Dalam Hening Aku Merangkai


Cerpen: M. Lailul Mubarok

Aku di sini telah memelihara sebuah rindu yang begitu lama kusimpuhkan di dalam hati. Rindu itu akan kulepaskan pada malam hari ini kepada Ayah, Ibu, dan Kakak. Aku, oleh Ayah dan Ibu, telah diteduhkan di penjara suci agar selamat dari godaan zaman ini, dengan harapan kelak aku membawa banyak hal yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Akulah seorang anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahku seorang petani sekaligus pemotong ilalang, sedangkan Ibuku seorang penjual harapan. Tempatnya di arah selatan, dekat lautan—tempat orang-orang berlayar demi sebuah keinginan. Di sanalah aku, di dalam penjara suci, telah menanam keinginan setinggi langit.

# # #

Pada suatu malam, di tengah kegelisahan, keringat telah menyetubuhi ragaku dan angin pergi bersamanya. Aku duduk di bawah naungan pohon, merenungi keadaan Ayah, Ibu, dan Kakak. Di sini aku bersama seseorang di luar pesantren, seseorang yang membawa segumpal kuda besi dengan harapan yang terlihat jelas di depan kegembiraan. Ia bernama Hamid, berasal dari desa yang sedikit disimpahi keramaian, dan rumahnya tak jauh dari tempatku berteduh.

“Mid, aku boleh minta tolong nggak?”
Dengan gemetar aku melontarkan kata-kata itu, takut Hamid menolak permintaanku.

“Emangnya apa? Dari tadi saya lihat kamu seperti diteduhi kesedihan,” jawab Hamid lembut sambil bertanya.

“Boleh nggak aku minta diantar pulang untuk melepaskan rindu? Aku sudah lama memelihara rindu ini di penjara suci. Sebentar saja, kok. Aku hanya ingin menghapus rindu pada Ayah, Ibu, dan Kakak,” jawabku dengan halus.

“Emangnya boleh? Kamu kan masih di lingkungan pesantren, dan kamu dilarang melanggar,” ucap Hamid.

Ucapan itu membuat pikiranku semakin dipenuhi sedih. Namun aku harus meluaskan langkah perjalanan ini, meski takut musibah akan menyapa kami.

“Udah ayo, Mid. Kalau cuma masalah itu, belakangan. Yang penting rindu ini terhempas pada Ayah, Ibu, dan Kakak,” kataku dengan wajah penuh kesedihan.

“Ya sudah, ayo saya antar.”

Aku menaiki kuda besi itu dengan harapan tak ada musibah di antara kami. Knalpotnya menggelegar, mengeluarkan asap, meski aku dilarang mengenalnya. Aku menatap lampu-lampu yang berjejer di pinggir aspal, angin menyeruak ke dalam raga, hingga keringat tak lagi bersamanya.

“Gimana kalau nanti ketahuan keluargaku? Apa mereka akan memarahiku atau menyambutku dengan lembut?” tanyaku pada Hamid. Raut wajahku mulai gembira karena pelepasan rindu sudah di depan mata.

“Sudah, kalau masalah itu belakangan. Yang penting sekarang kamu bisa melepas rindu,” jawab Hamid dengan nada khawatir.

Tak lama kemudian aku sampai di pinggir rumah, agak jauh sedikit. Ketakutan kembali menyapa ingatan. Aku dan Hamid pun merencanakan cara agar tak diketahui masyarakat sekitar.

“Mari kita lihat dari tengah ladang itu. Siapa tahu terlihat sosok yang kamu inginkan,” kata Hamid dengan rencana yang sedikit menakutkan.

“Ah, nggak. Bukannya di sana tempat ular berkeliaran? Ular itu mematikan,” jawabku.

“Sudah, ayo baca basmalah saja. Insyaallah selamat.”

“Ya sudah, ayo.”

Kami berbisik mengucapkan basmalah, lalu melangkah perlahan. Sepeda Hamid disunyikan di pinggir jalan dengan harapan tak diambil orang. Kami duduk di pinggir ladang, ilalang meraba kulit yang tegang.

“Itu ayahmu sedang memotong harapan, dengan keringat memandikan raganya. Kakakmu menjadi pendingin harapan agar tak ada penyesalan setelah semuanya lenyap. Ibumu saya tidak tahu di mana, mungkin sedang merangkai kebutuhan,” ucap Hamid lembut.

Kulihat Ayah, wajahnya semakin keriput, tubuhnya ditelan usia. Hatiku melantunkan doa dalam kesunyian:
Yah, maafkan aku jika pernah mengecewakanmu, atau membentakmu dengan amarah. Maafkan aku jika pernah melanggar laranganmu demi kegembiraanku sendiri.

Air mata mengalir tanpa kupinta. Suara kutahan agar Hamid tak tahu aku menangis.

Kulihat Kakak, bekerja demi keluarganya. Ia rela menahan dingin malam dan panas matahari, demi seorang adik yang menggantungkan harapan pada belajar yang tak pernah berhenti, demi sebuah keabadian.

Air mata kian deras, rindu perlahan menghilang satu per satu. Namun aku masih menunggu sosok Ibu—rinduku padanya seluas langit dan selebar lautan.

“Kenapa kamu begitu keras menangis malam ini? Apa rindumu sudah habis?” tanya Hamid.

“Belum. Rinduku belum habis sebelum aku menatap Ibu. Tapi beliau tak kunjung muncul,” jawabku.

“Mungkin Ibumu sedang memasak di dapur.”

“Lalu bagaimana caraku menatap beliau?”

“Ayo coba intip dari jendela dapur. Jendelanya besar.”

“Ya sudah, ayo,” jawabku di sela tangis.

Kami beranjak ke belakang dapur. Kuda besi Hamid masih tegak dalam sunyi. Dari jendela yang terbuka, kulihat Ibu muncul perlahan. Rindu luruh satu per satu.

Bu, kutatap wajahmu di api kesunyian ini. Aku yang lama tak mencium tanganmu. Maafkan aku jika pernah melukai hatimu karena amarahku. Aku berjanji akan membahagiakanmu dan Ayah. Aamiin.

Tangis perlahan reda.

“Mungkin rindumu sudah habis malam ini,” ucap Hamid lembut.

Aku tersenyum tanpa kupaksa. Gembira berteduh di ingatan, sedih pergi bersama kegelisahan.

“Ayo pulang ke pondok. Malam makin mengembara, pagi mulai berdebat dengan bulan.”

“Ya sudah, ayo.”

Aku pun pergi dari tempat berteduh itu, membawa sisa tangis dan rindu yang telah luruh bersama air mata, menyatu dalam tubuh kesunyian.

*****

*Penulis berasal dari Pordapor dan merupakan santri aktif PPA Lubangsa Utara. Cerpen dan puisinya telah dimuat di berbagai media cetak dan daring. Salah satu puisinya terhimpun dalam antologi Bisik Sendu, serta ia merupakan murid MA Tahfidz Annuqayah.

(disunting Rulis)

Pilihan

Tulisan terkait

Utama 239906000426001469

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close