Sopir Online yang Mengantar Arwah Pulang ke Rumah


Cerpen: Muraiz

Pukul dua belas lewat sepuluh menit, hujan gerimis baru saja reda. Aspal masih basah, memantulkan cahaya lampu jalan yang remang-remang. Di tengah sepi jalanan kota, Budi memacu motornya perlahan, matanya sesekali melirik layar ponsel yang terpasang di kemudi. Sudah hampir tengah malam, dan ia berniat mengambil satu orderan terakhir sebelum pulang untuk beristirahat. Tubuhnya lelah seharian mengaspal, namun kebutuhan keluarga membuatnya tetap bertahan di jalanan yang mulai sepi.

Tiba-tiba layar ponselnya berkedip. Sebuah pesanan masuk. Titik jemput di sebuah pusat perbelanjaan yang sudah lama tutup di pinggir kota, dan tujuannya ke sebuah perumahan tua di daerah bukit yang cukup jauh. Budi mengerutkan kening sejenak. Daerah itu sepi, dan katanya cukup angker di malam hari. Namun melihat perkiraan biaya yang lumayan, ia pun menekan tombol terima. "Tak apa, sekali jalan saja," gumamnya pelan, meyakini dirinya.

Sesampainya di lokasi penjemputan, suasana di sana hening dan sepi. Hanya lampu penerangan jalan yang berdiri berjauhan, memancarkan cahaya kekuningan yang samar. Budi memarkir motornya tepat di titik yang ditentukan. Ia melihat seorang perempuan berdiri menunggu di bawah tiang lampu yang agak jauh. Sosoknya tampak tenang, mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap dan berhijab. Rambutnya terurai jatuh menutupi sebagian bahu. Budi melangkah mendekat, lalu menegur dengan sopan.

"Mbak, yang pesan perjalanan?" tanyanya.

Perempuan itu menoleh perlahan, mengangguk pelan. Wajahnya tampak pucat, namun dalam remang cahaya, Budi belum menyadari sepenuhnya keanehan yang ada. "Iya, saya," jawabnya. Suaranya lembut namun terdengar datar, seolah datang dari tempat yang jauh. "Mohon diantar ke alamat yang tertera, ya."

Perempuan itu naik ke belakang motor. Saat tubuhnya menyentuh Budi, ia merasakan hawa dingin yang menjalar hingga ke punggungnya. Seperti bersentuhan dengan benda yang baru saja dikeluarkan dari lemari es. Budi bergidik, namun mencoba mengabaikannya. Mungkin karena pakaiannya basah terkena sisa hujan, pikirnya dalam hati.

Sepanjang perjalanan, Budi mencoba beramah-tamah. Namun penumpangnya itu hanya menjawab seperlunya saja, seringkali diam. Yang membuat hatinya mulai gelisah adalah bau yang samar-samar tercium dari arah belakang. Bukan bau wangi atau parfum, melainkan bau apek yang menyengat, seperti benda yang sudah lama tertimbun lembap. Sesekali Budi menengok sekilas, dan ia melihat perempuan itu duduk diam, kedua tangannya melipat di depan perut, matanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip.

Jarak yang ditempuh ternyata lebih jauh dari perkiraan. Jalan berkelok menanjak, dan semakin jauh mereka melaju, semakin sepi suasana di sekitar. Lampu jalan semakin jarang, digantikan oleh gelap pekat yang hanya tersibak oleh sorot lampu motor. Angin malam berhembus kencang, menggoyangkan pepohonan di pinggir jalan yang seakan berbisik-bisik. Budi merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Ia mempercepat laju motornya, berharap perjalanan ini segera usai.

"Masih jauh lagi, Mbak?" tanyanya akhirnya, mencoba memecah keheningan yang mencekam.

Penumpangnya terdiam sesaat sebelum menjawab. "Sudah dekat. Terus saja lurus."

Suaranya tetap tenang, namun kali ini Budi menangkap nada yang lain. Ada kesedihan yang mendalam dalam ucapannya, seolah sedang merindukan sesuatu yang sudah lama hilang. Budi menurut, terus melaju hingga akhirnya motornya melambat di depan sebuah rumah kuno yang berdiri sendiri di tengah perumahan yang tampak sepi. Rumah itu berbilur catnya, pagar besinya sudah berkarat, dan pekarangannya rimbun dengan rumput liar. Jendela-jendelanya tertutup rapat, tak secercah cahaya pun memancar dari dalam. Rumah itu tampak sunyi, seolah sudah lama tidak berpenghuni.

"Ini sudah sampai," kata perempuan itu pelan.

Ia turun dari motor dengan gerakan yang begitu halus, nyaris tak menimbulkan suara. Budi ikut turun sambil mematikan mesin, lalu menyambar ponselnya untuk menampilkan biaya perjalanan. Namun perempuan itu berdiri diam di depan gerbang yang tertutup rapat, menatap rumah itu lekat-lekat. Sorot matanya berubah sendu.

"Maaf, Mas..." ucapnya pelan tanpa menoleh. "Saya tidak membawa uang tunai. Bolehkah saya masuk sejenak untuk mengambilnya di dalam?"

Budi ragu sejenak. Namun melihat wajah perempuan itu yang tampak biasa saja, ia pun mengangguk. "Iya, silakan. Saya tunggu di sini."

Perempuan itu melangkah mendekati gerbang. Budi memperhatikannya dalam diam. Dan saat itulah bulu kuduknya seketika berdiri. Perempuan itu tidak membuka pintu gerbang. Ia tidak berusaha mendorong atau mengangkat kaitnya. Dengan tenang, ia berjalan lurus ke depan — dan tubuhnya tembus melewati celah besi-besi pagar yang sempit itu seolah tidak ada penghalang sama sekali.

Budi mengerjap, mengucek matanya. Ia kira salah lihat karena gelap. Namun kenyataannya sama. Sosok perempuan itu terus berjalan masuk ke halaman yang rimbun, langkahnya tak menimbulkan suara sedikit pun, tak menginjak rumput yang bergoyang. Ia berjalan menuju pintu utama yang tertutup rapat — dan sekali lagi, tubuhnya tembus masuk ke dalam rumah tanpa membuka pintu.

Hening. Hanya suara jangkrik dan detak jantungnya sendiri yang terdengar nyaring di telinga. Budi terpaku di tempatnya, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia menatap rumah itu lekat-lekat, berharap apa yang dilihatnya hanyalah ilusi mata. Namun rumah itu tetap gelap, sunyi, dan tak ada tanda-tanda kehidupan.

Ia menunggu. Satu menit berlalu. Lima menit. Sepuluh menit. Tak ada siapa-siapa keluar. Tak ada suara pintu terbuka. Tak ada panggilan. Budi memberanikan diri melangkah mendekati gerbang yang berkarat itu. Dari balik celah besi, ia melihat pekarangan yang penuh dedaunan kering dan semak belukar. Rumah itu tampak terbengkalai bertahun-tahun. Pintu depannya tertutup papan kayu. Di sudut dinding, lumut tumbuh subur menandakan kelembapan yang tak kunjung kering.

Perasaan ngeri perlahan merayap di hatinya. Ia memberanikan diri memanggil pelan. "Mbak... uang kembaliannya tidak perlu dibayar. Saya pamit pulang."

Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyambutnya.

Budi berbalik hendak kembali ke motornya, namun langkahnya terhenti karena suara samar yang terdengar dari arah jendela lantai atas rumah itu. Suara lembut perempuan yang tadi, berucap pelan seakan berbisik tepat di telinganya: "Terima kasih sudah mengantar saya pulang. Sudah lama sekali saya tidak bisa pulang..."

Budi tak berani menoleh lagi. Kakinya gemetar hebat, namun ia memaksanya berlari menuju motor, menyalakan mesin dengan tangan yang gemetar, lalu memacu kendaraannya sekuat tenaga meninggalkan tempat itu. Ia tak berani menengok ke belakang sama sekali. Sepanjang jalan pulang, ia terus memantapkan hati, membaca doa-doa yang ia hafal, berharap tak ada yang mengikutinya dari belakang.

Sesampainya di rumah, Budi langsung turun dari motor, masuk ke dalam, dan mengunci pintu serta jendela dengan rapat. Tubuhnya masih gemetar. Istri yang terbangun mendengar langkah kakinya yang tergesa-gesa segera menghampiri, bertanya dengan cemas apa yang terjadi. Namun Budi tak mampu bercerita saat itu juga. Ia hanya meminum air putih yang banyak, lalu duduk bersandar di dinding sambil memejamkan mata, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berpacu kencang. Bayangan wajah pucat perempuan itu terus terbayang di benaknya, begitu nyata seakan masih berdiri tepat di hadapannya.

Malam itu Budi tak bisa terlelap. Setiap kali ia terpejam, kembali terbayang sosok yang menembus pagar besi itu. Bau lembap yang samar, suara lembut yang berbisik di telinganya — semua itu terasa begitu nyata, seakan masih melekat bersamanya. Ia terus terjaga hingga fajar menyingsing, cahaya pagi yang masuk lewat celah jendela perlahan mengusir rasa takutnya yang perlahan mereda.

Keesokan harinya, saat matahari sudah tinggi dan keberaniannya kembali pulih, Budi memutuskan untuk kembali ke lokasi itu. Ia ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi semalam. Ia melaju perlahan menyusuri jalan yang sempat ia lalui dalam ketakutan. Di siang hari yang terang benderang, jalan itu tampak biasa saja, namun jantungnya tetap berdebar saat tiba di perumahan tua itu. Rumah itu masih sama, tampak sepi dan terbengkalai, namun kini terlihat lebih jelas dalam sinar matahari.

Budi menemui warga terdekat yang sedang beraktivitas di depan rumah. Ia menyapa seorang lelaki tua yang tampak sebagai tetua kampung di sana, lalu menceritakan apa yang dialaminya semalam, tanpa menyembunyikan apa pun. Wajah lelaki itu perlahan berubah serius mendengar penuturan Budi. Ia menatap rumah tua itu dalam-dalam, lalu menghela napas panjang.

"Rumah itu milik seorang perempuan bernama Bu Ratih," ucapnya pelan dengan nada sedih. "Beliau tinggal sendirian di sini. Sepuluh tahun lalu, beliau jatuh sakit dan meninggal dunia sendirian di dalam rumah ini. Tak ada kerabat yang mendampingi saat itu. Sejak saat itu, rumah tak pernah lagi dihuni. Katanya, beliau tak pernah benar-benar pergi. Sering ada warga yang melihat sosoknya berdiri di depan pintu atau berjalan di sekitar rumah, seakan selalu menunggu seseorang atau berusaha pulang ke tempat yang ia rindukan."

Budi terdiam mendengar penjelasan itu. Perempuan yang ia antarkan semalam ternyata sudah meninggal dunia sepuluh tahun silam. Ia baru menyadari alasan mengapa penumpangnya terasa begitu dingin, begitu pucat, begitu penuh rindu. Sosok itu bukan penumpang biasa — melainkan arwah yang tak kunjung tenang, yang tiada henti berusaha pulang ke rumahnya sendiri.

Sejak hari itu, Budi berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu berhati-hati dalam menerima pesanan, terutama di malam hari. Ia juga mulai lebih rajin berdoa sebelum berangkat bekerja dan setelah pulang ke rumah. Setiap kali ia melintas di jalan sepi atau melihat sosok yang berdiri sendiri di bawah lampu remang, ia selalu teringat wajah pucat dan sorot mata penuh rindu perempuan itu — yang hanya ingin pulang ke rumahnya, kembali ke tempat yang ia cintai sejak lama.

Kisah ini pun tersebar di kalangan rekan-rekan pengemudi daring lainnya. Banyak yang mengangguk paham, menyebut bahwa dunia gaib dan dunia nyata kadang berjalan beriringan. Siapa yang tahu, di balik penumpang yang tampak biasa saja, mungkin tersimpan kisah panjang yang belum selesai, sebuah rindu yang tak terbalaskan, dan keinginan sederhana — sekadar ingin pulang.

Tulisan terkait

Utama 71210139797752447

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item