Abdul Hadi W.M.: Jejak Panjang Penyair Sufi dari Sumenep

Abdul Hadi WM saat tampil membacakan puisi

Profil feature ini mengulas secara rinci perjalanan hidup Abdul Hadi W.M., penyair sufistik dan cendekiawan Muslim kelahiran Sumenep, dari akar kehidupannya di lingkungan pesantren Madura hingga kiprahnya di panggung sastra dan akademik internasional. Dituturkan secara naratif dan mendalam, tulisan ini memotret proses intelektual, karya-karya penting, peran kebudayaan, serta penghargaan yang diraihnya, sekaligus menegaskan warisan pemikiran dan kepenyairan Abdul Hadi W.M. sebagai bagian tak terpisahkan dari khazanah sastra Indonesia dan dunia.

*****

Riwayat Hidup, Karya, dan Warisan Intelektual Seorang Cendekiawan Sastra Nusantara

Dari sebuah kota kecil di ujung timur Pulau Madura, Sumenep, lahir seorang penyair yang kelak namanya bergema hingga ke berbagai belahan dunia. Abdul Hadi W.M., atau Abdul Hadi Wiji Muthari, bukan hanya dikenal sebagai penyair, tetapi juga budayawan, penerjemah, esais, dan cendekiawan Muslim yang menjadikan sastra sebagai jalan spiritual sekaligus medan intelektual. Ia lahir pada 24 Juni 1946 dan wafat pada 19 Januari 2024, meninggalkan jejak panjang yang menautkan kata, iman, dan kebudayaan.

Akar Kehidupan: Sumenep, Pesantren, dan Persilangan Budaya

Abdul Hadi lahir dan tumbuh di Sumenep, sebuah kota yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Madura dengan sejarah panjang Islam, keraton, dan tradisi pesantren. Ia berasal dari keluarga Muslim yang taat beribadah. Ayahnya adalah seorang Muslim keturunan Tionghoa, sementara ibunya memiliki garis keturunan keluarga Keraton Surakarta. Persilangan latar budaya ini menjadi fondasi penting yang membentuk kepribadian dan cara pandangnya: terbuka, reflektif, dan akrab dengan keberagaman.

Orang tuanya mengelola Pesantren An-Naba di Sumenep. Lingkungan pesantren ini membuat Abdul Hadi sejak kecil hidup dekat dengan Al-Qur’an, tradisi keilmuan Islam, serta kisah-kisah hikmah yang dituturkan secara lisan. Ia tumbuh dalam suasana religius yang tidak kaku, tetapi sarat makna. Dari ruang-ruang inilah kelak muncul ketertarikannya pada tasawuf, estetika Islam, dan sastra spiritual.

Abdul Hadi WM bersama sastrawan Syaf Anton Wr saat di kediamannya (ruang belakang) di Kecamatan Pasongsongan Sumenep

Masa Kanak-Kanak dan Awal Kecintaan pada Sastra

Sejak usia sekolah dasar, Abdul Hadi telah menunjukkan kegemaran mendengarkan dongeng dan membaca karya sastra. Buku, cerita rakyat, dan kisah-kisah kepahlawanan menjadi dunia yang akrab baginya. Tidak mengherankan, pada usia 14 tahun ia telah mulai menulis karya sastra, terutama puisi.

Ketika menginjak bangku sekolah lanjutan pertama, ia mengalami fase penting dalam pembentukan estetikanya. Ia terobsesi pada sajak-sajak Chairil Anwar, khususnya puisi “Lagu Siul II”. Ungkapan “laron pada mati” dan ketangguhan tokoh Ahasveros dalam menghadapi Eros meninggalkan kesan mendalam. Dari Chairil, ia belajar keberanian eksistensial, intensitas bahasa, dan kesadaran akan pergulatan batin manusia.

Namun, berbeda dengan Chairil yang kerap menampilkan kegelisahan eksistensial sekuler, Abdul Hadi menautkan kegelisahan itu dengan pengalaman religiusnya dalam mendalami dan mengamalkan Al-Qur’an. Perpaduan inilah yang kelak melahirkan warna khas dalam puisinya.

Pendidikan: Dari Sumenep ke Yogyakarta

Pendidikan dasar dan menengah pertama ia selesaikan di kota kelahirannya, Sumenep. Setelah itu, ia melanjutkan sekolah menengah atas di Surabaya. Usai lulus SMA, Abdul Hadi hijrah ke Yogyakarta dan melanjutkan studinya di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia mula-mula memasuki Jurusan Filologi dan mencapai gelar sarjana muda pada periode 1965–1967. Minatnya pada teks, bahasa, dan tradisi sastra klasik berkembang pesat. Namun, rasa hausnya terhadap pemikiran filosofis membuatnya berpindah ke Fakultas Filsafat di universitas yang sama. Di sini, ia menekuni kajian filsafat hingga tingkat doktoral pada periode 1968–1971.

Bagi Abdul Hadi, pendidikan bukan sekadar jenjang akademik, melainkan proses pencarian makna. Ia membaca filsafat Barat dan Timur, menggali pemikiran Islam klasik, serta memadukan keduanya dalam refleksi personal.

Bandung, Antropologi, dan Realitas Hidup

Tak berhenti di Yogyakarta, Abdul Hadi melanjutkan studinya ke Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung, untuk mempelajari antropologi budaya (1971–1973). Ketertarikannya pada antropologi menunjukkan kesadarannya akan pentingnya konteks sosial dan budaya dalam memahami sastra dan manusia.

Namun, studi ini tidak diselesaikannya. Tuntutan hidup memaksanya bekerja untuk menghidupi keluarga. Dari Bandung, ia kemudian pindah ke Jakarta—kota yang kelak menjadi pusat aktivitas intelektual dan kebudayaannya selama puluhan tahun.

Karier Awal dan Aktivisme Kebudayaan

Di Jakarta dan sebelumnya di Yogyakarta serta Bandung, Abdul Hadi aktif dalam dunia jurnalistik dan kebudayaan. Ia pernah menjadi redaktur Gema Mahasiswa (UGM, 1967–1969), redaktur Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Tengah di Yogyakarta (1969–1970), dan redaktur Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat di Bandung (1971–1973).

Perannya terus berkembang. Ia menjadi redaktur pelaksana majalah Budaya Jaya (1977–1978), redaksi majalah Dagang dan Industri (IKADIN, 1979–1981), serta pengasuh lembaran kebudayaan “Dialog” di Harian Berita Buana selama lebih dari satu dekade (1978–1990). Selain itu, ia juga pernah menjadi Staf Ahli Bagian Pernaskahan di Perusahaan Negara Balai Pustaka dan Ketua Harian Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1984–1990).

Di ruang-ruang redaksi dan forum kebudayaan itulah, Abdul Hadi memainkan peran penting sebagai penghubung antara sastra, pemikiran, dan publik.

Penyair Sufi dan Karya Puisi

Sebagai penyair, Abdul Hadi W.M. dikenal luas sebagai salah satu pelopor dan tokoh utama puisi sufistik Indonesia modern. Sajak terkenalnya, “Tuhan, Kita Begitu Dekat” (1976), menjadi penanda kuat estetika dan spiritualitasnya. Puisi ini dibaca, dikaji, dan diapresiasi sebagai ungkapan religius yang intim, jujur, dan modern.

Kumpulan sajak yang dihasilkannya antara lain:

  1. Laut Belum Pasang (Litera, 1971)
  2. Cermin (Budaya Jaya, 1975)
  3. Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (Pustaka Jaya, 1975)
  4. Meditasi (Budaya Jaya, 1976)
  5. Tergantung pada Angin (Budaya Jaya, 1977)
  6. Anak Laut Anak Angin (1984)
  7. Pembawa Matahari (Bentang, 2002)

Dalam bahasa Inggris, sajak-sajaknya diterbitkan dalam At Last We Meet Again (1987). Ia juga terlibat dalam penerbitan kumpulan puisi bersama Darmanto Jatman dan Sutardji Calzoum Bachri berjudul Arjuna in Meditation (Calcutta, 1976), dieditori oleh Harry Aveling.

Puisi-puisinya diterjemahkan ke berbagai bahasa asing: Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, Belanda, Cina, Korea, Thailand, Arab, Urdu, Bengali, hingga Spanyol—menandakan penerimaan luas atas karya-karyanya di tingkat internasional.

Akademisi dan Cendekiawan

Pada 1991, Abdul Hadi mendapat tawaran menjadi penulis tamu dan dosen Sastra Islam di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan, Universitas Sains Malaysia (USM), Penang. Di sela-sela mengajar, ia menyelesaikan studi magisternya (M.A.) di universitas tersebut.

Puncak akademiknya diraih pada 1997 ketika ia memperoleh gelar doktor (Ph.D.) dengan disertasi berjudul Estetika Sastra Sufistik: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-Karya Shaykh Hamzah Fansuri. Disertasi ini kemudian diterbitkan oleh Penerbit Paramadina pada 2001 dengan judul Tasawuf yang Tertindas, dan menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian sastra sufistik Nusantara.

Sekembali ke Indonesia, ia menjadi dosen tetap Universitas Paramadina, Jakarta, serta mengajar estetika dan filsafat Islam di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Pada Juni 2008, dalam usia 62 tahun, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Filsafat Agama di Universitas Paramadina.

Abdul Hadi WM, bersama sastrawan Syaf Anton Wr saat bersantai di depan Masjid Agung Sumenep

 Editor, Penerjemah, dan Penulis Esai

Selain puisi, Abdul Hadi W.M. dikenal luas sebagai editor dan penerjemah karya sastra Islam dan sastra dunia. Karya-karyanya di bidang ini antara lain:

  1. Sastra Sufi: Sebuah Antologi (1985)
  2. Ruba’yat Omar Khayyam (1987)
  3. Kumpulan Sajak Iqbal: Pesan kepada Bangsa-Bangsa Timur (1986)
  4. Pesan dari Timur: Muhammad Iqbal (1987)
  5. Rumi dan Penyair (1987)
  6. Faust I karya Goethe (1990)
  7. Kaligrafi Islam karya Hasan Safi (1987)
  8. Kehancuran dan Kebangunan (terjemahan puisi Jepang, 1987)
  9. Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya (Mizan, 1995)

Kumpulan esainya antara lain:

  1. Kembali ke Akar Kembali ke Sumber (1999)
  2. Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya (1999)
  3. Tasawuf yang Tertindas (2001)

Forum Internasional dan Pengakuan Dunia

Abdul Hadi aktif mengikuti berbagai forum sastra internasional, di antaranya International Writing Program di Universitas Iowa (1973–1974), London Poetry Festival (1974), Festival Penyair Internasional di Rotterdam (1974), Festival Shiraz di Iran (1976), Konferensi Pengarang Asia Afrika di Manila (1976), dan Mirbad Poetry Festival di Baghdad (1989). Ia juga aktif dalam berbagai festival di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Indonesia.

Penghargaan dan Apresiasi

Prestasinya mendapat pengakuan luas. Ia menerima penghargaan dari majalah Horison atas sajak “Madura” (1968), Hadiah Buku Puisi Terbaik dari Dewan Kesenian Jakarta (1977) untuk Meditasi, Hadiah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (1979), serta Hadiah Sastra ASEAN dari Kerajaan Thailand (1985) atas Tergantung pada Angin.

Para kritikus dan sastrawan seperti A. Teeuw, Harry Aveling, Rene Carle, Ajip Rosidi, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono turut membahas dan mengapresiasi karya-karyanya.

Wafat dan Warisan

Abdul Hadi W.M. wafat pada 19 Januari 2024. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia sastra dan intelektual Indonesia. Namun, warisannya tetap hidup dalam puisi, esai, terjemahan, dan pemikiran yang terus dibaca dan dikaji.

Dari Sumenep hingga dunia, Abdul Hadi W.M. telah menempuh perjalanan panjang—menjadikan sastra sebagai jembatan antara manusia, kebudayaan, dan Tuhan. Ia bukan hanya milik sejarah sastra Indonesia, tetapi juga milik nurani kebudayaan Nusantara.

(Rulis, dirangkum dari beberapa sumber)

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 5281064722773315907

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close