Tradisi Lisan Anak Madura: Tawa, Gerak, dan Keakraban
Oleh Lilik Rosida Irmawati
Syair Permainan Anak dalam Tradisi Lisan Madura
Syair-syair permainan anak Madura bukan sekadar hiburan, melainkan ruang sosial tempat anak belajar berinteraksi, menertawakan hal sepele, melatih tubuh, dan menumbuhkan empati. Di balik lirik-lirik sederhana dan kadang jenaka, tersimpan nilai kebersamaan, spontanitas, serta cara khas masyarakat Madura merawat kegembiraan kolektif. Berikut tiga syair yang hidup dalam ingatan dan praktik bermain anak-anak Madura.
Syair Tebak-Tebakan Jenaka Anak Madura
1. Jam-Jam To’
Syair
Jam-jam to’ dhi’dhi’ gula
Pasera se akentho’ majadhi’ kaula
Jam-jam to’ parenang pareya
Pasera se akentho’
Neng-ngalenleng se moleya
Atena koro’ pate’, buttong
Terjemahan Bebas
Jam-jam kentut (tooot), tercecer gula
Siapa yang kentut, pamanku katanya
Jam-jam kentut di pohon paria
Siapa yang kentut
Ingin cepat pulang
Hatinya seperti anjing buntung
Bahasan dan Deskripsi
Syair Jam-jam To’ adalah lagu permainan spontan yang muncul saat anak-anak berkumpul dan tiba-tiba tercium aroma tak sedap—kentut—tanpa ada yang mau mengaku. Dalam situasi canggung yang seharusnya memalukan, anak-anak justru mengubahnya menjadi bahan tawa kolektif.
Permainan ini diawali dengan membentuk lingkaran. Anak-anak melakukan suit untuk menentukan pemimpin lagu. Sang pemimpin bernyanyi sambil menunjuk satu per satu teman di sekelilingnya. Ketika lagu berhenti, anak yang tertunjuk dianggap sebagai “tersangka” pelaku kentut. Tentu saja, tuduhan itu selalu dibantah, dan lagu pun diulang kembali.
Tidak ada pemenang dan tidak ada yang benar-benar disalahkan. Permainan biasanya berakhir dengan sendirinya, ditutup gelak tawa. Di sinilah kekuatan Jam-jam To’: mengajarkan anak menertawakan hal remeh, meredakan ketegangan sosial, dan membangun keakraban tanpa rasa malu berlebihan.
Permainan Gerak Berirama dan Ketangkasan
2. Es Lilin Cabbi
Syair
Es lilin campor cabbi, ayo, bi
Bittas ngonyer, ayo nyer
Nyerra otang, ayo tang
Tanggal ennem, ayo nem
Nembung pete’, ayo te’
Tekos juling, ayo ling
Lingker olar, ayo lar
Lar barongso, ayo so
Soma raja, ayo ja
Ja maraja!
Terjemahan Bebas
Es lilin dicampur cabai, ayo cabai
Kepala plontos, ayo tos
Membayar utang, ayo tang
Tanggal enam, ayo nem
Menerkam ayam, ayo yam
Tikus juling, ayo ling
Lingkaran ular, ayo lar
Ular barongso, ayo so
Rumah besar, ayo sar
Saling membesarkan!
Bahasan dan Deskripsi
Es Lilin Cabbi adalah permainan kelompok yang paling sedikit dimainkan oleh empat anak dan bisa melibatkan banyak peserta. Biasanya dimainkan sore hari, saat anak-anak telah selesai belajar atau mengaji. Irama lagunya menyerupai mars: cepat, dinamis, dan penuh semangat.
Sambil bernyanyi, anak-anak membentuk lingkaran, berpegangan tangan, dan berputar. Pada bait terakhir, mereka serempak membalikkan badan tanpa melepaskan genggaman. Setelah itu, masing-masing anak mencari pasangan untuk mengaitkan satu kaki, lalu saling bertahan agar tautan kaki tidak terlepas. Tantangan makin seru ketika pasangan yang bertaut melompat bersama.
Pasangan yang kakinya terlepas dinyatakan kalah. Permainan diulang hingga semua merasakan kalah. Selain melatih motorik, keseimbangan, dan ketahanan fisik, permainan ini mengajarkan sportivitas, kerja sama, serta kegembiraan yang lahir dari gerak dan kebersamaan.
3. Tun Laetun
Nyanyian Penghibur Balita dalam Tradisi Komunal
Syair
Tun laetun, laetun tellorra kopek
Ala itun mundong
Pak guplak sidin
Balik koko komel
Terjemahan Bebas
Tun Laitun, Laitun telurnya ikan kecil
Laitun ikan hiu
Guplak-guplak (irama tangan dipukulkan ke paha)
Kembali lagi, padat dan rapat
Bahasan dan Deskripsi
Syair Tun Laetun berfungsi sebagai lagu penghibur, khususnya untuk balita yang sedang rewel atau menangis tanpa henti. Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh anak-anak—baik laki-laki maupun perempuan—atas permintaan sang ibu.
Anak-anak duduk bersimpuh membentuk lingkaran. Kedua telapak tangan dikembangkan dan saling bersentuhan. Setelah suit dilakukan, pemenang memimpin lagu sambil menggerakkan tangan kanan berkeliling, menunjuk telapak tangan teman-temannya. Ketika lagu berhenti, anak yang tertunjuk akan menjadi pemimpin berikutnya.
Balita yang menangis didekatkan ke arena permainan. Awalnya hanya memperhatikan, lama-kelamaan tangis mereda. Terkadang balita ikut tertarik, turun dari gendongan, bahkan duduk di atas rentangan telapak tangan. Jika tangis kembali pecah, lagu diulang hingga suasana benar-benar tenang. Di sinilah tampak nilai gotong royong emosional dalam budaya Madura: anak-anak ikut bertanggung jawab menenangkan yang kecil, melalui lagu, tawa, dan sentuhan kebersamaan.
Penutup
Ketiga syair ini menunjukkan bahwa permainan anak Madura bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sistem sosial mini yang mengajarkan humor, empati, ketangkasan, dan solidaritas. Dalam kesederhanaannya, syair-syair ini menjadi ruang belajar kehidupan yang paling awal dan paling jujur.
Pilihan





