Kiai Hasyim Tabrani: Kiai Pejuang dari Ganding yang Mengomandoi Laskar Sabilillah

Muassis PP Sumber Payung Ganding, Sumenep, yang Mengabdikan Ilmu dan Hidupnya untuk Kemerdekaan

Sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis melalui pertempuran besar di kota-kota utama atau melalui nama-nama tokoh yang tercatat dalam buku sejarah nasional. Di berbagai pelosok negeri, termasuk Madura, terdapat kisah-kisah perjuangan rakyat yang berlangsung dalam kesunyian, jauh dari sorotan sejarah resmi. Para kiai, santri, dan masyarakat desa ikut mempertaruhkan nyawa ketika kemerdekaan yang baru diproklamasikan kembali menghadapi ancaman penjajahan.

Di Ganding, Sumenep, salah satu nama yang dikenang dalam kisah perjuangan tersebut adalah Kiai Hasyim Tabrani. Ia bukan seorang jenderal dengan seragam dan tanda pangkat. Ia adalah seorang kiai pesantren yang sehari-hari mengajarkan ilmu agama, membimbing santri, dan melayani masyarakat. Namun ketika tanah air berada dalam ancaman, sosok yang dikenal bersahaja itu dipercaya memimpin Laskar Sabilillah. Pesantrennya pun berubah menjadi salah satu pusat perlawanan rakyat terhadap pasukan kolonial.

Bagi masyarakat Ganding, kisah Kiai Hasyim Tabrani bukan hanya cerita tentang seorang ulama. Ia merupakan bagian dari sejarah lokal tentang bagaimana pesantren dan masyarakat bersatu mempertahankan kemerdekaan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.

Kiai Hasyim Tabrani diperkirakan lahir pada awal 1900-an di Arongan. Ia merupakan anak kelima dari enam bersaudara dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki garis keturunan ulama. Dari jalur ayah, silsilahnya tersambung kepada Kiai Abdul Akhir atau yang dikenal sebagai Buju Arongan serta Kiai Rowi Langger Asem yang masyhur dengan sebutan Buju Rowi. Sementara dari garis ibunya, Nyai Jauhara Naqiyah, Kiai Hasyim merupakan cucu kandung Kiai Haji Syarqawi, pendiri Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk.

Lingkungan keluarga itulah yang sejak awal membentuk kepribadian Kiai Hasyim. Ayahnya, Kiai Haji Tabrani, dikenal sebagai sosok yang sabar, teduh, dan dekat dengan masyarakat. Bahkan Kiai Haji Syarqawi disebut memiliki penghormatan yang tinggi kepada Kiai Tabrani hingga berinisiatif melamarnya terlebih dahulu untuk dinikahkan dengan putrinya. Dalam tradisi masyarakat pesantren pada masa itu, hal tersebut merupakan bentuk penghormatan yang istimewa.

Sejak kecil, Kiai Hasyim telah terbiasa melihat kehidupan pesantren sebagai pusat pengabdian kepada masyarakat. Pesantren tidak hanya menjadi tempat mempelajari Al-Qur'an dan kitab-kitab keagamaan, tetapi juga menjadi tempat masyarakat mencari nasihat, meminta pertolongan, menyelesaikan persoalan keluarga, bahkan mendapatkan pengobatan tradisional. Pandangan semacam inilah yang kelak diwarisi Kiai Hasyim dalam perjalanan hidupnya.

Masa remajanya diisi dengan perjalanan menuntut ilmu. Mula-mula ia berguru kepada pamannya sendiri, Kiai Haji Abdullah Sajjad, di lingkungan Annuqayah. Setelah itu ia melanjutkan pengembaraan ke Pesantren Baduran yang ketika itu cukup dikenal di kalangan putra-putra kiai. Namun perjalanan pendidikan tersebut harus terhenti lebih cepat setelah ayahnya wafat.

Kiai Hasyim memilih pulang untuk berbakti kepada keluarga. Bersama ibunya, ia menjalani kehidupan sederhana dengan berjualan dari satu tempat ke tempat lain demi menopang ekonomi keluarga. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa bagi Kiai Hasyim, pengabdian kepada orang tua merupakan bagian dari perjalanan keilmuan dan kehidupan yang tidak kalah penting dibandingkan belajar di pesantren.

Setelah masa pengabdiannya kepada sang ibu selesai, Kiai Hasyim menikah dengan sepupunya, Nyai Maimunah binti Kiai Haji Abdullah Sajjad. Keduanya kemudian menetap di sebelah selatan Musholla Latee Putra Annuqayah, kawasan yang kini dikenal sebagai dhalem kesepuhan almarhum KH Ahmad Basyir bin KH Abdullah Sajjad. Di tempat tersebut Kiai Hasyim mulai tekun mengajar dan membina para santri.

Jalan hidupnya kemudian berubah ketika seorang tamu bernama Sayyid Abdullah datang dari Ganding. Masyarakat di daerah tersebut sedang membutuhkan seorang guru agama yang dapat menjadi panutan sekaligus mengajarkan Al-Qur'an dan ilmu keislaman. Sayyid Abdullah bahkan telah menyiapkan tanah lengkap dengan bangunan masjid dan rumah untuk tempat tinggal serta kegiatan pendidikan.

Kiai Hasyim tidak langsung menyanggupi permintaan tersebut. Sayyid Abdullah datang berulang kali untuk menyampaikan maksud masyarakat Ganding. Setelah melalui pertimbangan dan memperoleh restu para sesepuh, Kiai Hasyim akhirnya memantapkan hati. Pada 1942, bersama sang istri, ia boyongan menuju Sumber Payung, Ganding.

Beberapa santri ikut mengiringi langkahnya. Salah seorang di antaranya adalah Said, santri asal Lenteng. Dari tempat inilah kehidupan pesantren yang kemudian dikenal sebagai Pondok Pesantren Sumber Payung mulai tumbuh. Lebih dari delapan dekade kemudian, lembaga pendidikan tersebut tetap menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan Islam di Sumenep.

Di Sumber Payung, Kiai Hasyim bukan hanya mengajarkan kitab kepada santri. Rumahnya terbuka bagi masyarakat luas. Orang datang meminta petunjuk mengenai jodoh, meminta bantuan untuk menikahkan anggota keluarga, memohon nama bagi bayi yang baru lahir, meminta nasihat untuk menyelesaikan perselisihan, hingga meminta pertolongan ketika menghadapi persoalan kesehatan dan kehidupan. Dalam kehidupan masyarakat pesantren, kiai memang bukan sekadar pengajar, melainkan tempat masyarakat memperoleh keteduhan, nasihat, dan perlindungan moral.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, perjuangan bangsa ternyata belum berakhir. Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia. Semangat mempertahankan kemerdekaan kemudian semakin kuat di kalangan ulama dan santri. Resolusi Jihad yang dicetuskan para ulama pada 1945 turut membangkitkan keyakinan bahwa mempertahankan tanah air merupakan kewajiban.

Dalam situasi tersebut, Laskar Sabilillah menjadi salah satu kekuatan perlawanan rakyat. Di Ganding, Kiai Hasyim Tabrani dipercaya oleh Kiai Sajjad untuk memegang tongkat komando sebagai ketua laskar. Kediamannya yang sebelumnya menjadi tempat mengaji dan menerima masyarakat berubah menjadi pusat konsolidasi perjuangan.

Para santri dan masyarakat berdatangan membawa senjata seadanya. Ada bambu runcing, pedang, celurit, dan berbagai perlengkapan sederhana yang dapat digunakan untuk menghadapi pasukan kolonial. Di hadapan mereka, Kiai Hasyim memberikan doa, nasihat, serta bekal spiritual sebelum mereka berangkat ke medan perjuangan. Pekik takbir dan semangat mempertahankan kemerdekaan menjadi pengiring langkah mereka.

Kiai Hasyim memahami bahwa pasukan rakyat tidak mungkin menghadapi kendaraan tempur Belanda secara terbuka. Persenjataan mereka jauh lebih sederhana. Karena itu, strategi gerilya menjadi pilihan. Salah satu langkah yang dikenang dalam riwayat perjuangan masyarakat setempat adalah penghancuran sejumlah jembatan yang menjadi jalur penting pergerakan pasukan Belanda dari arah Pamekasan menuju Sumenep.

Tiga jembatan disebut dalam kisah tersebut, yakni Jembatan Orai Pamoroh Pakong, jembatan perbatasan Cenlecen-Guluk-Guluk, serta Jembatan Sumber Payung. Penghancuran jembatan dimaksudkan untuk menghambat laju kendaraan tempur dan mempersulit pergerakan pasukan penjajah.

Rombongan pasukan Belanda yang bergerak melalui jalur Pakong akhirnya merangsek hingga mendekati Guluk-Guluk. Mengetahui pasukan musuh semakin dekat ke Sumber Payung, Kiai Hasyim segera mengungsikan keluarganya ke arah selatan, sekitar dua kilometer dari kediamannya.

Kekhawatiran itu kemudian terbukti. Ketika pasukan Belanda tiba di Sumber Payung dan mendapati jembatan telah dihancurkan, kemarahan mereka meledak. Kendaraan lapis baja diarahkan ke kawasan permukiman. Rumah-rumah warga ditabrak dan diratakan. Pasukan kemudian menyisir wilayah sekitar untuk mencari tokoh yang dianggap paling bertanggung jawab atas perlawanan rakyat di Ganding. Nama yang mereka cari adalah Kiai Hasyim Tabrani.

Dalam tradisi lisan masyarakat Sumber Payung, terdapat sebuah kisah yang kemudian dikenang sebagai salah satu karomah Kiai Hasyim. Pasukan Belanda disebut mendirikan titik kumpul tidak jauh dari kediamannya, bahkan persis di sekitar rumah sang kiai. Namun anehnya, para serdadu tersebut seolah tidak mampu melihat keberadaan rumah itu. Mereka berputar-putar mencari tokoh yang diburu, sementara rumah Kiai Hasyim tetap berdiri tanpa tersentuh.

Bagi masyarakat yang mewariskan cerita tersebut, peristiwa itu diyakini sebagai karomah sekaligus pertolongan Allah kepada seorang ulama yang sedang mempertahankan tanah air. Secara historis, kisah tersebut tentu perlu ditempatkan sebagai bagian dari kesaksian dan tradisi lisan masyarakat. Namun terlepas dari cara melihatnya, cerita tersebut menunjukkan betapa kuatnya ingatan kolektif masyarakat terhadap sosok Kiai Hasyim dan perjuangannya.

Perjuangan menghadapi agresi dan mempertahankan kemerdekaan berlangsung dalam suasana yang berat. Para pejuang harus bergerak dengan keterbatasan senjata, menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih lengkap. Kiai Hasyim berada di tengah situasi tersebut sebagai seorang kiai sekaligus pemimpin rakyat.

Ketika keadaan akhirnya kembali aman dan perang mereda, Kiai Hasyim tidak memilih jalan kemasyhuran. Ia tidak meminta jabatan militer, tidak mengejar kedudukan politik, dan tidak menjadikan pengalaman perjuangannya sebagai alat untuk memperoleh keuntungan pribadi. Ia justru kembali ke pesantren.

Kitab kuning kembali terbuka di hadapannya. Para santri kembali duduk mengelilinginya. Masyarakat kembali datang meminta nasihat dan pertolongan. Seolah-olah perang hanyalah sebuah episode panjang yang harus dilalui, sedangkan pengabdian kepada ilmu dan masyarakat merupakan jalan hidup yang sebenarnya.

Di situlah sosok Kiai Hasyim Tabrani menemukan makna kepahlawanan yang berbeda. Ia berjuang ketika bangsa membutuhkan keberanian, tetapi kembali menjadi guru ketika masyarakat membutuhkan ilmu. Ia tidak menjadikan perjuangan sebagai tangga menuju kekuasaan. Ia kembali kepada kehidupan pesantren, kepada santri, kepada masyarakat, dan kepada pengabdian yang sejak awal menjadi bagian dari kehidupannya.

Karena itu, mengenang Kiai Hasyim Tabrani tidak cukup hanya dengan menyebutnya sebagai pendiri Pondok Pesantren Sumber Payung atau pemimpin Laskar Sabilillah di Ganding. Ia adalah gambaran tentang bagaimana pesantren pada masa perjuangan dapat menjadi pusat pendidikan sekaligus pusat pembelaan terhadap bangsa. Dari pesantren lahir ilmu, keberanian, solidaritas, dan kesadaran bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah yang dapat diterima begitu saja.

Kisah Kiai Hasyim juga mengingatkan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh yang namanya tercetak besar dalam buku sejarah nasional. Di desa-desa, di halaman pesantren, di jalan-jalan kecil Madura, terdapat rakyat yang ikut mempertaruhkan hidupnya. Ada kiai yang memimpin, santri yang berangkat ke medan laga, dan masyarakat yang memberikan dukungan dengan segala kemampuan yang mereka miliki.

Kiai Hasyim Tabrani kemudian dikenang bukan karena kemegahan jabatan atau penghargaan yang pernah diterimanya, melainkan karena ketulusan pengabdiannya. Ia mewariskan pesantren sebagai rumah ilmu, perjuangan sebagai bagian dari tanggung jawab kebangsaan, dan kesederhanaan sebagai jalan hidup.

Pada akhirnya, kepahlawanan Kiai Hasyim Tabrani bukan hanya tentang bagaimana ia menghadapi penjajah dengan laskar dan strategi gerilya. Lebih jauh dari itu, kepahlawanannya terletak pada kesediaannya memberikan seluruh hidup untuk kepentingan masyarakat. Ia mengajarkan ilmu ketika masyarakat membutuhkan ilmu, memberikan perlindungan ketika masyarakat menghadapi ancaman, dan berdiri bersama rakyat ketika kemerdekaan berada dalam bahaya.

Ia tidak berjuang untuk dikenang. Ia berjuang karena kemerdekaan harus dipertahankan.

Dan ketika perang selesai, ia kembali membuka kitab.

Di situlah warisan seorang kiai pejuang menemukan maknanya: darah dan keberanian untuk mempertahankan kemerdekaan, ilmu untuk mencerdaskan generasi, serta ketulusan untuk mengabdi kepada masyarakat.

(Sumber: akun FB Rocky Van Madura/Rulis)

Tulisan terkait

Utama 325655217369096808

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item