Ketika Jari Lebih Sibuk dari Hati


Esai ini mengajak orang tua merenungkan kembali kebiasaan bermedia sosial dalam perspektif Islam. Ditulis dengan bahasa sederhana dan narasi sehari-hari, tulisan ini menyampaikan pesan moral tentang pentingnya menjaga waktu, etika digital, dan peran orang tua sebagai teladan bagi anak, agar teknologi tidak menggerus nilai, perhatian, dan kehangatan dalam keluarga

*****

Pesan Sunyi untuk Orang Tua di Era Media Sosial

Di sebuah rumah yang tampak tenang, seorang anak duduk di sudut ruang tamu. Mainannya berserakan, tugas sekolah belum disentuh. Ia sesekali menoleh ke arah ibunya yang sedang tertawa kecil menatap layar ponsel. Sang ayah pun tak jauh berbeda—jari-jarinya sibuk menggulir layar, berpindah dari TikTok ke YouTube, lalu ke grup WhatsApp. Rumah itu ramai, tetapi sunyi. Sunyi dari percakapan. Sunyi dari perhatian.

Inilah potret yang kian sering kita jumpai hari ini. Media sosial memang telah menjadi bagian dari kehidupan, bukan hanya anak muda, tetapi juga orang tua. Namun, ketika kesibukan di layar mulai menggeser peran dan kewajiban, Islam mengingatkan: ada batas yang tak boleh dilanggar.

Media Sosial dan Amanah Orang Tua

Dalam Islam, orang tua memikul amanah besar: mendidik, mengasuh, dan membimbing anak, bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional dan spiritual. Ketika media sosial menyita terlalu banyak waktu dan perhatian, amanah itu perlahan terabaikan.

Bukan berarti Islam melarang teknologi. Islam hanya menegaskan prioritas. Jika media sosial membuat orang tua lalai shalat tepat waktu, mengabaikan anak yang butuh didengar, atau menunda tanggung jawab keluarga, maka di situlah masalah bermula. Waktu adalah nikmat Allah, dan setiap nikmat akan dimintai pertanggungjawaban.

Jari yang Lalai Bisa Menjadi Dosa

Bahaya lain dari kecanduan media sosial adalah isi yang dikonsumsi. Tanpa disadari, lisan—yang dalam Islam sangat dijaga—berpindah ke kolom komentar. Ghibah, fitnah, caci maki, dan menyebar berita yang belum jelas kebenarannya menjadi hal biasa.

Islam dengan tegas melarang semua itu. Al-Qur’an mengajarkan tabayun: memeriksa kebenaran sebelum menyebarkan informasi. Namun, karena terlalu asyik menggulir layar, banyak orang tua lupa menimbang mana yang baik dan mana yang berbahaya bagi hati.

Lebih jauh lagi, pamer berlebihan tentang kehidupan pribadi—rumah, anak, harta—dapat menumbuhkan riya dan kesombongan. Padahal, kesederhanaan dan keikhlasan adalah akhlak yang diajarkan Rasulullah.

Orang Tua adalah Cermin Anak

Anak-anak belajar bukan dari nasihat panjang, tetapi dari contoh nyata. Ketika orang tua melarang anak bermain gadget, sementara dirinya sendiri tak lepas dari ponsel, pesan itu kehilangan makna.

Anak merekam semuanya: bagaimana ayah dan ibu memperlakukan waktu, bagaimana mereka berbicara, bagaimana mereka hadir—atau tidak hadir—di dalam rumah. Jika orang tua kecanduan media sosial, jangan heran jika anak tumbuh dengan masalah yang sama, bahkan lebih parah.

Jalan Pulang: Mengelola, Bukan Menjauhi

Islam selalu menawarkan jalan tengah. Media sosial tidak harus ditinggalkan sepenuhnya, tetapi dikelola dengan bijak.

Mulailah dari hal sederhana: menetapkan batas waktu. Ada jam khusus untuk ponsel, dan ada jam yang dikhususkan untuk keluarga. Letakkan gawai saat makan bersama, saat anak bercerita, atau saat ibadah.

Isi waktu dengan aktivitas yang menumbuhkan kedekatan: membaca bersama, berbincang ringan, berolahraga, atau shalat berjamaah. Hal-hal kecil ini membangun ikatan yang jauh lebih berharga daripada ribuan video yang berlalu tanpa makna.

Jika media sosial tetap digunakan, arahkan untuk kebaikan. Cari ilmu, dengarkan kajian, atau bagikan hal-hal yang menenangkan dan mencerahkan, bukan yang memancing emosi dan dosa.

Dan yang terpenting: perbanyak doa. Minta kepada Allah agar hati kita dijaga, waktu kita diberkahi, dan peran kita sebagai orang tua tidak tergeser oleh layar kecil di genggaman.

Kembali ke Hadir yang Sesungguhnya

Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan orang tua yang hadir. Hadir dengan mata yang menatap, telinga yang mendengar, dan hati yang peduli.

Media sosial akan selalu ada. Video akan terus berganti. Tapi masa kecil anak tidak akan terulang. Jangan sampai suatu hari nanti, ketika layar sudah kita letakkan, anak-anak justru telah menjauh karena dulu kita terlalu sibuk menatap dunia lain.

Islam mengajarkan keseimbangan. Dan keseimbangan itu dimulai dari keberanian orang tua untuk meletakkan ponsel, lalu memeluk amanah yang Allah titipkan di rumah.

(dirangkum dari beberapa sumber) 

 

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 3575395844108566627

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close