Emas untuk Bangsa, Sunyi untuk Nama: Kisah Terhapus Teuku Markam


Kisah tokoh ini menelusuri kembali kehidupan Teuku Markam, dermawan besar asal Aceh yang menyumbangkan emas untuk Monumen Nasional, namun justru tersingkir, distigma, dan dilenyapkan dari panggung sejarah Indonesia.

*****

Di puncak Monumen Nasional, emas berkilau memantulkan cahaya matahari Jakarta. Kilau itu selama puluhan tahun dipahami sebagai simbol kejayaan bangsa, lambang semangat kemerdekaan, dan pengingat akan cita-cita besar republik. Namun hanya sedikit yang bertanya: dari mana emas itu berasal? Di balik 38 kilogram emas yang melapisi lidah api Monas, tersimpan nama yang kian pudar dari ingatan kolektif bangsa: Teuku Markam.

Ia bukan tokoh kecil. Pada masanya, Teuku Markam dikenal sebagai pengusaha sukses, dermawan, dan nasionalis. Sumbangannya untuk Monas bukan sekadar bantuan materi, melainkan pernyataan cinta pada republik yang baru belajar berdiri tegak. Namun sejarah Indonesia kerap mencatat dengan tinta yang timpang. Ada nama yang diukir tebal, ada pula yang sengaja dihapus perlahan, hingga lenyap tanpa bekas. Teuku Markam adalah salah satunya.

Dermawan dari Serambi Mekkah

Teuku Markam berasal dari Aceh, wilayah yang sejak lama dikenal melahirkan tokoh-tokoh keras kepala dalam mempertahankan martabat dan keyakinan. Dalam dunia usaha, ia tumbuh menjadi figur penting pada era Orde Lama. Bisnisnya merambah berbagai sektor, menjadikannya salah satu pengusaha pribumi yang diperhitungkan. Namun berbeda dengan banyak konglomerat lain, kekayaan bagi Teuku Markam bukan sekadar simbol status, melainkan alat pengabdian.

Ketika Presiden Soekarno menggagas pembangunan Monumen Nasional sebagai penanda kebesaran bangsa yang merdeka, Teuku Markam tak ragu ikut ambil bagian. Ia menyumbangkan 38 kilogram emas—jumlah yang luar biasa besar pada masa itu—untuk melapisi puncak monumen. Sumbangan itu kemudian menjadi bagian dari narasi resmi Monas, meski nama penyumbangnya perlahan menghilang dari cerita-cerita publik.

Pada masa itu, kedekatan dengan kekuasaan bukanlah aib. Banyak pengusaha mendukung proyek-proyek negara sebagai bagian dari nasionalisme. Teuku Markam berdiri di barisan itu: percaya bahwa negara yang kuat membutuhkan dukungan warganya, terutama mereka yang mampu.

Runtuhnya Kekuasaan, Runtuhnya Nasib

Namun sejarah bergerak liar. Tahun 1965 menjadi titik balik kelam bagi banyak orang. Pasca peristiwa G30S, peta politik Indonesia berubah drastis. Orde Lama tumbang, Orde Baru bangkit dengan semangat “pembersihan”. Dalam pusaran itulah Teuku Markam terseret.

Tanpa proses hukum yang transparan, namanya disebut-sebut terlibat G30S/PKI. Ia juga dicap sebagai koruptor dan distigma sebagai Soekarnois—label yang pada masa itu cukup untuk menghancurkan hidup seseorang. Tuduhan-tuduhan itu datang tanpa pengadilan yang layak, tanpa ruang pembelaan. Sejak 1966, Teuku Markam ditahan, berpindah dari satu penjara ke penjara lain, seperti barang yang kehilangan pemilik.

Delapan tahun bukan waktu singkat. Delapan tahun berarti kehilangan masa produktif, kehilangan relasi, kehilangan reputasi. Dalam kurun itu, Teuku Markam tak hanya kehilangan kebebasan fisik, tetapi juga hak-haknya sebagai warga negara. Negara yang dulu ia bantu, kini menjelma menjadi algojo sunyi.

Bebas Tanpa Keadilan

Tahun 1974, Teuku Markam akhirnya dibebaskan. Namun kebebasan itu hampa. Tidak ada rehabilitasi nama baik. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada ganti rugi. Ia keluar dari penjara bukan sebagai warga negara yang dipulihkan martabatnya, melainkan sebagai orang yang harus menerima nasib dengan kepala tertunduk.

Seluruh aset yang pernah ia bangun disita dan dikuasai negara. Rumah, perusahaan, jaringan usaha—semuanya lenyap. Dari seorang tokoh besar, Teuku Markam kembali menjadi orang biasa, bahkan bisa dibilang lebih rendah dari itu: seorang mantan tahanan politik dengan stigma yang terus melekat.

Di titik inilah banyak orang memilih menyerah. Namun Teuku Markam tidak. Ia patah, tetapi tidak kalah.

Bangkit dalam Sunyi

Dengan sisa tenaga dan keyakinan, Teuku Markam mencoba bangkit. Ia mendirikan PT Marjaya, sebuah upaya untuk memulai kembali dari nol. Fokusnya pada proyek-proyek infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat—wilayah yang masih membutuhkan sentuhan pembangunan.

Namun rezim Orde Baru tidak pernah benar-benar membuka pintu. Dukungan perizinan tersendat, akses modal dipersulit, dan bayang-bayang masa lalu terus menghantui. Nama Teuku Markam seolah menjadi beban yang tak diucapkan, tetapi selalu hadir dalam setiap penolakan halus. Ia hidup dalam semacam hukuman sosial yang tak pernah diumumkan, tetapi nyata dirasakan.

Meski demikian, ia tetap berjalan. Tanpa sorotan media, tanpa pembela, tanpa pengakuan. Hidupnya menjadi perjuangan senyap—jauh dari gemerlap emas yang dulu ia sumbangkan untuk Monas.

Wafat dalam Keheningan

Tahun 1985, Teuku Markam berpulang. Tubuhnya kalah oleh komplikasi penyakit yang diderita bertahun-tahun, diperparah oleh tekanan hidup dan trauma panjang. Ia meninggal tanpa kemegahan, tanpa upacara negara, tanpa pengakuan atas jasa-jasanya.

Ironi itu nyaris sempurna: emasnya tetap bersinar di jantung ibu kota, sementara namanya tenggelam dalam lipatan sejarah. Generasi demi generasi menikmati simbol Monas tanpa pernah tahu bahwa di baliknya ada seorang Aceh yang hidupnya dikorbankan oleh perubahan rezim dan kebengisan politik.

Sejarah yang Memilih Ingatan

Kisah Teuku Markam bukan sekadar cerita tentang satu orang. Ia adalah potret tentang bagaimana sejarah sering kali ditulis oleh pemenang, dan bagaimana jasa besar bisa dihapus oleh stigma. Ia adalah pengingat bahwa pengabdian tidak selalu berujung penghargaan, dan bahwa negara bisa lupa pada mereka yang pernah berkorban paling tulus.

Menghidupkan kembali kisah Teuku Markam bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk mengajak kita lebih jujur membaca sejarah. Bahwa di balik monumen, ada manusia. Di balik simbol kebangsaan, ada nasib yang terinjak. Dan di balik emas yang berkilau, ada luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Sejarah boleh kejam, tetapi ingatan publik selalu punya kesempatan untuk berlaku adil. Dan mungkin, dengan mengingat kembali Teuku Markam, kita sedang menambal satu lubang kecil dalam ingatan bangsa yang terlalu lama dibiarkan kosong.

(Rulis, dari beberapa sumber)

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 4178244737743714880

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close