Lelaki Tua di Ambang Mukjizat


Cerpen: May Dindy

Jumat sore itu, langit menggantung kelabu di atas sebuah kampung kecil yang dikelilingi hamparan sawah dan pepohonan tua. Angin berembus perlahan, menggoyangkan daun-daun pisang di halaman rumah penduduk. Sesekali terdengar deru sepeda motor melintas di jalan utama, memecah kesunyian yang menyelimuti rumah-rumah sederhana di sepanjang jalan.

Di sebuah rumah berdinding kusam dengan pagar besi yang mulai berkarat, Marni sedang menyapu halaman. Perempuan berusia empat puluh tahun itu mengenakan daster sederhana yang warnanya telah memudar. Rambutnya diikat seadanya, sementara wajahnya menyimpan gurat kelelahan yang tak pernah benar-benar hilang sejak dua tahun terakhir.

Dua tahun lalu, suaminya, Darmawan, meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Kepergian lelaki itu bukan hanya meninggalkan kesedihan, melainkan juga lubang besar dalam kehidupan Marni. Darmawan adalah tempatnya bersandar, teman berbagi kesulitan, sekaligus tulang punggung keluarga.

Sejak pemakaman suaminya, kehidupan Marni berubah drastis. Ia harus menjalani hari-hari seorang diri, mencari penghasilan seadanya, mengurus rumah, dan merawat putri semata wayangnya, Rizkiyah.

Namun, seolah kehilangan suami belum cukup berat, sebuah cobaan lain datang menghantam keluarga kecil itu.

Rizkiyah mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya.

Awalnya, kelumpuhan itu datang secara perlahan. Rizkiyah sering mengeluh kakinya terasa lemah dan sulit digerakkan. Setelah menjalani pemeriksaan dan pengobatan, kondisinya justru semakin memburuk. Berbagai usaha telah dilakukan Marni. Ia membawa putrinya ke puskesmas, rumah sakit, dan tempat-tempat pengobatan lain yang direkomendasikan orang-orang.

Tabungannya habis sedikit demi sedikit. Barang-barang berharga di rumah pun terpaksa dijual. Namun, hingga berbulan-bulan berlalu, kaki Rizkiyah tetap tak mampu menopang tubuhnya.

Kini, gadis itu menghabiskan sebagian besar waktunya di kursi roda.

Meski demikian, Marni tak pernah membiarkan putrinya merasa menjadi beban.

Setiap pagi, ia membantu Rizkiyah mandi, menyiapkan makanan, menyisir rambutnya, dan mendorong kursi rodanya ke teras agar gadis itu bisa menikmati udara segar. Jika Rizkiyah merasa sedih, Marni akan duduk di sampingnya, menggenggam tangannya, lalu bercerita tentang hal-hal kecil yang bisa membuat mereka tersenyum.

"Mak, apa suatu hari nanti aku bisa berjalan lagi?" tanya Rizkiyah suatu malam.

Pertanyaan itu membuat dada Marni terasa diremas.

Ia memandang wajah putrinya yang diterangi lampu minyak di sudut kamar. Ada harapan di mata gadis itu, tetapi juga ketakutan yang berusaha disembunyikannya.

Marni mengusap rambut anaknya.

"Insyaallah, Nak. Kita terus berusaha, ya. Selama kita masih diberi hidup, jangan berhenti berharap."

"Kalau ternyata aku tidak bisa berjalan lagi?"

Marni terdiam sejenak. Ia sendiri tidak memiliki jawaban yang pasti.

"Kalau jalanmu masih panjang dengan kursi roda, Mak akan tetap menemanimu. Kalau suatu hari kamu bisa berdiri, Mak juga akan ada di sampingmu. Apa pun yang terjadi, kamu tidak sendirian."

Rizkiyah memeluk ibunya. Malam itu, ketika putrinya tertidur, Marni menangis tanpa suara. Ia menangis bukan karena menyesali nasib, melainkan karena ingin sekali memberikan kehidupan yang lebih baik kepada anak yang sangat dicintainya.

Namun, esok pagi, ia kembali bangun, menyapu halaman, memasak, dan bekerja serabutan. Ia tidak tahu kapan pertolongan akan datang. Ia hanya tahu bahwa menyerah bukan pilihan.

Jumat sore itu, Rizkiyah sedang duduk di teras, menghirup udara segar sambil memandang kendaraan yang berlalu-lalang di jalan utama.

Angin membawa aroma tanah dan dedaunan. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan di antara awan.

Marni sedang menyapu halaman ketika terdengar suara seseorang memanggil dari balik pagar.

"Assalamu'alaikum."

Marni menghentikan sapu.

Di depan pagar berdiri seorang lelaki tua dengan pakaian sangat sederhana. Ia mengenakan baju lengan panjang berwarna cokelat kusam, celana kain hitam yang tampak usang, dan sandal tipis yang sudah kehilangan bentuknya. Rambutnya putih seluruhnya. Janggutnya pendek, sementara wajahnya dipenuhi keriput.

Anehnya, meskipun penampilannya menunjukkan usia yang lanjut, sorot matanya tampak jernih dan menenangkan.

"Wa'alaikumussalam," jawab Marni sambil mendekat. "Ada apa, Pak?"

Lelaki tua itu tersenyum tipis.

"Maaf, Nak. Boleh saya meminta air putih? Saya haus sekali. Kalau tidak merepotkan, barangkali ada sedikit air untuk diminum."

"Tentu, Pak. Silakan masuk."

Marni membuka pagar dan mempersilakannya duduk di teras, tak jauh dari kursi roda Rizkiyah.

Lelaki tua itu mengucapkan terima kasih, lalu duduk perlahan. Ia menatap Rizkiyah sejenak.

"Ini anakmu?" tanyanya.

"Iya, Pak. Anak saya satu-satunya."

"Namanya siapa?"

"Rizkiyah."

Lelaki tua itu mengangguk. Ia kembali memandang gadis itu dengan senyum yang sulit dijelaskan.

"Nama yang baik. Semoga hidupnya selalu dilimpahi kebaikan."

"Amin," jawab Rizkiyah lirih.

Marni masuk ke dapur untuk mengambil segelas air. Saat hendak kembali, ia teringat bahwa sejak pagi belum ada tamu yang berkunjung, dan mungkin lelaki tua itu juga belum makan.

Ia pun membuka tempat nasi, mengambil sepiring nasi hangat, lalu menambahkan sayur bening dan sepotong tempe goreng.

"Kasihan, pasti beliau lapar," gumamnya.

Dengan membawa makanan dan segelas air, Marni bergegas kembali ke teras.

Namun, ketika sampai di pintu, ia tertegun.

Lelaki tua itu tidak lagi berada di tempat duduknya.

Marni memandang halaman, kemudian menoleh ke arah pagar. Pagar itu masih tertutup. Ia tidak mendengar suara langkah kaki ataupun bunyi sandal yang menjauh.

"Pak?" panggilnya.

Tak ada jawaban.

"Mungkin beliau sudah pulang," pikir Marni. "Barangkali ada keperluan lain."

Ia meletakkan piring di meja kecil, kemudian berbalik untuk memberitahukan Rizkiyah bahwa tamunya telah pergi.

Saat itulah dunia seolah berhenti berputar.

Piring di tangan Marni terlepas.

Prang!

Pecahannya berhamburan di lantai. Nasi dan sayur berserakan di dekat kakinya.

Di hadapannya, Rizkiyah sedang berdiri.

Bukan duduk di kursi roda.

Bukan sedang mencoba mengangkat tubuhnya dengan berpegangan pada meja.

Gadis itu berdiri tegak di atas kedua kakinya sendiri.

Marni membeku. Napasnya tertahan. Matanya membelalak, seakan-akan ia sedang menyaksikan sesuatu yang mustahil terjadi di dunia nyata.

"Nak ..."

Suaranya bergetar.

Rizkiyah menoleh. Air mata mengalir di pipinya.

"Mak ..."

Gadis itu melangkah satu kali.

Kemudian satu langkah lagi.

Kakinya bergerak. Tubuhnya seimbang. Kedua tangannya terangkat sedikit untuk menjaga keseimbangan, tetapi ia tidak terjatuh.

"Mak, aku bisa berdiri!"

Jeritan itu pecah bersama tangis yang tak terbendung.

Marni berlari menghampiri putrinya. Ia memeluk tubuh Rizkiyah erat-erat, seolah takut gadis itu akan menghilang jika pelukannya mengendur.

"Ya Allah! Anakku! Anakku bisa berdiri!"

Ia menangis sambil meraba kedua kaki putrinya, menyentuh lututnya, menggenggam tangannya, kemudian kembali memeluknya.

"Rizkiyah, kamu tidak sakit? Kamu benar-benar bisa berdiri?"

Rizkiyah mengangguk sambil terisak.

"Mak, tadi ... tadi lelaki tua itu mendekatiku."

Marni terdiam.

"Apa yang terjadi, Nak?"

Rizkiyah berusaha menenangkan napasnya, meskipun suaranya masih bergetar.

"Ketika Mak masuk ke rumah, beliau berdiri di depanku. Beliau tersenyum, lalu mengusap kepalaku."

Marni memandang putrinya dengan penuh perhatian.

"Setelah itu, beliau mengusap bahuku, tanganku, lalu kedua kakiku. Tangannya terasa hangat, Mak. Beliau berkata, 'Jangan takut, Nak. Berusahalah berdiri.'"

Rizkiyah menelan ludah sebelum melanjutkan.

"Aku merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan selama ini. Seperti ada aliran hangat menjalar dari tubuhku sampai ke ujung kaki. Awalnya hanya jari-jariku yang bergerak. Lalu lututku terasa kuat. Beliau memegang tanganku dan menyuruhku mencoba berdiri."

Gadis itu menangis lagi.

"Aku berdiri, Mak. Aku benar-benar berdiri!"

Marni memeluknya semakin erat. Air matanya membasahi rambut putrinya.

"Lalu lelaki itu ke mana, Nak?"

Rizkiyah menoleh ke arah pagar.

"Beliau berjalan keluar. Aku melihatnya melewati pagar, lalu tiba-tiba ..."

"Tiba-tiba apa?"

"Beliau menghilang."

Marni melepaskan pelukannya perlahan.

"Menghilang bagaimana?"

"Seperti lenyap begitu saja, Mak. Padahal aku masih melihat beliau berjalan ke arah jalan. Aku berkedip sebentar, lalu beliau tidak ada. Tidak ada seorang pun di jalan itu."

Marni merasa bulu kuduknya berdiri.

Ia bergegas menuju pagar. Jalan utama masih ramai oleh kendaraan, tetapi tak terlihat seorang lelaki tua dengan pakaian cokelat kusam. Ia bertanya kepada seorang tetangga yang kebetulan melintas, apakah melihat seorang pria tua keluar dari rumahnya.

Tetangga itu menggeleng.

"Tidak melihat siapa-siapa, Marni. Memangnya ada tamu?"

Marni tidak segera menjawab.

Ia kembali masuk, memandang kursi roda yang kini kosong. Kursi itu masih berada di tempat semula, seakan-akan tidak pernah menyaksikan apa pun.

Namun, di hadapannya kini berdiri putri yang selama bertahun-tahun hanya bisa bergerak dengan bantuan kursi roda.

Marni berlutut.

Kedua tangannya terangkat ke langit.

"Ya Allah ..."

Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari mulutnya.

Ia menangis tersedu-sedu. Bukan lagi tangis putus asa yang sering disembunyikannya pada malam hari, melainkan tangis syukur yang datang dari tempat terdalam di hatinya.

"Ya Allah, jika ini benar pertolongan-Mu, aku bersyukur. Aku tidak tahu siapa lelaki itu. Aku tidak tahu dari mana ia datang dan ke mana ia pergi. Tetapi Engkau mengetahui segala sesuatu yang tidak mampu kupahami."

Rizkiyah ikut berlutut di samping ibunya. Keduanya berpelukan sambil menangis, membiarkan rasa takjub dan kebahagiaan mengalir tanpa mampu mereka bendung.

Sore itu, matahari perlahan tenggelam. Cahaya keemasan menyentuh wajah ibu dan anak tersebut, menerangi teras kecil yang menjadi saksi sebuah peristiwa di luar dugaan mereka.

Kabar tentang Rizkiyah segera menyebar ke seluruh kampung.

Orang-orang berdatangan. Ada yang menangis terharu, ada yang memandangnya dengan takjub, dan ada pula yang berulang kali bertanya bagaimana gadis itu bisa sembuh dalam waktu singkat.

Sebagian orang mengira ada pengobatan rahasia yang dilakukan Marni. Sebagian lainnya menduga kejadian itu hanyalah kesalahpahaman.

Namun, mereka yang menyaksikan Rizkiyah melangkah sendiri tidak dapat menyangkal apa yang ada di hadapan mata.

Marni menceritakan kejadian itu berkali-kali. Setiap kali sampai pada bagian ketika lelaki tua itu menghilang, suaranya kembali bergetar.

Ia tidak berani memastikan dengan pengetahuan manusia yang terbatas, tetapi dalam hatinya tumbuh keyakinan yang begitu kuat.

Lelaki tua itu bukan orang biasa.

Dalam keyakinan Marni, mungkin ia adalah malaikat yang diutus Tuhan dengan rupa seorang manusia, datang membawa pertolongan ketika sebuah keluarga berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.

Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah dalam pandangan Marni: ia tidak memuja lelaki tua itu, tidak pula menjadikannya pusat dari semua rasa syukurnya.

Ia hanya bersujud kepada Tuhan.

Sebab baginya, jika benar sebuah mukjizat telah terjadi, maka sumber segala pertolongan tetaplah Allah, bukan sosok yang datang dan pergi tanpa meninggalkan jejak.

Hari-hari berikutnya, Marni tetap menjalani hidup sederhana. Ia masih menyapu halaman, memasak di dapur kecil, dan bekerja sebisanya. Bedanya, kini Rizkiyah dapat berjalan di sampingnya.

Pada suatu pagi, ketika mereka membersihkan halaman bersama, Rizkiyah berhenti di dekat pagar.

"Mak, bagaimana kalau suatu hari kita bertemu lelaki tua itu lagi?"

Marni tersenyum. Ia memandang jalan yang membentang di depan rumah mereka.

"Kalau Allah menghendaki, mungkin saja, Nak."

"Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya."

Marni mengusap bahu putrinya.

"Kalau suatu hari kamu bertemu dengannya, ucapkanlah. Tetapi jangan lupa, Nak, berterima kasihlah juga kepada Allah setiap hari. Kita tidak pernah tahu melalui siapa pertolongan akan datang."

Rizkiyah mengangguk.

Angin pagi berembus lembut, menggoyangkan daun-daun di halaman. Untuk sesaat, Marni merasa seolah-olah seseorang sedang berdiri di seberang jalan, memandang mereka dari kejauhan.

Ia menoleh.

Tak ada siapa-siapa.

Hanya jalan yang lengang, pepohonan yang bergoyang, dan cahaya matahari yang perlahan menyinari bumi.

Marni tersenyum kecil, lalu kembali menggenggam tangan putrinya.

Ia akhirnya memahami sesuatu yang selama ini luput dari kesedihannya: hidup memang tidak selalu memberikan jawaban atas setiap penderitaan. Kadang-kadang, manusia harus berjalan melewati malam yang panjang tanpa mengetahui kapan fajar akan tiba.

Tetapi harapan tidak selalu datang dengan suara gemuruh.

Kadang-kadang, ia mengetuk pagar rumah dalam rupa seorang lelaki tua berpakaian sederhana, meminta segelas air, duduk sebentar, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak.

Dan ketika ia pergi, sesuatu yang tak ternilai telah tertinggal.

Bagi Marni, itu bukan sekadar kemampuan putrinya untuk berdiri.

Itu adalah kembalinya harapan yang pernah hampir padam, pengingat bahwa kebaikan kecil tidak pernah sia-sia, dan keyakinan bahwa di tengah dunia yang sering terasa kejam, selalu ada ruang bagi pertolongan yang tak mampu dijelaskan oleh akal manusia.

Sejak sore Jumat itu, setiap kali seseorang mengetuk pintu rumahnya untuk meminta air, Marni selalu menyambutnya dengan senyum dan tangan terbuka.

Ia tidak pernah lagi memandang seorang musafir sebagai orang asing semata.

Sebab, siapa tahu, di balik wajah sederhana seorang manusia, tersimpan rahasia yang hanya diketahui oleh Tuhan.

Dan siapa tahu pula, ketika manusia merasa telah sampai di ujung segala daya, justru saat itulah pertolongan datang dari arah yang sama sekali tidak pernah disangka.

Tulisan terkait

Utama 467296435249541927

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Pelatihan Pewara

Pelatihan Pewara

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item