Hati-Hati! Jangan-Jangan Kita Tanpa Sadar Sudah Menjadi Anak Durhaka


Durhaka kepada orang tua sering dipahami sebagai pembangkangan yang nyata, pembentakan yang keras, atau pelarian dari rumah. Padahal, banyak bentuk kedurhakaan yang muncul secara halus, tanpa disadari, dan perlahan-lahan merenggangkan hati anak dari orang tuanya. Sebuah pengingat yang disampaikan oleh Michael Yo mengajak kita menengok ke dalam diri sendiri: mari kita periksa, apakah di antara sikap kita terdapat tanda-tanda yang menunjukkan kita telah menjadi anak durhaka tanpa menyadarinya? Berikut adalah lima tanda tersebut, lengkap dengan penjelasan yang menggetarkan hati.

 Tanda Pertama: Menjawab dengan Nada Tinggi atau Kasar

 Tanda pertama yang sering tidak disadari adalah cara kita berbicara. Menjawab dengan suara meninggi, nada sinis, atau sekadar menyahut dengan ketus—seperti ucapan "Ah, nanti lah!" atau wajah yang berubah masam saat dipanggil—ternyata sudah termasuk perbuatan yang menyakiti hati orang tua. Padahal Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya." Sekadar kata "ah" saja sudah dilarang, apalagi nada yang meninggi dan kata-kata yang tajam. Bukan hanya apa yang kita ucapkan, melainkan bagaimana kita mengucapkannya—itu semua adalah cermin rasa hormat yang ada di dalam hati. Jika nada kita sudah tak lagi lembut, bisa jadi rasa bakti kita pun perlahan telah menipis.

 Tanda Kedua: Lebih Mengutamakan Orang Lain daripada Orang Tua

 Tanda kedua terlihat dari prioritas hati. Teman memanggil, seketika kita bersiap dan bergegas pergi. Namun orang tua memanggil, jawabannya sering kali: "Sebentar dulu..." atau "Nanti saja." Kita rela meluangkan berjam-jam bahkan berhari-hari untuk orang luar, namun bersama orang tua saja kita merasa cepat gelisah dan rimas. Ini bukan sekadar soal waktu, melainkan soal kedudukan di hati. Ketika orang asing menjadi lebih utama daripada yang melahirkan dan membesarkan kita, hati kita perlahan telah menjauh dari mereka. Padahal tidak ada manusia yang lebih tulus menginginkan kebaikan kita selain kedua orang tua.

 Tanda Ketiga: Merasa Malu dengan Orang Tua Sendiri

 Tanda ketiga adalah munculnya rasa malu. Malu dengan cara mereka berbicara, malu dengan penampilan atau pekerjaannya, malu memperkenalkannya kepada orang lain. Kita lupa—dulu mereka tidak pernah malu membesarkan kita, walau dalam keadaan sesulit apa pun. Mereka tidak malu berjuang siang dan malam demi memberi kita kehidupan. Apa yang kita miliki hari ini—pendidikan, kesempatan, kemampuan—semua itu berakar dari pengorbanan mereka yang tak pernah berhitung. Jika kita malu pada mereka, padahal mereka tak pernah malu pada kita, di mana letak rasa terima kasih dan bakti kita?

 Tanda Keempat: Mengabaikan Tanggung Jawab dan Kepedulian

 Tanda keempat adalah melalaikan kewajiban. Ketika kita sudah berpendirian dan sukses, perlahan mulai lupa: siapa yang dulu bersusah payah membesarkan dan mendoakan kita? Berbakti kepada orang tua bukanlah pilihan, melainkan kewajiban seumur hidup. Memberi perhatian, menanyakan kabar, meringankan beban mereka, dan merawatnya di saat lemah—semua itu adalah hak mereka yang tak boleh diabaikan. Bukan sekadar ucapan "terima kasih", melainkan tindakan nyata: waktu, tenaga, dan kepedulian yang tulus. Jika kita sibuk dengan urusan dunia hingga melupakan mereka yang kini mulai menua, hati kita telah menjadi keras.

 Tanda Kelima: Menunda atau Melalaikan Perhatian kepada Mereka yang Menua

 Tanda kelima adalah sikap menunda-nunda. "Nanti aku beri uangnya," "Lain kali aku berkunjungnya," "Sebentar lagi aku menelponnya." Padahal usia mereka terus berkurang, tubuh makin lemah, dan waktu semakin sedikit. Kita tak pernah tahu kapan panggilan itu datang. Menunda berbakti kepada orang tua sama artinya dengan membiarkan mereka menunggu rindu dan kasih yang seharusnya sudah kita berikan hari ini. Jangan sampai ketika mereka telah tiada, barulah kita menangis dan berjanji—saat itu janji tak lagi berguna.

*****

 Kelima tanda di atas bukan ditujukan untuk membuat kita merasa terhina, melainkan untuk merenung dan memperbaiki diri. Masih ada waktu untuk berubah. Lembutkanlah suara, utamakanlah kehadiran mereka, banggalah pada asal-usulmu, tepati segala kewajiban dengan sepenuh hati, dan jangan pernah menunda kebaikan kepada mereka. Karena ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka-Nya tergantung pada kemurkaan mereka. Jagalah hati dan lisanmu, agar kelak anak-anakmu pun menjagamu sebagaimana engkau menjaga orang tuamu hari ini. Itulah warisan mulia yang paling berharga.

(Redaksi)

Tulisan terkait

Utama 1033116532155168167

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item