Puisi-puisi Emha Izzul Maromy untuk MeiLien AndaluSea,
Emha Izzul Maromy merupakan seorang santri di PPA. Annuqayah Lubangsa Utara. Dan pernah mengemban Amanah sebagai ketua sanggar sabda (yang kini tak lagi ada). ia dapat disapa melalui akun Instagram @emha_romy
*****
Mampirlah sejenak
Mei.
Sudah lama aku tak mencantumkan namamu dalam bait puisi.
Bahkan pesek hidungmu mulai memudar dalam mimpiku.
Yang tersisa hanya uar aromamu
yang selalu mengganggu malamku
dikala rindu tertidur di kamarku.
Mei.
Mampirlah sejenak dalam sujudku.
Ada gemuruh dalam diriku
yang tak sempat kau dengar.
Kemarilah!
Dekatkanlah telingamu.
"Aku Tenggelam."
Jember, 2026
Hikayat Tempat Sampah
Tempat sampah berwarna hijau keemasan sedang bersandar santai dengan tubuh yang mulai kerontang. Hanya tersisa beberapa plastik kemasan dan makanan yang mulai asam.
Disudut yang lain, tanganmu bersama pasangannya malah sibuk melambai.
Menyambut anak cucu dengan sampah model terbaru.
Tak peduli seberapa sering tanganmu mengangkat doa
Jika dirimu masih tak mampu
Melenyapkan sampah
Hingga tiada.
Sayangnya, dirimu beruntung sekali.
Sebab laut beserta ikan-ikannya
Juga tanah dengan flora dan faunanya
Tak pandai merangkai benci menjadi puisi
Ataupun luka menjadi doa.
Annuqayah, 2025
Mampirlah Sejenak
Untuk: MeiLien AndaluSea
Mei.
Sudah lama aku tak mencantumkan namamu dalam bait puisi.
Bahkan pesek hidungmu mulai memudar dalam mimpiku.
Yang tersisa hanya uar aromamu
yang selalu mengganggu malamku
dikala rindu tertidur di kamarku.
Mei.
Mampirlah sejenak dalam sujudku.
Ada gemuruh dalam diriku
yang tak sempat kau dengar.
Kemarilah!
Dekatkanlah telingamu.
"Aku
Ingin
Tenggelam
Bersamamu."
Jember, 2026
Seperti Malam-Malam Sebelumnya
Untuk: MeiLien AndaluSea
Seperti malam-malam sebelumnya
Aku berdiri di depan cermin.
Rambutku masih acak acakan
Diterpa rindu pada dirimu.
Seperti malam-malam sebelumnya
Aku mencoba menghapus kata dalam tubuh kita.
Bukan aku tak cinta.
Namun, ada kata dalam tubuhmu
Yang perlahan membuatku binasa
Terpesona.
Seperti malam-malam sebelumnya.
Dirimu datang menjelma doa
Menyelinap dari balik jendela
Dan memaksaku
Untuk selalu terjaga.
Jember, 2026
Tak Ada KUA
Kemaren malam,
Mataku tak sengaja melihat bidadari turun dari taxi.
Kelopak matanya mengerling manja
Dan kakiku seolah tak lagi berguna.
Diam.
Tak bergerak.
Aku mencoba menyapanya dengan kalimat paling sempurna.
Merayunya dengan suara paling merdu
Dan Mencoba menyentuh tubuhnya yang sedikit terbuka.
Kubuang segenap rasa malu dalam tubuhku.
Pada pesek hidungku, pada ikal rambutku,
dan pada gagap mulutku.
Semuanya ludes. Tak bersisa.
sekarang,
Aku sudah siap meminangnya.
Sayangnya.
Tak ada KUA
Dalam mimpiku.
Jember, 2026
Kembali, Tapi Tidak Pulang.
Kursi dihadapanku kosong.
Melompong.
Hanya Ketika petang
Kursi itu terisi.
Dirimu.
Kembali, tapi tidak pulang.
Itulah kata pertama
Yang terucap dari bibirku
Ketika wajahmu menghantui malamku.
mengajakku bercanda atas nama cinta.
Sayangnya,
Tiap kata pada bibirmu
Tak lagi punya rasa.
Malam itu
Kamu Kembali
Tapi tidak pulang.


