Asta Muhammad Taroman Batang-Batang
Cerita: Maulina Ainul Hikmah
Alkisah, pada zaman dahulu, di sebuah desa hiduplah seorang wanita cantik bernama Sari. Atas perintah orang tuanya, pada usia 17 tahun ia harus menikah dengan seorang pemuda di desa itu.
“Aku belum mau menikah, Bu. Aku belum siap menjadi seorang istri. Aku takut…,” ucap Sari.
“Ibu mohon, Nak. Menikahlah.” Kali ini kulihat kedua mata bening Ibu. Ada secercah harapan di sudut matanya, mengalir perlahan jatuh ke pipinya. Sudah sering kulihat air mata Ibu menetes, tetapi tak pernah kudapati Ibu menangis hanya untuk memohon kepadaku. Dengan berat hati, Sari akhirnya menerima lamaran pemuda itu.
“Baiklah, Bu. Sari akan menikah.”
Kehidupan pernikahan yang selama ini ditakuti Sari ternyata tidak seperti bayangannya. Ia dan suaminya hidup bahagia.
“Sari, Ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu sering sekali makan mangga muda,” ucap Ibu Sari.
“Memangnya kenapa, Bu? Ini hanya mangga muda. Entah kenapa akhir-akhir ini Sari sangat menyukainya,” jawab Sari.
Tiba-tiba Sari berlari ke arah kamar mandi. Ia memuntahkan semua makanan yang dimakannya seharian. Malam itu, tubuhnya terasa lemas dan mual. Kecurigaan Ibu Sari pun semakin menguat. Ia menduga Sari tengah hamil. Tak ingin hanya berprasangka, Ibu Sari segera menarik tangan putrinya.
“Sari, ayo ikut Ibu. Ibu yakin kamu sedang mengandung. Kita harus memeriksakannya ke bidan desa.”
Sari tak kuasa menolak. Ini sudah kesekian kalinya sang Ibu mengajaknya, dan ia tak sampai hati menolak lagi. Setibanya di rumah bidan desa, dugaan itu terbukti. Sari dinyatakan mengandung. Ibu Sari sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Ia segera membawa Sari pulang untuk menyampaikan kabar bahagia itu kepada suaminya dan suami Sari. Kabar tersebut disambut dengan penuh sukacita oleh keluarga mereka.
“Sari, Ibu sudah bilang jangan ke dapur. Biar Ibu saja. Ayo kembali ke kamarmu.”
“Tapi, Bu, Sari bosan berdiam diri di kamar. Sari ingin jalan-jalan,” ucap Sari.
“Ya sudah, tiduran saja di kamar. Siapa tahu nanti kamu ketiduran, dan saat bangun suamimu sudah pulang.”
Dengan berat hati, Sari menuruti perintah ibunya. Saat hendak membuka pintu kamar, ia bersusah payah mendorongnya. Memang, pintu kamar itu sulit dibuka dan ditutup ketika musim hujan. Tak ingin merepotkan sang Ibu di dapur, Sari mendorong pintu itu dengan kuat. Namun karena kelalaiannya, kaki Sari tersandung keset hingga membuatnya terjatuh. Ia merasakan sakit luar biasa di bagian bawah perutnya. Dengan sisa tenaga, ia memanggil ibunya, meski suaranya hampir tak terdengar.
“Bu… tolong, Bu… Astaghfirullah… Ibu…!”
“Ya Allah, Sari! Kenapa bisa begini?!”
Untung saja suami Sari yang baru pulang dari bekerja melihat istrinya terduduk di lantai dengan tubuh bersimbah darah. Ibu Sari pun segera menghampiri dan terkejut melihat darah mengalir di kaki putrinya.
“Duh Gusti, kok bisa begini, Nak? Ayo bawa istrimu ke bidan,” ucap sang Ibu dengan panik.
Sari terus menjerit kesakitan hingga akhirnya tak sadarkan diri. Setibanya di rumah bidan desa, sang bidan menyatakan bahwa kandungan Sari tidak dapat diselamatkan. Dengan kata lain, Sari mengalami keguguran. Padahal, bulan depan ia sudah akan melahirkan. Namun rezeki itu rupanya belum menghampiri keluarga mereka. Sari sangat sedih mendengar kenyataan tersebut. Penantian yang ia dan suaminya tunggu-tunggu berakhir sia-sia.
Meski begitu, Sari tidak putus asa. Ia senantiasa berdoa kepada Tuhan agar kelak dikaruniai seorang anak. Suaminya pun tidak terlalu mempermasalahkan keadaan itu. Menurutnya, anak adalah rezeki; diberi atau tidak, ia tetap menerima. Perlahan Sari mencoba bangkit dari keterpurukan. Ia berusaha tidak terus memikirkan soal anak. Ia pun meminta izin kepada suaminya untuk membantu bekerja di kebun.
Beberapa bulan berlalu, Sari sudah terbiasa membantu suaminya di kebun. Ia mulai melupakan perihal anak. Suatu hari, kebun mereka akan dipanen, tetapi hujan tak kunjung reda sejak semalam. Suami Sari khawatir tanggul jebol dan menyebabkan gagal panen. Ia pun memutuskan pergi ke ladang untuk memperbaiki tanggul. Namun naas, setibanya di ladang, suami Sari tersambar petir hingga meninggal dunia. Belum reda kesedihan karena kehilangan anak, kini Sari harus kehilangan suaminya. Duka itu jelas terpancar dari wajahnya.
Tak lama setelah kepergian suaminya, Sari mendapat kabar bahwa ia kembali hamil. Sedikit demi sedikit, ia berusaha melupakan kesedihannya demi menjaga bayi dalam kandungannya. Saat usia kehamilan menginjak delapan bulan, kenangan pahit kehamilan pertamanya kembali terlintas. Ia berdoa kepada Tuhan agar kehamilan ini tidak bernasib sama.
“Semoga kali ini aku bisa menjaga amanah-Mu, ya Allah,” ucap Sari dalam doanya.
Namun, ketika usia kehamilan genap delapan bulan, Sari kembali keguguran. Beberapa bulan kemudian ia kembali hamil, dan lagi-lagi keguguran saat kandungannya berusia delapan bulan. Kejadian itu terus berulang hingga kehamilan kesembilan. Akhirnya, Sari memutuskan menemui dukun setempat untuk mencari tahu penyebab semua yang menimpanya.
Sari menahan cemoohan warga sekitar. Ia sendiri tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya selama bertahun-tahun ini. Padahal, suaminya telah meninggal sejak lama. Orang tuanya pun mulai putus asa menghadapi kejadian yang dialami Sari.
Sari pergi sendiri ke rumah dukun tersebut. Setibanya di sana, ia memperkenalkan diri dan menceritakan seluruh kisah hidupnya. Dukun itu rupanya mengetahui penyebab kejadian yang menimpa Sari. Menurutnya, ada “sesuatu” yang sering disebut jin, yang melakukan semua itu pada Sari. Mendengar penjelasan tersebut, Sari terkejut. Ia tak pernah menyangka bahwa dirinya disukai oleh makhluk itu.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Sari dipenuhi ucapan sang dukun. Hingga akhirnya ia tertidur karena kelelahan. Dalam tidurnya, Sari bermimpi didatangi seorang pemuda tampan berpakaian putih. Pemuda itu tersenyum dan berkata, “Kau tidak kehilangan anak-anakmu. Mereka ada bersamaku.”
Pemuda itu kemudian memanggil beberapa anak kecil yang dengan riangnya memanggil Sari dengan sebutan ibu. Sari tak tahu harus berkata apa. Ia hanya memandangi anak-anak kecil yang bermain di sampingnya.
Sebelum mimpi itu berakhir, pemuda tersebut meminta maaf atas semua yang terjadi pada Sari. Ia juga memberitahukan apa yang harus dilakukan agar kejadian itu tidak terulang. Sari harus membuatkan rumah untuk anak-anaknya berupa makam berjumlah sembilan, sesuai jumlah anak-anaknya. Dengan syarat, di depan dan di belakang makam tersebut tidak boleh dihuni makhluk hidup sejauh lima meter.
Keesokan paginya, Sari terbangun dan segera pergi ke rumah orang tuanya. Ia menceritakan mimpi yang dialaminya. Orang tuanya pun, mau tak mau, menuruti permintaan Sari.
“Mungkin ini adalah jalan keluarnya,” ucap Ibu Sari penuh harap.
Orang tua Sari membuat sembilan makam kecil, persis seperti yang disampaikan pemuda dalam mimpi itu. Mereka juga memindahkan hewan-hewan yang berada di depan dan belakang makam. Alhasil, hampir setahun berlalu tanpa kejadian aneh. Sari hidup tenang dan kembali seperti semula.
Sari kemudian membangun keluarga baru. Ia menikah dengan seorang laki-laki dari desa sebelah. Namun, ia memilih tetap tinggal bersama orang tuanya dan suaminya. Sesekali, setiap malam Jumat, Sari mengaji di depan makam-makam yang sebenarnya kosong itu.
Sari pun menceritakan seluruh kejadian yang pernah dialaminya kepada suaminya.
“Saya harap kamu mengerti dengan semua penjelasan saya, Mas. Saya hanya tidak ingin terjadi apa-apa di kemudian hari,” ucap Sari.
Bertahun-tahun berlalu. Suami Sari mulai melupakan pesan Sari untuk tidak menempatkan makhluk hidup di depan dan belakang makam sejauh lima meter. Menurutnya, lokasi itu sangat strategis untuk dijadikan kandang ternak.
“Siapa yang akan percaya cerita konyol itu? Toh selama ini tidak ada kejadian aneh di rumah ini. Tidak ada salahnya aku mencoba,” pikirnya.
Tanpa persetujuan Sari, suaminya membangun kandang. Melihat itu, Sari marah.
“Apa yang kamu lakukan, Mas?”
“Lihatlah, Sari. Tempat ini sangat cocok untuk membangun kandang. Tanahnya luas dan dekat dengan sawah. Bukankah ini tempat yang bagus?” jawabnya.
“Saya sudah memperingatkan kamu untuk tidak membangun kandang di sini, Mas.”
“Siapa yang peduli dengan cerita konyolmu?”
Suami Sari tetap melanjutkan pekerjaannya tanpa mengindahkan peringatan Sari.
“Terserah. Yang penting saya sudah memperingatkan kamu,” ucap Sari sebelum pergi meninggalkannya dengan perasaan marah.
Seminggu kemudian, kandang itu selesai dan diisi sapi-sapi milik suami Sari. Setengah bulan berlalu, sapi-sapi tersebut mati tanpa diketahui penyebabnya. Suami Sari pun murka karena sapi-sapi itu merupakan salah satu hartanya. Ia teringat ucapan Sari bahwa makhluk hidup yang tinggal dalam radius lima meter dari makam akan mati dalam waktu lima belas hari.
Meski tak sepenuhnya percaya, ia kembali mengisi kandang dengan hewan lain. Namun, nasib yang sama terulang. Hewan-hewan itu mati tepat lima belas hari setelah menempati kandang.
“Sari… Sari…,” panggil suaminya.
Sari pun menghampirinya.
“Ada apa?”
“Sudah tiga kali berturut-turut hewan ternak kita mati. Aku rugi besar.”
“Bukankah sudah saya peringatkan untuk tidak membangun kandang di sana, Mas?”
“Maafkan aku, Sari. Maaf.”
Suami Sari akhirnya meminta maaf karena tidak mempercayai perkataan Sari. Hingga kini, makam itu masih berdiri kokoh beserta syarat-syarat yang terus dipatuhi oleh warga sekitar. Di depan dan di belakang makam tidak boleh dihuni makhluk hidup sejauh lima meter. Tempat itu dikenal dengan nama Asta Muhammad.
Pilihan





