Peluk Hangat Anak Nakal


Cerpen: Alisa S

Pagi itu langit masih abu-abu, tapi suara di rumah kecil berdinding papan itu sudah ramai. Rani, remaja berusia lima belas tahun, berdiri di depan pintu dapur dengan wajah cemberut.

"Bu, please, sekali ini aja. Rani cuma mau main sama Tika sama anak-anak, mau nonton bareng di rumahnya. Nggak lama kok, Bu," katanya sambil menggenggam ujung baju.

Ibunya, Bu Marni, sedang menghitung uang receh di atas meja kayu yang catnya sudah mengelupas. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab.

"Nak, uang ini cuma cukup buat beli beras sama lauk hari ini. Kalau Ibu kasih buat kamu jajan atau ongkos main, nanti kita makan apa?"

"Tapi kan cuma segini, Bu!" Rani menunjuk lembaran uang yang tak seberapa itu, suaranya meninggi menahan kesal. "Temen-temen Rani semua bisa main, cuma Rani yang nggak pernah bisa!"

Bu Marni tidak membalas dengan marah. Ia hanya menunduk, matanya berkaca-kaca, lalu memasukkan uang itu ke dalam saku baju kerjanya yang lusuh. Di sudut ruangan, Pak Slamet, ayah Rani, berdiri diam sambil mengikat tali sepatu bot kerjanya. Wajahnya menyimpan kekecewaan yang tak terucap, tapi ia memilih bersabar. Ia hanya melirik istrinya sebentar, seolah berkata, biarkan saja, Bu, anak kita masih belum mengerti.

"Rani, Bapak sama Ibu berangkat kerja dulu ya," ucap Pak Slamet pelan, mencoba mencairkan suasana. "Nanti kalau ada rejeki lebih, kita coba cariin waktu buat kamu main."

Rani tidak menjawab. Ia hanya membuang muka dan masuk ke kamarnya, membanting pintu pelan—cukup untuk menunjukkan kekesalannya tanpa benar-benar kasar.

Kedua orang tuanya lalu berjalan keluar rumah, menyusuri gang sempit menuju pasar tempat mereka bekerja sebagai kuli angkut barang dari truk ke los-los pedagang. Pekerjaan itu bukan pekerjaan ringan. Setiap hari mereka harus memanggul karung-karung berat, kadang berisi beras, kadang sayur, kadang buah-buahan, dari truk yang berhenti di pinggir jalan menuju kios-kios di dalam pasar yang becek dan ramai.

Tak lama setelah itu, Rani yang masih kesal memutuskan keluar rumah, berjalan tanpa tujuan jelas untuk menenangkan diri. Kakinya melangkah begitu saja, hingga tanpa sadar ia sampai di dekat pasar tempat kedua orang tuanya bekerja.

Dari kejauhan, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Ibunya, dengan kerudung yang basah oleh keringat, memanggul karung beras di pundaknya, langkahnya terseok tapi tetap dipaksakan. Di sampingnya, ayahnya sedang menurunkan karung-karung dari atas truk, otot lengannya menegang, keringat mengucur deras membasahi kaosnya yang sudah pudar warnanya.

Rani berhenti melangkah. Kakinya seperti terpaku di tempat.

Ia melihat ibunya terhuyung sesaat, hampir jatuh karena beban di pundaknya, tapi buru-buru menegakkan diri lagi. Ia melihat ayahnya menyeka keringat dengan lengan bajunya, lalu kembali mengangkat karung berikutnya tanpa sempat istirahat. Tak ada keluhan yang terdengar dari mulut mereka. Hanya napas yang memburu dan langkah yang terus melangkah, demi menghidupi keluarganya.

Dada Rani tiba-tiba terasa sesak. Bayangan wajahnya sendiri yang tadi merengek soal uang jajan berputar-putar di kepalanya. Ia teringat bagaimana ia membentak, bagaimana ia membanting pintu, padahal yang dilakukan orang tuanya setiap hari adalah membanting tulang, bukan untuk diri mereka sendiri, tapi untuk dirinya.

Air mata Rani jatuh tanpa ia sadari. Rencana awalnya untuk pergi main bersama teman-temannya, yang tadinya begitu ia ingin-inginkan, tiba-tiba terasa tidak penting lagi. Ia menatap uang lima ribu rupiah pemberian ibunya yang masih tergenggam di tangan—uang yang tadinya ia rencanakan untuk membeli jajan di jalan.

Dengan langkah pasti, Rani berbalik arah. Bukan menuju rumah Tika, tapi menuju los sayur dan warung kecil di ujung pasar.

"Bu, minta tolong bawangnya yang ini sama cabenya sedikit," katanya kepada penjual sayur, suaranya masih agak serak menahan tangis.

Ia membeli beberapa bahan sederhana—telur, sedikit sayur, dan tempe—dengan uang yang tersisa, lalu bergegas pulang. Sesampainya di rumah, ia langsung menuju dapur. Tangannya yang biasanya jarang menyentuh kompor kini sibuk memotong, menumis, dan memasak seadanya. Beberapa kali ia hampir menangis lagi mengingat wajah lelah kedua orang tuanya, tapi ia menahan diri dan terus memasak sampai selesai.

Menjelang siang, suara pintu berderit. Pak Slamet dan Bu Marni pulang dengan tubuh yang masih berkeringat dan lelah, wajah mereka menunjukkan kepenatan setelah bekerja sejak pagi.

Begitu masuk ke dalam rumah, keduanya terkejut. Aroma masakan sederhana menyeruak dari dapur. Di atas meja, sudah tersaji nasi hangat, tempe goreng, dan tumis sayur yang mengepul.

"Loh, ini... siapa yang masak?" tanya Bu Marni bingung sambil meletakkan tasnya.

Dari balik pintu dapur, Rani muncul dengan mata masih sedikit sembap, tapi bibirnya tersenyum kecil.

"Rani, Bu. Rani yang masak," jawabnya pelan.

Pak Slamet dan Bu Marni saling pandang, antara heran, kaget, dan haru yang bercampur jadi satu. Tak menyangka anak yang tadi pagi merajuk kini berdiri di depan mereka dengan wajah berbeda—lebih dewasa, lebih tenang.

"Kamu kenapa, Nak? Tadi kan katanya mau main sama Tika?" tanya Pak Slamet lembut.

Rani menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya, menatap kedua orang tuanya bergantian.

"Rani tadi lihat Bapak sama Ibu kerja di pasar. Rani lihat sendiri gimana capeknya Bapak angkat-angkat karung, gimana Ibu sampai hampir jatuh bawa beban berat. Rani jadi malu, Bu, Pak... Rani cuma mikirin main, sementara Bapak sama Ibu banting tulang buat Rani."

Suaranya mulai bergetar, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.

"Maafin Rani ya, Bu, Pak. Rani tadi pagi udah kasar sama Ibu. Rani nggak seharusnya begitu."

Bu Marni langsung mendekat, memeluk anaknya erat-erat. "Nggak apa-apa, Nak. Ibu ngerti, kamu masih remaja, wajar pengen main kayak temen-temen. Ibu sama Bapak yang harusnya minta maaf, belum bisa kasih kamu semua yang kamu mau."

"Bukan gitu, Bu," sela Rani sambil balas memeluk erat. "Rani sekarang ngerti, yang penting bukan main atau jajan. Yang penting Bapak sama Ibu sehat, dan kita bisa makan bareng kayak gini."

Pak Slamet yang sedari tadi diam, akhirnya ikut mendekat dan merangkul keduanya. Air matanya yang tadi ia tahan sejak pagi akhirnya jatuh juga, bukan karena sedih, tapi karena haru dan bangga.

"Bapak bangga sama kamu, Nak," ucapnya serak. "Ternyata anak Bapak sudah besar pikirannya, lebih besar dari yang Bapak kira."

Ketiganya berpelukan di tengah dapur sederhana itu, dikelilingi aroma masakan yang mungkin sederhana, tapi terasa begitu istimewa. Bukan karena kelezatannya, melainkan karena rasa syukur dan cinta yang tersaji bersamanya.

Siang itu, di rumah kecil berdinding papan itu, tak ada lagi kekesalan atau kekecewaan. Yang ada hanyalah tawa kecil, pelukan hangat, dan makan siang sederhana yang terasa paling nikmat yang pernah mereka rasakan bersama—karena kali ini, mereka menyantapnya dengan hati yang penuh.

Tulisan terkait

Utama 384606299321324030

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item