Sepupu yang Merendahkan

 


Cerpen: Moh. Yasin

Di ruang tamu yang penuh hiasan mewah, suasana pertemuan keluarga terasa tegang. Di satu sisi duduklah seorang pria berpakaian rapi dengan jam tangan berlian di pergelangannya, Pak Jafar. Di sisi lain duduk seorang pria berpakaian bersih namun polos tanpa perhiasan apa pun, Pak Saleh. Pak Jafar memandang tajam lalu melontarkan pertanyaan yang membelah keheningan.

"Wahai Saleh, lihatlah dirimu. Kapan kau akan maju? Selalu saja seperti itu — pakaian sederhana, kendaraan tua, rumah kecil. Lihatlah aku. Semua orang menghormatiku. Kau ini malu-maluin keluarga saja. Apa gunanya hidup kalau tidak bisa menampakkan kemewahan?" ucap Pak Jafar dengan nada meremehkan.

Pak Saleh menatap tenang, tidak tersinggung, lalu menjawab lembut.

"Wahai sepupuku, kemewahan itu titipan. Harta bisa berpindah, kedudukan bisa hilang. Yang abadi adalah kehormatan hati dan akhlak. Janganlah kau menghina keadaan orang lain, karena roda kehidupan selalu berputar."  kata Pak Saleh dengan tenang.

"Halah! Alasan saja kau. Miskin lalu berdalih! Aku punya segalanya. Kau? Apa yang kau punya? Hanya kata-kata kosong!" — tertawa Pak Jafar keras sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.

Para kerabat yang hadir hanya diam merasa tidak enak hati. Pak Saleh kembali menunduk menyabarkan diri dan tidak membalas lagi.  

*****

Tiga tahun telah berlalu. Tak ada yang menyangka. Usaha Pak Jafar bangkrut total, terjerat utang besar, asetnya disita bank. Istrinya pergi, anak-anaknya menyebar tak tentu arah. Ia jatuh miskin, berpakaian lusuh, dan terpaksa meminta sedekah di jalanan. Sementara itu, Pak Saleh tetap hidup sederhana namun berkah. Usahanya tumbuh perlahan namun kokoh. Ia tetap rendah hati, tetap menolong siapa saja yang membutuhkan, dan tak pernah lupa bersyukur. 

*****

 Suatu sore di depan rumah Pak Saleh yang kini cukup layak namun tetap sederhana, seorang pengemis tua berjalan tertatih-tatih. Wajahnya kusam, matanya sayu. Itu adalah Pak Jafar. Ia memberanikan diri mengetuk pintu meminta sedikit makanan. Pak Saleh keluar, melihatnya, dan langsung mengenali wajah itu. Hatinya terenyuh. Ia segera mempersilakan masuk, membawakan air bersih, makanan hangat, dan pakaian yang layak. Pak Jafar menunduk dalam, air matanya jatuh membasahi pipi.

"Aku malu... Dulu aku menghinamu, merendahkanmu di hadapan semua orang. Sekarang akulah yang memohon padamu. Kau pasti ingin membalas dendam, kan? Kau pasti ingin berkata: 'Lihatlah siapa yang rendah sekarang?'" — tanya Pak Jafar dengan suara gemetar penuh penyesalan.

Semua orang yang hadir menanti dengan napas tertahan. Mereka menduga Pak Saleh akan berkata: "Lihatlah, aku telah ditinggikan dan kau direndahkan!" — sebuah pembalasan yang pantas dan memuaskan hati. Namun...

Pak Saleh justru tersenyum lembut lalu berkata dengan suara tenang dan dalam.

"Tidak, Jafar. Aku tidak merasa lebih baik darimu. Kau jatuh karena harta yang kau banggakan. Aku berdiri karena aku tidak pernah menggantungkan harga diriku pada harta itu. Yang membuatku berbeda bukanlah apa yang aku miliki sekarang, melainkan apa yang aku pelajari dari Tuhan: Bahwa hari ini kau di atas, besok bisa di bawah — dan sebaliknya. Maka jangan pernah meninggikan diri di atas ranting yang rapuh."  ucap Pak Saleh tulus tanpa sedikit pun nada kemenangan.

Pak Jafar ternganga. Ia bersiap mendengar kalimat kemenangan yang menyakitkan, namun yang diterimanya justru kasih sayang tanpa syarat. Tidak ada kemenangan, tidak ada kepuasan balas dendam. Yang ada hanyalah kelembutan yang justru membuat hatinya terasa semakin remuk dan hancur. Pak Saleh menatapnya lekat-lekat lalu melanjutkan pelan.

"Jangan takut. Tetaplah di sini. Kita adalah saudara. Perbedaan keadaan tidak pernah mengubah darah yang mengalir di tubuh kita. Yang salah dulu adalah mulutku yang diam saat kau menghina, bukan keadaanmu yang berubah hari ini."  kata Pak Saleh sambil menepuk bahu sepupunya perlahan.

Pak Jafar tak mampu berkata apa-apa. Ia menangis tanpa suara. Bukan karena sedih, melainkan karena ia menyadari bahwa kemewahan yang dulu ia bangga-banggakan tidak pernah mampu membeli kebesaran jiwa yang dimiliki saudaranya yang kini berdiri tenang, rendah hati, dan jauh lebih mulia daripada siapa pun. 

Dan di sanalah cerita itu berakhir: bukan dengan kemenangan yang disanjung-sanjung, melainkan dengan keheningan penuh penyesalan — di mana yang merendahkan akhirnya menyadari bahwa ia telah menghina kemuliaan yang tak pernah bisa dimilikinya.

Tulisan terkait

Utama 6792902450715727679

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item