Tersesat Tiga Hari di Kerajaan Jin: Kisah Teh Nayla
Cerpen: Muraiz
Setelah melewati patok batu penanda batas ladang, sinyal ponselnya mati seketika. Suasana sekitar yang tadinya hidup dengan suara serangga dan orang, mendadak sunyi senyap. Semakin ia melangkah, jalan berubah menjadi hutan purba yang asing dan lebat. Udara terasa dingin tanpa angin. Ia menyadari dirinya terus berputar di tempat yang sama—patok batu itu selalu muncul kembali, seolah dikelilingi pagar tak kasat mata .
Saat lelah dan putus asa menyerang, tiba-tiba ada tepukan di bahu. Seorang nenek bungkuk dengan pakaian lusuh berdiri di sana, entah datang dari mana. Tangannya sedingin es sampai ke tulang, berpesan tegas: “Jangan jawab siapa pun, jangan makan atau minum apa pun, tetaplah diam.” Tanpa pilihan lain, Teh Nayla mengikuti .
Jalan yang tak kunjung terbuka kini terlewati. Mereka melewati gapura batu berlumut, memasuki kawasan bergaya purba dengan rumah-rumah kuno dan warga berpakaian zaman dulu yang menatap tajam. Di tengah jalan, seorang anak kecil tampak asing mengajak bicara—ia menahan diri dengan kuat. Di gubuk nenek, dupa dinyalakan dan mantra asing dilantunkan, lalu ia disuruh memejam dan menggenggam tangan yang dingin itu .
Mata terbuka, hadapannya berdiri kerajaan batu raksasa yang sangat tua. Di halaman, enam wanita berbusana merah menari dengan gerakan identik tanpa jeda—terlalu sempurna untuk manusia. Di depan pintu, seorang putri cantik berbisik mengundang masuk. Rasa lapar dan dahaga meluap hebat saat pelayan membawa hidangan harum nan menggoda. Namun tangannya ditarik mundur saat nenek mengingatkan: “Jangan.” Mereka menjauh dari panggilan maut itu .
Di bawah pohon beringin raksasa, nenek berhenti: “Aku hanya bisa sampai sini. Jalan lurus, jangan menoleh ke belakang.” Teh Nayla berjalan terhuyung-huyung, tubuh lemah dan pikiran kabur, hingga akhirnya mendengar suara alam yang kembali—suara katak, angin, lalu lalu lintas jalan raya yang nyata.
Ia ditolong pulang oleh pengendara motor, masih membawa rantang yang belum tersampaikan. Namun saat tiba di rumah, suasana mencekam—banyak tetangga berkumpul menangis. Ibunya memeluk erat, berkata bahwa ia telah hilang tiga hari, bukan sekadar beberapa jam. Pencarian dilakukan warga, polisi, dan bantuan spiritual. Sinyal ponselnya kembali, membanjir dengan ratusan pesan yang tertunda selama tiga hari itu .
Kemudian paman yang peka hal gaib, Om Aris, menjelaskan kebenaran yang mengerikan: nenek penolong itu adalah leluhur ibu yang melindunginya. Kerajaan itu adalah realitas dunia lain—hasil perjanjian pesugihan kekayaan yang dibuat leluhur puluhan tahun lalu, namun terlupakan. Penari merah itu adalah korban tumbal yang terikat abadi. Jika Teh Nayla menerima makanan di sana, ia tak akan bisa kembali selamanya. Ketaatan pada pesan leluhur menjadi penyelamat hidupnya .


