Puisi-Puisi Syaf Anton Wr dalam Dialog Sastra Lagi


Puisi-puisi dibawah ini diambil dari buku Kumpulan Puisi dan Cerpen, ”Dialog Sastra Lagi”, penulis Aming Amimoedhin, Syaf Anton Wr, Tengsoe Tjahjono, M. Shoim Anwar dan Suharmono Kasijun, penerbit Delima Sidoarjo kerjasama dengan Forum Sastra Bersama Surabaya, 2024

*****


Tepian Malam

di tepian malam engkau datang padaku
seraya menjulurkan selendang cahaya
lalu engkau berkata:
jangan hiraukan malam yang dingin dan beku

aku tersanjung dan terlupa
bahwa sebenarnya engkaulah bidadari yang mengantarkan sejuk ini
kedalam jiwaku yang runtuh

bagaimana aku menceritakan bulan
bila gigil malam mendekapku sedemikian kuat

begini saja mari runtuhkan bulan
meski akan terluka dan berdarah-darah
sebab disinilah bisa bercengkrama
dalam bisikan malam gulita

2023



Perjalanan

hari ini aku baik-baik saja
bahkan telah tunai mengeja waktu yang demikian panjang
ada nafas lelah menghitung denyut yang kadang tak beraturan
ada getar menyisakan semangat untuk bertahan

siapa yang datang menyambut dengan senyum
maka dialah rupa yang selalu menjelma jadi dahaga
kuhirup dan kujadikan darah
untuk menuju perjalanan lebih panjang

jangan kau tanyakan lagi
mengapa aku terus berjalan
karena waktuku tak kan berhenti meski dalam lelah
karena perjalanan ini tak pernah berakhir

2024



Mengapa Kau Masih Saja Muram

mengapa kau masih saja muram, sayang
bukankah telah kau raih jejal nama dan derajatmu
yang kau impi sejak awal hidupmu ada
bukankah nestapa telah kau himpit
menjadi kata-kata meski tanpa suara

ketika angin menyapu dermaga
kau berdiam dan sembunyi dibalik sampan
dan sampan itu mengantarmu menjadi puisi
dan disitulah nama dan derajatmu menggantang awan
kemudian secara perlahan dan pasti
mengucurkan aroma tak terhingga

mengapa kau masih saja muram, sayang
sedangkan aku yang masih saja mengeja alif lam mim
tak sanggup melafalkan kalimat
dan bahkan melupakan abjad-abjad yang kau tunjukkan padaku

maka diamlah, sayang
namamu telah abadi bersama aroma kembang nafasmu
nafasmu, menjadikan aku cemburu
pada khilafnya masa lalu

2024



Lahir Kembali

hari ini aku lahir kembali
dari rahim jaman
orang-orang berkeliaran menari-nari
sambil mendendangkan lagu-lagu sumbang

aku lahir kembali tanpa bapak dan ibu
tanpa ari-ari tanpa dukun tanpa tangis
kebisingan telah menyelemuti jiwaku
sehingga telingaku menjadi pekak

aku pun tak tahu mengapa mataku jadi nanar
gendang telingaku terus berdengung
seperti raung kereta api malam
memecah keheningan

aku lahir kembali dalam reruntuhan waktu
tanpa sambutan suka cita
tanpa pelukan orang-orang tercinta
tanpa doa tanpa ucapan selamat hari kelahiran

aku lahir kembali
dalam asuhan waktu
dalam teriakan matahari
karena akulah waktu

2024



Yang Kami Inginkan Hanyalah

yang kami inginkan hanyalah
desir angin laut di celah debur ombak
kelebat camar menggapai malam
bias purnama membagi cahaya di halaman rumah
para nelayan bersuka cita diantara harapan
dan antara kami berbagi cerita tentang masa depan

bukan badai dan topan melanda pesisir kami
bukan limbah racun menghiasai pantai kami
bukan cukong menguasi warisan leluhur kami
bukan investor yang mengganggu kenyamanan hidup kami

bibit-bibit ikan yang ditabur nenek moyang
kini bersembunyi diantara ketidak pastian musim
sedang anak-anak, cucu-cucu kami mulai kehilangan harapan
tak mampu lagi mengais masa depan,
lantaran laut tak lagi menunjukkan perkasanya
diantara hamparan jaring-jaring nasib kami

yang kami ingin hanyalah
tanah tegalan yang menghasilkan singkong dan jagung
hamparan sawah yang membernaskan kehidupan
sayur mayur meninggikan nutrisi tubuh kami
agar generasi bersemangat menderas cita-citanya
sebagaimana kau ajarkan pada kami

bukan bolduzer, bukan traktor raksasa
bukan angka-angka bukan pula slogan-slogan tak nyata
bukan hamburger, pizza, atau spagethi,
bukan beton-beton perkasa
bukan kilau cahaya pemukiman rumah-rumah mewah
bukan buzzer, yang berceloteh omong kosong

kami hanya ingin hidup tenang, aman dan sentausa
jangan ajarkan kami mengolah tanah jadi baja
kami telah lama terasing dari kampung sendiri
dan kami terhimpit kepungan-kepungan nasib yang tak henti-henti
mendera dalam lapar dan dahaga

yang kami inginkan hanyalah
membaca hidup dari tradisi kami
yang tersisa dari reruntuhan peradaban
alunan saronen mengiringi kidung pinggiran
terus menggema tak henti-henti diantara telinga kami

biarkan suara kami melantun, lantaran inilah semangat hidup
yang mengantarkan menjadi lebih bermakna
dari sinilah kami belajar nilai-nilai kearifan, kebijaksanaan dan solidaritas
biarkan suara anak kecil senandungkan lagu-lagu keabadian
dan biarkan kami tumbuh bersama keindahan alam

namun jangan usik puisi-puisi abadi ini
karena puisi adalah sinyal kehidupan
yang tumbuh dari kebanggaan dan harga diri
dan dari sini pula kami nyata dan lebih berharga

kami tidak bangga dalam pesta sesaat,
yang justru menyesatkan nilai-nilai keabadiannya
jangan usik bangunan moral yang indah ini
bila sekedar menjadi ekploitasi kepentingan pembangunan
lalu ditelantarkan bila tidak terasa nikmat

inilah kami, orang-orang pinggiran yang tak pandai bernyanyi
kami menjalankan hidup apa yang kami bisa
sebagaimana diajarkan oleh leluhur dan para pemimpinan kami
kami patuh menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara
kami tanamkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan melalui cara-cara kami
kami bukan pesakitan yang kerap menjadi tumbal waktu

jangan dengarkan celoteh ini,
dan biarkan berlalu tanpa arti
karena memang kami tidak punya arti
namun kami telah menjalankan amanat bumi ini
sebagaimana terurai nilai kehidupan manusia

2022/2024



Cahaya Perempuan Luka

kubangunkan cahaya untukmu
agar kau berkaca seraya menghitung hari
sambil menuai mimpi yang tak berakhir
meski kau runtuhkan langit

lukamu yang satu, biarkan menganga
biarkan ornamen hidup menyusup di dalamnya
karena lukamu adalah bara
yang akan membakar bumi ini

kisah luka telah menjadi sejarah nenek moyang
yang pernah kau sapa dalam rahim ibu
kisah luka akan selalu mendera para pengeja
perempuan-perempuan perkasa

ada bentuk yang tak tampak
dari helaan nafas panjang kaum penista
dan mengabarkan hiruk pikuknya kota
kota yang menggilas peradaban ini
sampai tubuhmu renta

pekabaran malam telah kusingkapkan untukmu
dan kualirkan darah untuk basuhmu
lalu biarkan langit bergerai
agar kau lebih tampak dalam warna cahaya
cahaya perempuanmu

2010




Padang Penyucian

telah lama mereka tafakkur
berdzikir lafad-lafad malam
di sudut gang-gang kota
“mereka memuja tuhannya sampai gelap mata”

seperti ketika para aulia
menggiring para pendosa ke padang penyucian
lalu mencabut bulu-bulu dan kuku-kuku mereka
sampai tak lagi bentuk

“lapar mengajar ruh jiwaku
tentang bulan di tengah padang
tentang langit tak berujung
tentang air dan api
tentang waktu”

lalu mereka menjerit menatap alam hangus terbakar
kota-kota bagai neraka dan menyemburkan api murka
bumi dan langit berbentur dan bintang pun lebur
mencair jadi bah

mereka tafakkur, mereka berdzikir
dalam gelap mata sampai suntuk

2015



Menanti Subuh

setiap detak berdenyut
mengajarkan maut dari waktu ke waktu
kapan jalan ini jadi lapang
mencapai puncak kemenangan
seperti ketika para pendahulu
menghitung abjad sampai larut

kita terlanjur mengurai benang hitam
sementara langit mendesah mengabarkan petaka
bagi pezalim dan pelupa pada lumut
sehingga kata tak lagi bermakna
kita terlanjur pulang kemalaman

tuhan, kunanti subuhmu
yang tercipta dari embuh kehidupan
dalam tahmid dan takburrmu

2015

Tulisan terkait

Utama 6112097445348281415

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Pelatihan Pewara

Pelatihan Pewara

 X

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi

*

Jadwal Sholat

item