yang hampir sama dalam komunitas kesenian.

Seseorang datang pertama kali dengan keinginan belajar. Ia bergabung karena ingin mengetahui sesuatu yang belum dikuasainya. Di dalam komunitas, ia menemukan teman, guru, pengalaman, jaringan, sekaligus ruang untuk mencoba. Tahun pertama adalah masa menyerap sebanyak-banyaknya pengetahuan. Tahun kedua mulai menunjukkan karya. Ia mulai berani tampil, berproduksi, mengikuti kegiatan, dan dikenal oleh lingkungan komunitas.

Kemudian datanglah tahun ketiga.

Ia mulai merasa bahwa ruang belajarnya sudah terlalu sempit. Ia membutuhkan pengalaman baru, jaringan baru, bahkan pengakuan yang lebih besar. Maka ia mulai melirik komunitas lain yang dianggap lebih besar, lebih profesional, lebih bergengsi, atau lebih mampu membuka jalan menuju dunia kreatif yang lebih luas.

Apakah itu salah?

Menurut saya, tidak selalu.

Sebab komunitas memang bukan penjara. Ia seharusnya menjadi ruang pertumbuhan. Orang datang, belajar, berkembang, lalu mungkin suatu saat memilih jalan yang berbeda. Yang menjadi persoalan bukan ketika seseorang meninggalkan komunitas, melainkan ketika kepergiannya meninggalkan luka, konflik, atau persoalan yang tidak pernah diselesaikan.

Komunitas pada dasarnya mempertemukan manusia dengan latar belakang yang berbeda. Perbedaan karakter, pengalaman, kepentingan, cara berpikir, bahkan ambisi, sangat mungkin melahirkan gesekan. Karena itu, sebuah komunitas sebenarnya bukan hanya tempat berkarya, tetapi juga tempat belajar memahami manusia.

Ada komunitas yang mampu melewati konflik dan terus tumbuh. Ada pula yang justru berhenti karena persoalan kecil yang tidak pernah diselesaikan. Bahkan tidak sedikit komunitas yang bubar bukan karena kekurangan bakat, melainkan karena kehilangan kemampuan untuk menjaga hubungan antarmanusia.

Berbeda dengan komunitas yang tumbuh di dalam lembaga atau sekolah. Komunitas semacam ini cenderung dapat bertahan lebih lama karena pada setiap periode terjadi pergantian pengelola maupun anggota. Namun pergantian itu juga menghadirkan persoalan lain. Setiap generasi datang dengan gagasan, selera, konsep, dan program yang berbeda.

Keberlanjutan secara kelembagaan akhirnya belum tentu berarti kemajuan.

Sebuah komunitas bisa tetap memiliki nama, struktur, dan anggota, tetapi kegiatannya berjalan di tempat. Program berulang, kegiatan sekadar menggugurkan kewajiban, sementara kreativitas tidak berkembang. Dalam keadaan seperti itu, intervensi pembina atau guru sering menjadi sangat menentukan. Bahkan kadang pembina harus terlibat hampir sepenuhnya agar komunitas tetap bergerak.

Dari semua itu saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: usia komunitas bukan ukuran keberhasilannya.

Dua tahun bisa menjadi waktu yang sangat berarti apabila selama dua tahun itu orang-orang di dalamnya tumbuh. Sebaliknya, sepuluh tahun pun tidak banyak artinya apabila komunitas hanya bertahan sebagai nama.

Saya tidak terlalu khawatir ketika melihat sebuah komunitas berusia pendek. Yang lebih saya khawatirkan adalah komunitas yang panjang umur tetapi kehilangan alasan mengapa ia dulu didirikan.

Sebab bagi saya, komunitas bukan semata-mata tentang berapa lama ia bertahan. Komunitas adalah tentang apa yang ditanam, siapa yang tumbuh, karya apa yang lahir, dan nilai apa yang ditinggalkan.

Jika suatu hari orang-orang di dalamnya memilih jalan masing-masing, biarlah perpisahan itu menjadi tanda bahwa komunitas tersebut pernah berhasil mendewasakan anggotanya.

Dan jika mereka tetap bertahan, semoga bukan karena takut kehilangan nama, melainkan karena masih menemukan alasan untuk terus berkarya bersama.

Syaf Anton Wr

Tulisan terkait

Utama 7434655293069604829

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item