Menjadi Bijaksana dalam Memberi dan Menerima Nasihat
Menasihati Bukan Berarti Memusuhi
Pernahkah kamu mengalami hal yang menyakitkan? Saat dengan niat tulus kamu menasihati seseorang dengan cara yang sopan dan baik, bukan terima kasih yang kamu terima — justru kamu dianggap musuh, dianggap iri, atau dipandang ingin menjatuhkannya. Rasanya perih, bukan? Padahal niatmu murni ingin menyelamatkannya dari kesalahan. Namun kenyataannya, hati yang belum siap menerima nasihat, seringkali mengubah maksud kebaikan menjadi permusuhan. Tetaplah berbuat baik, karena kebenaran akan tetap berdiri tegak, meski disalahpahami sementara waktu.
Ketika Kebaikan Dibalas dengan Kecurigaan
Ada sebuah ungkapan bijak yang menyentuh hati: "Pernahkah kamu menasihati orang dengan kebaikan, malah dikira kamu memusuhinya?" Pertanyaan sederhana ini namun terasa begitu dalam bagi siapa saja yang pernah mengalaminya. Kita datang dengan niat tulus, berbicara dengan lembut, tidak di depan umum, hanya berdua saja. Kita berharap ia sadar dan terhindar dari kerugian. Namun yang terjadi, ia menutup telinga, membela diri berlebihan, bahkan mulai menjauh dan memandang kita sebagai ancaman.
Seringkali kita berpikir: "Untuk apa aku repot-repot peduli, kalau akhirnya aku yang disalahkan?" Lalu muncul keinginan untuk diam saja, membiarkan orang berjalan di jalan yang keliru — bukan karena tidak peduli lagi, tetapi karena takut dimusuhi. Padahal, diam melihat kesalahan yang merugikan juga bukan sikap yang bijaksana. Ulama terdahulu pernah berkata: "Satu kesalahan yang ditegur lebih baik daripada seratus pujian yang membuatnya semakin jauh dari kebenaran."
Orang yang Benar-Benci, Tidak Akan Peduli Memperbaiki Dirimu
Cobalah renungkan hal ini: siapa yang sebenarnya peduli saat kamu tersesat — orang yang menegurmu, atau orang yang membiarkanmu terus salah sambil tersenyum di depanmu? Orang yang benar-benar membenci kamu tidak akan repot-repot menasihatimu. Dia justru akan diam saat kamu jatuh, bahkan diam-diam merasa senang melihat kamu tergelincir. Sedangkan orang yang menasihatimu — meskipun caranya mungkin kurang berkenan — pada dasarnya dia tidak rela kamu hancur oleh kesalahanmu sendiri.
Namun begitu, ada juga adab dalam menasihati yang perlu kita jaga. Nasihat yang baik seharusnya disampaikan secara pribadi, di tempat yang nyaman, dengan bahasa yang lembut, bukan di hadapan orang banyak yang membuat ia merasa dipermalukan. Tujuannya adalah memperbaiki, bukan merendahkan. Jika nasihat kita ditolak atau kita justru dimusuhi, itu bukan akhir dunia. Setidaknya kita sudah menjalankan kewajiban kita sebagai sesama manusia.
Ada dua sisi cermin yang perlu kita lihat:
Pertama, saat kita menasihati orang lain: Lakukan karena Allah, bukan ingin diakui atau merasa lebih baik. Jika ditolak, jangan berkecil hati. Itu urusan hatinya, bukan kegagalan kebaikanmu. Ada waktu yang tepat untuk setiap hal, dan mungkin saat ini belum waktunya ia mendengarkan. Tetaplah menjadi teman yang tulus, walau suaramu belum didengar.
Kedua, saat kita dinasihati orang lain: Jangan langsung membela diri. Tarik napas sejenak, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah ada benarnya?" Menerima nasihat bukan berarti kita buruk, justru itu tanda kita ingin menjadi lebih baik. Rasulullah ﷺ bersabda: "Semuanya anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik yang berbuat kesalahan adalah mereka yang bertaubat." Semakin kita bisa menerima masukan, semakin tinggi derajat kemanusiaan kita.
Jangan berhenti berbuat baik hanya karena sekali atau dua kali tidak dihargai. Dan jangan pula merasa tidak disukai hanya karena ada yang menegur kesalahanmu. Hubungan yang sehat bukanlah hubungan di mana semua selalu memuji, melainkan di mana kita berani mengingatkan dengan tulus dan berani menerima dengan terbuka.
Ingatlah: nasihat itu terasa pahit di awal, tetapi manis di akhir. Pujian terasa manis di awal, tetapi bisa terasa pahit di kemudian hari. Semoga kita diberkahi hati yang tulus saat memberi nasihat, dan hati yang terbuka saat menerimanya.
Sumber inspirasi: Akun Facebook "Katanya Zani"


