Gus Lanceng: Kayu Kuno, Jejak Leluhur, dan Doa Keselamatan

Sekedar ilustrasi 

Tepatnya di Kampung Lebbak, Desa Dapenda, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, terdapat sebuah tempat yang oleh masyarakat setempat dianggap keramat dan penuh makna spiritual. Tempat itu dikenal dengan nama Gus Lanceng. Sejak dahulu, Gus Lanceng menjadi tujuan permohonan dan pengharapan masyarakat sekitar, terutama ketika mereka menghadapi situasi genting yang berkaitan dengan alam, laut, dan keselamatan hidup.

Namun, berbeda dengan tempat keramat pada umumnya, Gus Lanceng bukanlah makam atau kuburan sebagaimana yang lazim dikenal. Ia bukan tempat peristirahatan jasad manusia. Gus Lanceng hanyalah tumpukan kayu kuno yang sudah tidak terpakai, tetapi ditata dengan rapi dan dilindungi oleh sebuah bangunan kecil menyerupai rumah. Ukurannya kira-kira tiga meter panjangnya, dua meter lebarnya, dan sekitar dua setengah meter tingginya. Meski sederhana, bangunan kecil itu berdiri sebagai penanda bahwa kayu-kayu tersebut bukan benda biasa.

Kayu-kayu itu bukan sekadar kayu tua yang lapuk oleh usia. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kayu tersebut memiliki arwah atau yang mereka sebut sebagai pajegena. Warna kayu yang telah menghitam, teksturnya yang keras, serta aroma khas yang muncul ketika didekati menambah kesan angker sekaligus sakral. Karena itulah, tidak ada seorang pun yang berani mengambil kayu tersebut, bahkan untuk sekadar dijadikan kayu bakar, meskipun dalam kondisi sangat membutuhkan. Masyarakat lebih memilih mencari kayu ke tempat lain daripada melanggar pantangan tak tertulis yang diwariskan secara turun-temurun.

Kesan keramat Gus Lanceng semakin kuat karena kondisi lingkungan di sekitarnya. Lampu penerangan yang temaram, ditambah keberadaan sebuah pohon besar yang berdiri tegak di sampingnya, membuat siapa pun yang melintas akan merasakan bulu kuduk meremang. Jalur menuju tempat itu sering disebut sebagai jalur sangar, sebab banyak orang mengaku merinding saat melewatinya, terutama ketika malam hari. Anehnya, meski bukan kuburan, rasa takut yang ditimbulkan Gus Lanceng kerap melebihi ketakutan terhadap makam orang mati.

Ucapan orang tua dan para embu’ (nenek) seolah menemukan pembenarannya di tempat ini. Mereka selalu mengatakan bahwa setiap peninggalan orang awam—leluhur masa lampau—pasti memiliki khasiat dan nilai tersendiri. Bagi sebagian orang masa kini, kepercayaan seperti itu dianggap konyol dan tidak masuk akal. Mereka bertanya-tanya, bagaimana mungkin tumpukan kayu kuno dijadikan tempat permohonan? Namun bagi masyarakat Lebbak, ketidakpercayaan semacam itu justru dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kehormatan leluhur. “Tade’ bekna mon tade’ ngko’ cong,” demikian celoteh orang tua, yang bermakna bahwa tanpa masa lalu, takkan ada masa kini.

Asal-usul kayu kuno Gus Lanceng pun sarat dengan cerita. Konon, pada masa lampau, terdapat sebuah perahu besar pengangkut barang yang menjadi satu-satunya sarana transportasi laut menuju Pulau Jawa. Perahu itu tidak dibuat sembarangan. Ia diyakini dibuat dengan laku spiritual tertentu, bahkan ada yang mengatakan bahwa pembuatnya mengorbankan jiwa dan raga demi kesempurnaan perahu tersebut. Sejarah orang awam mencatat bahwa setiap tindakan besar selalu melalui proses panjang, penuh perhitungan, dan tidak pernah asal-asalan.

Suatu ketika, perahu itu tenggelam di perairan Jawa. Namun keanehannya, serpihan kayu perahu tersebut justru ditemukan kandas di Kampung Lebbak, Desa Dapenda, yang secara geografis terbilang jauh. Masyarakat percaya, serpihan itu dibawa oleh makhluk gaib—pajegena—sementara versi lain menyebutkan bahwa kayu tersebut diangkut oleh ikan besar dari Jawa. Apa pun versinya, masyarakat sepakat bahwa kayu itu bukan kayu biasa dan memiliki keterkaitan dengan kekuatan besar di masa lalu.

Letak Gus Lanceng yang hanya berjarak sekitar lima puluh meter dari bibir pantai semakin menguatkan fungsinya sebagai penyangga keselamatan. Setiap kali cuaca laut mulai tidak bersahabat—ombak meninggi, angin bertiup kencang, dan langit tampak muram—masyarakat sekitar akan mendatangi Gus Lanceng. Mereka menaburkan bunga berwarna-warni, yang dikenal dengan sebutan burdha, sebagai simbol doa dan harapan agar alam kembali bersahabat.

Selain bunga, berbagai sesajen juga disiapkan. Sesajen tersebut diikat dengan tali lalu digantungkan pada tatanan kayu yang tersusun rapi. Ada pula kepercayaan yang menyebutkan bahwa kawasan Kampung Lebbak dahulu pernah menjadi tempat berteduh Joko Tole, tokoh legendaris Madura, sehingga menambah nilai sakral tempat ini.

Meski sarat ritual, masyarakat menegaskan bahwa semua itu bukan bentuk penyekutuan terhadap Tuhan. Mereka meyakini sepenuhnya bahwa keselamatan hanya datang atas ridha Ilahi. Gus Lanceng hanyalah perantara, jalan penghormatan, dan simbol penghargaan terhadap peninggalan leluhur. Dalam setiap ritual, doa-doa tetap dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan, saat acara besar, seluruh buju’ (tempat keramat) di desa juga dikunjungi, seperti Potre Lama, Dinaju, dan lainnya.

Dalam tradisi Rokat Tase’, Gus Lanceng menjadi tempat pertama yang dikunjungi. Para nenek-nenek yang bertugas akan menaburkan bunga sambil melantunkan doa keselamatan, diiringi alunan musik saronen yang khas. Tradisi ini menjadi identitas masyarakat pesisir ujung timur Madura: sebelum menggelar acara besar di laut, semua buju’ harus diziarahi agar acara berjalan lancar tanpa halangan.

Setelah ritual selesai, masyarakat berbondong-bondong menuju pantai untuk menyaksikan prosesi col-ocolan—perahu kecil dari batang pisang yang diisi aneka buah-buahan dan dihiasi bendera Merah Putih. Perahu itu dipikul bersama-sama dan diletakkan di perahu besar. Seluruh perahu kemudian berlayar beriringan, berputar sebanyak tiga kali sebelum menuju Sagere.

Dalam Rokat Tase’, masyarakat juga menggantungkan kulit kambing di pohon besar dekat Gus Lanceng. Kulit itu diisi rongsokan kain bekas hingga menyerupai bentuk kambing. Ritual ini melambangkan pelepasan bala dan penyerahan segala hal buruk agar tidak mengganggu kehidupan masyarakat.

Menariknya, dahulu Gus Lanceng tidak memiliki bangunan pelindung. Kayu-kayu itu hanya ditumpuk begitu saja. Hingga suatu hari, seorang sesepuh bermimpi bahwa serpihan kayu tersebut harus diberi panaongan—tempat berteduh—dan ditata dengan rapi. Sejak itulah, masyarakat bergotong royong membangun bangunan kecil dari kayu kelapa agar Gus Lanceng terlindung dari panas dan hujan.

Demikianlah Gus Lanceng berdiri hingga kini, bukan sekadar tumpukan kayu, melainkan saksi bisu hubungan manusia, alam, dan leluhur yang terjalin erat dalam bingkai kearifan lokal Madura.

Penulis: Abdur Rahman Wahid
Editor : Rulis
Pilihan

Tulisan terkait

Utama 7692685289049980362

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Daftar Isi


 

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Banner untuk Anda

Banner untuk Anda
Anda punya rencana kegiatan yang mau dipublikasikan dalam bentuk banner? Kegiatan apapun, silakan kirim lewat email penulisrulis@gmail.com, dan akan kami terbitkan di halaman ini. Gratis

Whorshop Membaca Puisi Tahap II

Whorshop Membaca Puisi Tahap II
Setelah tahap I, Rulis kembali adakan Workshop Membaca Puisi Tahap II. Selengkapnya KLIK gambar

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >

Relaksasi


 


 

Jadwal Sholat

item
close