Penyair Indonesia Diajak Suarakan Perlawanan terhadap Kabut Asap melalui Antologi “Bencana Jilid 3”
Rulis, Padang Panjang : Ketika kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi ancaman bagi kehidupan, puisi dapat mengambil peran lebih dari sekadar ungkapan perasaan. Ia bisa menjadi kesaksian, kritik sosial, sekaligus seruan moral untuk menjaga lingkungan. Semangat inilah yang melandasi penerimaan puisi untuk antologi Bencana Jilid 3: Menolak Asap yang digagas Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang bersama Sekolah Menulis elipsis, Sumatera Barat.
Melalui pengumuman terbuka yang disampaikan Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, sekaligus Founder Sekolah Menulis elipsis, para penyair Indonesia diajak mengirimkan karya terbaik mereka untuk dihimpun dalam antologi puisi bertema “Menolak Asap”. Penerimaan naskah berlangsung pada 12 Oktober hingga 20 November 2026.
Ajakan ini hadir di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus menjadi perhatian, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Cuaca ekstrem meningkatkan risiko kebakaran, sementara praktik pembakaran lahan oleh pihak-pihak tertentu turut menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan serius.
Dampak karhutla tidak berhenti pada kawasan hutan yang terbakar. Kabut asap dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, kehidupan sosial, dan kegiatan ekonomi. Pada saat yang sama, kerusakan habitat mengancam keberlangsungan satwa serta keseimbangan ekosistem. Masyarakat yang tidak terlibat dalam pembakaran pun harus ikut menanggung akibatnya.
Dalam situasi tersebut, sastra diharapkan menjadi ruang untuk menyuarakan kepedulian sekaligus membangun kesadaran bersama. Puisi tidak hanya merekam kesedihan akibat bencana, tetapi juga dapat menyampaikan kritik terhadap kelalaian, pembiaran, dan tindakan yang menyebabkan kerusakan lingkungan.
Melalui antologi Bencana Jilid 3: Menolak Asap, Komunitas Seni Kuflet mengajak para penyair untuk menghadirkan karya yang berpihak pada kehidupan. Suara penyair diharapkan mampu mewakili masyarakat yang kehilangan udara bersih, satwa yang kehilangan habitat, serta generasi mendatang yang berhak mewarisi lingkungan yang sehat.
Melanjutkan Tradisi Sastra untuk Kemanusiaan
Penerbitan antologi ini bukan langkah pertama Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang dalam menggerakkan sastra untuk merespons persoalan kemanusiaan dan lingkungan.
Bersama Sekolah Menulis elipsis, Kuflet sebelumnya menggagas antologi Puisi Cinta untuk Palestina, yang diluncurkan pada 27 Desember 2023 sebagai ungkapan solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Pada 28 Desember 2024, komunitas ini kembali meluncurkan antologi puisi Negeri Bencana, yang merekam kegelisahan penyair terhadap berbagai persoalan kebencanaan.
Upaya tersebut berlanjut melalui antologi Air Mata Sumatera, yang diluncurkan pada 20 Januari 2026 di Padang Panjang. Buku itu menjadi bagian dari ikhtiar sastra untuk merekam duka, bencana, dan pengalaman kemanusiaan di Sumatera.
Kini, melalui Bencana Jilid 3: Menolak Asap, Kuflet kembali membuka ruang bagi penyair untuk merespons persoalan yang menyangkut kelestarian lingkungan dan keberlangsungan hidup manusia.
Rangkaian penerbitan tersebut memperlihatkan bagaimana karya sastra dapat menjadi medium dokumentasi sosial sekaligus sarana menyampaikan keberpihakan. Melalui puisi, pengalaman masyarakat yang terdampak bencana dapat diabadikan, sementara kritik terhadap kerusakan lingkungan memperoleh ruang untuk disuarakan secara kreatif.
Terbuka bagi Penyair Indonesia
Penerimaan puisi Bencana Jilid 3: Menolak Asap terbuka bagi seluruh penyair Indonesia. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu puisi terbaik yang sesuai dengan tema besar “Menolak Asap”.
Puisi yang dikirimkan dapat mengangkat berbagai persoalan, antara lain penolakan terhadap pembakaran hutan dan lahan, dampak kabut asap terhadap kesehatan dan pendidikan, penderitaan masyarakat terdampak, kerusakan hutan, ancaman terhadap satwa, hingga kritik terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya karhutla.
Selain itu, peserta juga dapat menyuarakan harapan, solidaritas, upaya pemulihan lingkungan, dan cita-cita tentang masa depan bumi yang lebih baik.
Puisi harus ditulis dalam bahasa Indonesia, merupakan karya asli, bukan hasil terjemahan, serta tidak melanggar hak cipta pihak lain. Panjang naskah maksimal satu halaman kertas A4, diketik menggunakan Microsoft Word (.doc atau .docx), dengan huruf Times New Roman ukuran 12 dan spasi tunggal.
Setiap peserta juga diwajibkan menyertakan biodata naratif dengan panjang maksimal sepuluh baris ketikan.
Seluruh naskah yang masuk akan melalui proses kurasi oleh tim yang ditunjuk Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang. Puisi-puisi yang terpilih selanjutnya diterbitkan dalam buku antologi Bencana Jilid 3: Menolak Asap.
Penyelenggara menetapkan bahwa hak cipta setiap karya tetap berada pada penulis, dengan pemberian izin penerbitan untuk kepentingan antologi. Penerbitan buku tidak dikenai biaya. Setiap penyair yang karyanya terpilih akan memperoleh satu eksemplar buku, dengan biaya pengiriman menggunakan sistem cash on delivery (COD).
Jadwal dan Cara Pengiriman Naskah
Penyair yang berminat mengikuti kegiatan ini dapat mengirimkan naskah selama periode penerimaan, yakni 12 Oktober sampai 20 November 2026.
Berikut informasi teknis pengiriman naskah:
- Email: antologipuisibencana@gmail.com
- Subjek email: PUISI BENCANA JILID 3 – NAMA PENYAIR_ASAL KOTA
- Narahubung: Aji (0831-6467-0582) dan Fadhil (0821-7814-9413)
Setelah masa penerimaan berakhir, naskah akan dikurasi pada 20–30 November 2026. Penerbitan buku dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026, sedangkan peluncuran antologi direncanakan pada Februari 2027.
Melalui kegiatan ini, Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang dan Sekolah Menulis elipsis berharap semakin banyak penyair terlibat dalam gerakan literasi yang memiliki kepedulian terhadap persoalan lingkungan dan kemanusiaan.
Bagi para penyair, ajakan ini menjadi kesempatan untuk menghadirkan karya yang tidak hanya memiliki kekuatan estetik, tetapi juga menyimpan pesan sosial. Sebab, ketika hutan terbakar dan masyarakat kehilangan hak atas udara bersih, puisi dapat menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan alam, melainkan juga persoalan tanggung jawab manusia.
Pada akhirnya, Bencana Jilid 3: Menolak Asap mengajak penyair untuk tidak berhenti pada ratapan atas bencana. Lebih dari itu, puisi diharapkan menjadi suara nurani yang mendorong kepedulian, meneguhkan solidaritas, dan menyuarakan perlindungan terhadap kehidupan.
Puisi untuk Kemanusiaan, Lingkungan, dan Kehidupan.
(Redaksi Rulis)


